MUSIM 1: AWAL YANG BERBAHAYA

85 2 0
                                        


BAB 1: DI BALIK SENYUM MANIS

Matahari pagi menyelinap lewat kaca jendela kelas 12 IPS 2, menyinari sosok yang sudah lama jadi pusat perhatian di sekolah ini. Michie duduk di bangku paling depan, dekat jendela, rambut panjangnya tergerai indah tertiup angin sejuk. Senyumnya merekah lebar-manis, polos, bikin siapa saja yang menatapnya rasanya ingin memeluk gadis mungil itu erat-erat.

"Wah, cantik banget pagi ini, Michie! Kayak bidadari turun dari langit!" seru salah satu murid cowok dari bangku belakang, suaranya penuh kekaguman.

Michie cuma tertawa renyah, suara yang lembut tapi bisa menembus sampai ke sudut ruangan. Tangannya yang kecil lincah memainkan helaian rambut, persis seperti yang ada di bayangan semua orang.
"Kamu bisa aja, Mas. Aku cuma pakai seragam biasa kok," jawabnya sopan, matanya berbinar polos.

Di mata seluruh penghuni sekolah ini, Michie adalah definisi sempurna. Cantik, kaya, ramah, pintar, dan tidak pernah menolak siapa saja yang ingin berteman. Guru-guru mengelus dada karena murid teladan ini. Teman-teman mengandalkannya. Semua orang mengira hidupnya seperti di atas awan-tanpa beban, tanpa dosa.

Tapi hanya mereka yang cukup jeli, yang bisa menangkap kilatan lain di balik senyum itu.

Greesel yang duduk di sebelahnya hanya mendengus pelan sambil menyandarkan kepala di atas meja, matanya melirik tajam ke arah cowok tadi.
"Ih, mulutmu kayak dijilat madu semua ya? Coba kalau tahu apa yang ada di pikiran gadis manis ini, jamin lututmu bakal lemas seketika," gumam Greesel pelan, cukup terdengar oleh Michie saja.

Michie tak menjawab. Dia cuma menyeringai tipis, senyum yang langsung lenyap begitu dia menoleh lagi ke arah teman sekelasnya.

Monolog Michie:
"Mereka semua bodoh. Begitu mudah terperangkap oleh wajah polos ini. Mereka pikir aku malaikat kecil yang harus dijaga dan disayang? Hahaha... Sayang sekali. Di balik seragam rapi ini, di balik rok yang sebatas lutut ini, ada sesuatu yang lapar. Lapar akan sentuhan kasar, lapar akan rahasia gelap, lapar melanggar setiap aturan yang mereka bangun begitu tinggi. Aku berpura-pura lemah, mungil, dan tak berdaya... supaya mereka lengah. Supaya saat aku menggigit leher mereka, mereka baru sadar kalau yang mereka peluk selama ini bukan bidadari, tapi iblis kecil yang sudah lama menunggu untuk dilepaskan."

Belum sempat lamunannya melayang lebih jauh, tawa riuh makin memecah saat Dena dan Daisy masuk serentak, berjalan dengan langkah angkuh seolah lorong sekolah ini milik mereka berdua saja. Rambut mereka diikat setengah, wajah galak tapi masih ada jejak kemiripan yang tak bisa dibantah.

"Michieeee! Teman hidupku yang paling cantik!" seru Daisy sambil langsung melompat memeluk bahu Michie begitu saja. Badannya yang agak besar menindih ringan tubuh mungil itu.
"Kemarin malam kami habis diantar pulang sama kakak kelas, tahu? Mobilnya kencang banget, sampai kami berdua... hhmmm, puas sekali rasanya," bisik Dena sambil tersenyum nakal, suaranya agak rendah tapi penuh makna kotor.

Michie tertawa, suara renyah itu kembali terdengar, tapi matanya menyala tertarik.
"Asyik! Ceritain nanti ya... aku penasaran apakah jantan mereka cukup kuat menahan kalian berdua yang selalu rakus itu," jawab Michie santai, tak ada sedikit pun rasa malu, padahal kalau didengar orang lain, kalimat itu sudah sangat tidak pantas keluar dari mulut murid teladan.

Di pojok ruangan lain, Alya menunduk dalam, punggungnya menegang. Dia diam-diam mengamati segalanya. Terlihat tak berdaya, terlihat seperti murid miskin yang tak berani angkat suara. Tapi matanya mencatat satu per satu gerak-gerik mereka. Dia tahu betul siapa sebenarnya pemimpin di sini. Dia tahu betul bahwa di sekolah bergengsi ini, aturan bukan dibuat oleh kepala sekolah, tapi dibuat oleh mereka yang punya kekuasaan dan keberanian melakukan apa saja demi kesenangan.

Dan Michie... adalah ratu tertinggi yang menyembunyikan kekuasaannya di balik wajah paling polos.

Belum selesai suasana kelas dipenuhi obrolan panas mereka, tiba-tiba pintu kelas terbuka kasar. Bukan guru, bukan murid lain. Angin seolah berhenti berhembus seketika. Suasana yang tadinya riuh rendah mendadak sunyi senyap.

Di ambang pintu berdiri sesosok cowok tinggi, bahunya bidang, wajahnya tampan tapi dingin menusuk tulang. Kulitnya agak gelap, matanya hitam pekat seolah tak punya cahaya, dan bibirnya menyunggingkan senyum yang sama sekali tidak ramah. Bau wangi yang mahal bercampur aroma tembakau yang samar langsung menguar masuk ke dalam ruangan, membuat siapa saja yang menghirupnya merasa jantungnya berdegup lebih cepat dari biasanya.

Dia melangkah masuk perlahan, seolah setiap langkahnya menginjak nyali seluruh murid di sana. Dan matanya... langsung tertuju tepat pada satu orang saja.
Michie.

Monolog Sehan:
"Jadi ini dia... gadis kecil yang katanya jadi ratu tak bertakhta di tempat sampah megah ini. Lucu sekali. Wajah polos itu, senyum manis itu... persis seperti mainan yang dibungkus kertas indah. Tapi aku bisa menciumnya dari sini. Bau nafsunya, bau rahasianya, semuanya begitu kuat sampai bikin mulutku berair. Sabar sebentar saja, gadis manis... tak lama lagi, semua topeng indah itu akan kucabut pelan-pelan. Dan aku akan jadi orang pertama yang melihat sisi paling kotormu sampai ke tulang."

Michie menahan napas. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, dia merasa tatapan seseorang bisa menembus kulitnya, seolah dia telanjang bulat di hadapan orang asing itu. Dadanya terasa sesak, campuran takut tapi anehnya... ada rasa bergairah yang mendadak meledak di perutnya.

Cowok itu berhenti tak jauh dari mejanya, suaranya berat, serak, dan penuh penekanan kasar yang membuat bulu kuduk semua orang berdiri.
"Perkenalkan nama gue Sehan. Mulai hari ini, gue murid baru di kelas sialan ini... dan tolong ingat baik-baik satu hal," ucapnya perlahan, matanya tak lepas dari manik mata Michie.
"Siapa saja yang berani menghalangi jalan gue... atau mencoba memainkan sesuatu yang sudah gue incar, bakal gue buat menyesal lahir ke dunia ini. Paham?"

Michie tidak menunduk. Dia justru tersenyum lebih lebar, kali ini ada kilatan tantangan yang tak bisa disembunyikan lagi.

Permainan baru baru saja dimulai.

TERLARANGHistórias para pegar e não largar. Descubra agora