~Happy Reading~
Sore itu, matahari bersinar cerah menyinari halaman belakang kediaman Yamanaka. Bunga-bunga di kebun itu bermekaran indah dengan berbagai warna: merah, kuning, ungu, dan putih, menciptakan pemandangan yang cerah dan harum semerbak. Di tengah kebun itu, ada dua sosok remaja yang sedang sibuk dengan kegiatan masing-masing.
Inojin Yamanaka duduk bersila di atas tikar, papan gambar di pangkuannya, pensil dan krayon berwarna-warni berseru rapi di sebelahnya. Rambut pirang lurusnya sedikit tergerai tertiup angin, dan matanya yang tajam namun lembut itu menatap lekat-lekat objek di depannya. Ia dikenal sebagai anak yang berbakat seni, tenang, sedikit pemalu, tapi sangat teliti dan lembut hatinya.
Dan objek yang sedang ia gambar saat ini adalah Himawari Uzumaki.
Gadis berusia 16 tahun itu sedang berdiri di dekat kumpulan bunga matahari yang tinggi. Rambut hitam panjang yang manis sedikit berantakan tertiup angin, matanya yang besar dan jernih berwarna biru cerah bersinar memantulkan cahaya matahari, dan senyumnya yang hangat merekah indah persis seperti bunga di sekelilingnya. Himawari selalu menjadi sosok yang lembut, sopan, ceria, dan punya kehangatan yang bisa membuat siapa saja merasa damai saat berada di dekatnya.
"Inojin-kun, sudah selesai belum sih?" tanya Himawari sambil tersenyum malu-malu, tangannya memutar-mutar ujung rambutnya pelan. "Aku sudah berdiri diam dari tadi, kakiku agak kesemutan nih."
Inojin tersentak kaget, wajahnya seketika memerah padam sampai ke telinga. Ia buru-buru menunduk menatap kertas gambarnya, berusaha menyembunyikan rasa gugupnya.
"S... sebentar lagi, Himawari! Hampir jadi kok. Maaf ya, sebentar saja lagi," jawabnya terbata-bata, lalu kembali menggoreskan pensilnya dengan gerakan yang lebih cepat namun tetap hati-hati.
Padahal sebenarnya, ia sudah selesai menggambarnya sejak lima menit yang lalu. Ia hanya... enggan berhenti. Ia terlalu asyik menatap wajah Himawari, menatap cahaya di matanya, menatap senyum indah itu, dan menuangkan semuanya ke dalam kertas. Baginya, Himawari adalah pemandangan terindah yang pernah ada, jauh lebih indah dari bunga apa pun, jauh lebih indah dari pemandangan alam mana pun yang pernah ia lihat.
Mereka sudah saling mengenal sejak kecil. Karena hubungan akrab orang tua mereka, mereka sering bermain bersama, tumbuh bersama, dan selalu saling mendukung. Inojin selalu merasa nyaman di dekat Himawari. Berbeda dengan Boruto yang berisik atau Sarada yang tegas, Himawari itu lembut seperti kapas, selalu bicara dengan nada manis, dan selalu mengerti perasaan orang lain. Bagi Inojin, Himawari adalah inspirasi terbesarnya, alasan kenapa ia semakin menyukai seni dan ingin membuat karya yang indah.
"Nah, sudah selesai!" seru Inojin akhirnya, sambil mengangkat papan gambarnya sedikit, jantungnya berdebar kencang menunggu reaksi gadis itu.
Himawari langsung berlari kecil mendekat, lalu duduk bersila di samping Inojin. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, matanya berbinar penuh rasa ingin tahu saat menatap kertas gambar itu.
Di sana, tergambar dirinya yang sedang berdiri di antara bunga matahari, dengan senyum yang sama persis seperti aslinya, dengan cahaya matahari yang menyinari rambut dan wajahnya, digambar dengan sangat detail, sangat indah, dan penuh kehangatan. Gambar itu bukan sekadar gambar biasa—gambar itu penuh perasaan, penuh kekaguman, dan penuh rasa sayang yang tersembunyi.
