Prolog: Gadis yang Membaca di Atas Langit

5 0 0
                                        

Rama sudah terlalu cepat bosan pada dunia.

Bukan bosan seperti anak remaja yang mengeluh karena tugas sekolah menumpuk, atau karena orang tuanya terlalu sering bertanya soal nilai. Bukan juga bosan yang lahir dari luka besar. Rama tidak punya tragedi yang pantas diceritakan dengan musik sedih. Hidupnya biasa saja. Terlalu biasa, malah.

Ia lahir di keluarga sederhana. Tidak miskin sampai harus mengutuk nasib, tidak kaya sampai bisa berjalan tanpa memikirkan hari esok. Ayahnya bekerja, ibunya mengurus banyak hal yang sering tidak terlihat, dan rumah mereka berdiri di gang yang setiap sore dipenuhi suara motor, pedagang keliling, anak kecil berteriak, serta bau gorengan dari warung ujung jalan.

Semua berjalan seperti seharusnya.

Bangun. Sekolah. Pulang. Makan. Tidur.

Orang-orang bilang masa SMA adalah masa paling indah. Rama tidak pernah benar-benar memahami kalimat itu. Baginya, SMA hanyalah sebuah ruangan panjang tempat anak-anak muda dikumpulkan, lalu diajari cara mengejar masa depan yang bentuknya sudah ditentukan orang lain.

Nilai bagus.

Universitas bagus.

Pekerjaan bagus.

Gaji bagus.

Rumah bagus.

Keluarga bagus.

Kuburan bagus.

Rama pernah memikirkan itu ketika guru Bimbingan Konseling meminta satu kelas menulis cita-cita mereka di selembar kertas.

Beberapa temannya menulis dokter. Ada yang menulis pengusaha. Ada yang ingin jadi aktor, tentara, diplomat, arsitek, programmer, bahkan presiden. Mereka menulis dengan wajah serius, sebagian bercanda, sebagian malu-malu, sebagian tampak benar-benar percaya bahwa masa depan sedang menunggu mereka dengan tangan terbuka.

Rama menatap kertas kosongnya selama hampir sepuluh menit.

Pada akhirnya, ia menulis satu kata.

Tenang.

Guru BK membaca jawabannya, lalu mengerutkan kening.

"Rama, ini maksudnya apa?"

Rama mengangkat bahu. "Saya ingin hidup tenang, Bu."

"Bukan begitu. Maksud Ibu, cita-cita pekerjaan. Profesi. Kamu mau jadi apa?"

Rama menatap jendela kelas. Di luar, langit Jakarta berwarna pucat, seperti kain lama yang terlalu sering dicuci.

"Belum tahu."

Guru itu menghela napas. "Kamu anak pintar. Sayang kalau tidak punya tujuan."

Rama ingin menjawab, mungkin tujuan memang tidak selalu harus berupa pekerjaan. Tapi ia menahan diri. Perdebatan dengan orang dewasa jarang menghasilkan kemenangan. Biasanya hanya menghasilkan ceramah lebih panjang.

Jadi ia hanya mengangguk.

"Baik, Bu."

Sejak kecil, Rama memang mudah memahami pola. Ia bisa membaca maksud orang dari jeda bicara, dari cara mereka menghindari mata, dari kalimat yang terlalu rapi. Ketika teman-temannya ribut karena masalah sepele, Rama bisa melihat ujung persoalannya bahkan sebelum mereka selesai bercerita. Ketika guru menjelaskan sejarah perang, ia bukan hanya menghafal nama raja dan tahun kejadian, tapi memikirkan siapa yang diuntungkan, siapa yang dikorbankan, dan kebodohan macam apa yang membuat ribuan orang mati demi ambisi segelintir manusia.

Ia tidak merasa dirinya jenius.

Ia hanya merasa kebanyakan orang terlalu cepat puas dengan jawaban pertama.

Sayap Patah dan Mahkota RetakStories to obsess over. Discover now