End

31 4 0
                                        

Tokyo Noir Familia, sebuah keluarga mafia yang sudah berada di dunia kriminal bertahun tahun akhirnya mencapai masa tenang mereka. Kota terakhir yang mereka singgahi sudah hancur tanpa sisa,karena penghianatan dan keserakahan manusia manusia yang ada di sana.

Sekarang mereka berada di kota Noir, sebuah kota yang Rion beli untuk seluruh keluarganya dan untuk menikmati masa tuanya.

Rion dan Caine sepakat mereka tidak akan kembali ke dunia kriminal dan para anggotanya menyetujui, sekarang mereka bekerja sebagai warga bisa di kota tersebut.

Banyak dari mereka bekerja sebagai polisi,dan tenaga medis juga ada yang bekerja di pemerintahan. Ada pula beberapa yang memulai bisnis sendiri, contohnya bengkel,pet shop,cafe,warnet dan bar.

Sedangkan untuk kedua kepala keluarga memilih menikmati masa muda merawat pohon anggur di belakang rumah, anak anaknya juga tidak mempermasalahkan bahkan sangat setuju jika mereka tinggal di rumah.

Setiap akhir pekan mereka akan berkumpul di rumah anggur untuk berkumpul bersama, karena kebanyakan dari mereka sudah berkeluarga dan memiliki rumah sendiri ataupun tinggal di apartemen agar dekat dengan tempat kerja.

Jadi di rumah anggur itu hanya ada Rion dan Caine, keduanya menolak memperkejakan pelayan karena kebiasaan mafia mereka yang tidak percaya pada orang asing masih belum hilang.

Seperti di Senin pagi itu,rumah anggur penuh dengan suara teriakan dan omelan yang menjadi latar Rion dan Caine membaca koran di meja makan, sambil menunggu yang lain selesai bersiap-siap.

Di area dapur cukup heboh karena Echi ikut memasak, sedangkan di lantai atas Kean dan Riji sibuk membantu mencari seragam Gin yang terselip entah di mana dan masih banyak lagi.

"Echi kecilin apinya!!" Selia teriak

"Gak bisa!!" Echi panik

"Itu kebalik tolol!" Iana menyahut

"Lu kemren jemur dimana emangnya?!" Suara Riji terdengar dari lantai atas

"Ya di jemuran lah! Masa di genteng!" Jawab Gin

"Tapi gak ada di sini!!" Kean frustasi

"Kepink turun dari atas pager!" Teriak Ringgo di halaman.

"Ruby kamu pinjem catokan aku di taruh mana?!" Teriak hiku dari kamarnya.

"Di Deket laci rias!!" Sahut Ruby dari kamarnya juga.

"Cece kita bareng kan!" Tanya kembar dari lantai atas.

"Iyaa! Nanti kita pulangnya juga bareng!!" Jawab Noy dari lantai bawah.

Rion melihat kekacauan itu hanya tersenyum tipis, anak anaknya tidak pernah berubah.

Di sebelahnya Caine mengamati para gadis yang hampir membakar dapur dengan senyuman manis penuh maklum dan lega, karena dapurnya tidak jadi terbakar.

Setelah semua kekacauan itu, mereka akhirnya bisa sarapan bersama dengan tenang dan nikmat.

Anak anaknya pergi bekerja dan para cucu pergi kuliah,Rion dan Caine melepas kepergian mereka di pintu depan.

"Kita pamit ya! Pi! Mi!" Teriak anak anaknya dari parkiran mobil.

"Papoyang! Mimoyang! Kita pamit!!" Di susul suara teriakan cucunya.

"Hati hati!" Jawab Rion dan Caine sambil menatap mobil mereka yang keluar dari pagar rumah satu persatu.

Keduanya tersenyum lebar dan menghela nafas lega,lalu Rion dan Caine kembali masuk ke dalam rumah yang terasa sepi tanpa suara mereka.

"Sepi ya..." Celetuk Rion

"Iya." Sahut Caine dari samping.

Rion duduk di sofa dekat perapian yang langsung berhadapan dengan jendela besar memperlihatkan taman hijau di luar,Caine duduk di sebelahnya membawa foto keluarga besar mereka saat acara pernikahan Mako dan Iana.