"Wah... indah sekali, Inojin-kun!" seru Himawari kagum, matanya membelalak senang. Ia menatap gambar itu berulang kali, lalu menoleh ke arah Inojin dengan senyum paling lebar dan tulus. "Kau hebat sekali ya! Aku jadi terlihat cantik sekali di sini. Padahal aslinya aku biasa saja lho."
Inojin menggeleng cepat, wajahnya makin merah merona. "Tidak! Tidak begitu. Aku... aku hanya menggambar apa yang aku lihat saja. Kalau gambarnya terlihat indah... itu karena aslinya memang indah, Himawari."
Kalimat itu terucap begitu saja, tanpa ia pikirkan panjang lebar. Begitu kata-kata itu keluar, Inojin langsung menutup mulutnya dengan tangan, menundukkan wajahnya karena malu setengah mati. Ia takut terlalu berlebihan, takut Himawari merasa canggung, atau takut perasaannya yang selama ini ia sembunyikan terbaca jelas oleh gadis itu.
Namun Himawari tidak merasa canggung sama sekali. Justru, pipinya yang lembut perlahan memerah merona, dan ia menundukkan pandangannya ke pangkuan, jari-jarinya saling bertautan dengan canggung tapi bahagia.
"Kau ini... pandai sekali bicara manis ya," gumam Himawari pelan, suaranya terdengar sangat lembut dan malu-malu. "Sama seperti Paman Sai ya... tapi caramu bicara lebih hangat dan ramah."
Suasana di kebun itu menjadi hening sejenak, hanya terdengar suara angin yang menggerakkan daun bunga, dan suara burung yang berkicau riang. Cahaya matahari sore berubah menjadi warna keemasan yang lembut, menyelimuti mereka berdua dalam kehangatan yang damai.
Inojin memberanikan diri mengangkat wajahnya, menatap profil wajah Himawari yang tampak begitu tenang dan manis. Ia selalu ingin mengatakan sesuatu, sesuatu yang sudah lama tersimpan di hatinya, tapi selalu takut. Takut merusak persahabatan mereka, takut mengubah segalanya, atau takut ditolak. Tapi melihat senyum gadis itu sore ini, melihat keindahan di sekeliling mereka... ia merasa ini saat yang tepat.
"Himawari," panggil Inojin pelan, memecah keheningan.
Himawari menoleh, menatap mata Inojin yang tampak sedikit gugup namun sangat tulus dan serius. "Ya? Ada apa?"
Inojin menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan untuk menenangkan jantungnya yang berpacu cepat. Ia meletakkan papan gambarnya ke samping, lalu duduk lebih tegak, menatap lurus ke manik mata biru milik gadis itu.
"Kau tahu kan... aku sangat suka menggambar. Bagi orang lain, menggambar itu hanya hobi, atau cara melatih bakat keluarga. Tapi bagiku..." ia berhenti sejenak, lalu menatap gambar yang baru saja ia buat. "...menggambar itu cara aku bicara. Cara aku menunjukkan apa yang ada di dalam hatiku."
Ia kembali menatap Himawari, sorot matanya penuh rasa kagum dan kasih sayang yang mendalam.
"Sejak kita kecil, aku selalu merasa nyaman di dekatmu. Kau tidak pernah mengejekku saat aku gagal menggambar, kau selalu mendukung saat aku mau mencoba hal baru, dan kau selalu tersenyum padaku... senyum yang rasanya bisa membuat semua kekhawatiranku hilang begitu saja."
Inojin mengulurkan tangannya perlahan, mengambil tangan mungil Himawari yang tergeletak di atas rumput, menggenggamnya dengan lembut dan hati-hati.
"Himawari, bagiku kau itu seperti sumber cahaya. Selalu terang, selalu hangat, dan selalu indah. Segala hal yang indah yang pernah aku gambar... semuanya tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan dirimu. Aku... aku selalu ingin menggambarmu, selalu ingin berada di dekatmu, selalu ingin melihatmu tersenyum."
Suaranya melembut, namun kata-katanya jelas dan tegas.
"Aku mencintaimu, Himawari. Bukan sekadar teman masa kecil, bukan sekadar teman bermain. Aku mencintaimu sebagai laki-laki. Dan aku ingin... aku ingin terus ada di sampingmu, selamanya. Aku ingin menjadi orang yang selalu bisa membuatmu tersenyum, sama seperti kau yang selalu membuatku bahagia."
Hening kembali menyelimuti mereka, tapi kali ini bukan hening yang canggung. Hening itu penuh dengan perasaan yang menggelora di dada masing-masing. Mata Himawari membelalak sedikit karena kaget, namun perlahan, kilatan bahagia yang luar biasa muncul di sana. Air mata bahagia mulai menggenang di sudut matanya, namun ia tetap tersenyum—senyum yang paling indah dan bersinar yang pernah dilihat Inojin.
"Inojin-kun..." panggil Himawari pelan, suaranya bergetar namun penuh kebahagiaan. Ia membalas genggaman tangan pemuda itu dengan erat. "Aku... aku sudah lama menunggu kau bicara begitu lho."
Inojin tertegun, matanya membulat kaget. "Maksudmu... kau sudah tahu?"
Himawari mengangguk pelan, lalu tertawa kecil yang manis. Ia mengusap pelan punggung tangan Inojin dengan ibu jarinya.
"Siapa yang tidak tahu sih? Caramu menatapku, caramu selalu mau menggambarku, caramu selalu menjagaku saat kita pergi bertiga sama kakak... semuanya terlihat jelas sekali, Inojin-kun. Dan..." ia berhenti sejenak, lalu menatap lurus ke mata Inojin dengan penuh kasih sayang. "...aku juga merasakan hal yang sama."
Wajah Inojin bersinar terang seolah diterpa cahaya matahari paling terang. Rasa lega, bahagia, dan haru bercampur jadi satu di hatinya. Ia tidak menyangka kalau perasaannya terbalas, dan terbalas begitu indahnya.
"Aku juga mencintaimu, Inojin-kun," lanjut Himawari lembut, pipinya merona indah. "Bagi aku, kau itu sangat istimewa. Kau baik hati, kau lembut, kau sangat berbakat, dan kau selalu berusaha sebaik mungkin. Bersamamu, aku merasa tenang dan bahagia. Aku juga ingin kita selalu bersama, selamanya."
Matahari sudah mulai terbenam, mewarnai langit dengan warna oranye, merah muda, dan ungu yang indah. Cahayanya jatuh tepat di atas mereka berdua, membuat suasana di kebun itu terasa ajaib dan indah.
Inojin tersenyum lebar, senyum yang paling tulus dan bahagia yang pernah ia miliki. Dengan hati-hati, ia menarik Himawari masuk ke dalam pelukannya—pelukan yang hangat, sopan, dan penuh kasih sayang. Himawari menyandarkan kepalanya di bahu pemuda itu, merasa aman, damai, dan bahagia sepenuhnya.
"Terima kasih, Himawari," bisik Inojin pelan di telinganya. "Mulai sekarang, aku akan menggambar lebih banyak lagi. Aku akan menggambar banyak kenangan kita, dari sekarang sampai nanti, sampai kita tua nanti sekalipun. Aku akan membuatkanmu ribuan gambar, jutaan gambar... karena kau adalah inspirasi terindahku selamanya."
Himawari tertawa renyah di dalam pelukan itu, suara tawanya menyatu dengan angin sore dan aroma bunga.
"Aku akan menunggunya. Aku akan menjadi modelmu selamanya, Inojin-kun."
Di kebun bunga itu, di bawah langit senja yang indah, dua jiwa muda yang saling mencintai itu bersatu. Mereka berjanji untuk tumbuh bersama, saling mendukung, dan mengisi hidup satu sama lain dengan keindahan dan kebahagiaan.
Bagi mereka, masa depan adalah kanvas kosong yang luas. Dan bersama-sama, mereka akan mengisinya dengan warna-warna terindah, warna cinta, persahabatan, dan kebersamaan yang abadi.
Dan kisah mereka yang manis itu, baru saja dimulai dengan sangat indah.
~Thank you for Reading~
Khusus kumpulan onshot inohima ya...
See you next time..