"Aku gak nyangka kita akan sebanyak ini." Caine mengelus foto tersebut dengan lembut.

"Ya aku juga gak nyangka,dulu kita cuman bebeerapa dan sekarang kita bisa sampe sebanyak ini." Ujar Rion di sebelahnya dengan senyuman santai.

Caine menoleh ke arah sahabatnya duduk bersandar dengan topi koboi favoritnya, yang menjadi simbol kepala keluarga.

"Kayaknya kita punya foto di rumah lama deh,di mana ya? Aku lupa." Tanya Caine dengan senyuman yang tidak pernah berubah dari dulu hingga sekarang.

" kayaknya di kamar aku deh, bentar." Rion beranjak dari sofa menuju kamarnya.

Tidak lama Rion kembali dengan sebuah foto ditangannya, secara alami Caine menaruh foto yang ia pegang ke meja kopi.

"Ini kan." Rion duduk kembali memperlihatkan memory masa lalu.

"Iya,ternyata kita dulu segini ya." Caine tertawa kecil melihat keluarga kecil di foto tersebut.

Rion tidak menjawab tapi matanya menelusuri setiap wajah yang ada di dalam foto tersebut dengan senyuman hangat bercampur rindu.

"Masa di mana kita berjuang dengan keringat,darah dan air mata." Ujar Rion dengan tenang.

"Masa dimana aku selalu takut mereka mati di perang." Ujar Caine

"Masa dimana aku harus kejam agar mereka tidak mati di perang." Sambung Rion.

"Haha..kita ternyata sudah melalui banyak hal ya." Caine tertawa lega, lega karena keluarganya masih bersama hingga hari ini.

"Ya,dan setelah semua itu, aku akhirnya tau bahwa mereka udah bisa jaga diri tanpa aku harus marah marah lagi."

Rion bersandar ke sofa, menempelkan bahunya pada bahu sahabatnya.

"Aku juga udah gak takut mereka mati lagi di perang, karena kita tidak lagi berjalan di dunia kriminal." Gumam Caine sambil menyenderkan kepalanya pada bahu lebar Rion yang masih kokoh namun tidak lagi sekeras dulu.

Tangan Caine menyentuh foto di pangkuannya dengan lembut dan perlahan menutup mata dengan tenang, senyuman lembut tetap terpasang melengkapi parasnya yang indah.

"Aku kayanya udah bisa tenang ninggalin mereka sekarang." Bisik Caine.

Tangan sang wakil Tnf perlahan melepas kacamatanya dan menaruh di pangkuannya, bersebelahan dengan foto lama mereka. Dia tidak memerlukannya lagi.

Dulu Caine memakainya untuk memperjelas penglihatannya agar bisa menghitung anggota keluarganya dengan jelas memastikan tidak kurang satu orangpun.

Sang ketua melirik dengan tenang lalu melepas topi koboi coklat tua yang sudah mulai pudar di pangkuannya juga, bersebelahan dengan foto lama mereka. Ia juga tidak perlu lagi memakainya.

Dulu Rion memakainya untuk memperjelas posisinya dalam keluarga,dan juga untuk melindungi mereka agar musuh bisa langsung mengenali dirinya tanpa harus salah sangka pada anak anaknya.

"Aku juga ngerasa mereka udah bisa berdiri sendiri tanpa aku di belakangnya." Rion tersenyum sambil menyandarkan kepalanya di sandaran sofa dan perlahan menutup mata.

Kedua kepala keluarga itu duduk damai dengan kenangan dan tangung jawab yang sekarang bisa mereka lepas dengan tenang.

Angin berhembus kencang menerbangkan daun-daun tua dari pohonnya.

Dua ketua dari kelompok mafia terkuat yang dulu pernah dicari oleh seluruh negara.

Dua kepala keluarga yang rela mengorbankan nyawa.

Sudah pergi dari dunia ini tanpa suara.

Tamat.

Sampai disini kisah Tokyo Noir Familia.
Setiap yang datang pasti akan pergi,tapi kenangan akan selalu abadi.









Wuu

EndWhere stories live. Discover now