Ch 1

400 22 2
                                        

Jakarta hujan dari sore.

Jalanan Sudirman macet total sampai suara klakson nyampur sama hujan bikin kepala Ethan makin pening. Jam di laptopnya tadi nunjukkin pukul 8:17 malam waktu dia akhirnya nutup semua revisi campaign kantor.

Capek banget.

Dia bahkan belum makan dari siang.

Makanya sekarang Ethan berdiri di coffee shop kecil langganannya dekat kantor sambil nunggu pesenan kopi.

"Americano iced satu."

Barista ngangguk.

Ethan nyender malas ke meja pickup sambil buka HP. Grup kantor rame sendiri, tapi dia males baca.

Sampai—

"Mas, americano satu. Less sugar ya."

Ethan langsung diam.

Jantungnya kayak berhenti satu detik.

Karena dia kenal suara itu.

Pelan-pelan dia nengok.

Dan bener.

Daniel.

Berdiri cuma beberapa langkah di depannya sambil masukin dompet ke hoodie hitamnya.

Empat tahun.

Empat tahun ga ketemu, tapi Ethan masih langsung ngenalin dia cuma dari suara.

Rambut Daniel sekarang lebih gelap. Badannya keliatan lebih tinggi dan lebih broad dibanding terakhir kali mereka ketemu waktu perpisahan SMA.

Dan yang paling aneh—

Daniel keliatan jauh lebih tenang.

Ga ada energi heboh yang dulu selalu bikin Ethan emosi sendiri.

Daniel akhirnya sadar Ethan lagi ngeliatin dia.

Tatapan mereka ketemu.

Dua detik.

Tiga detik.

Lalu Daniel senyum kecil.

"Eh," katanya santai.
"Masih hidup ternyata."

Reflek, Ethan langsung nyolot.

"Anjir. Mulut lo masih nyebelin."

Daniel ketawa pelan.

Dan Ethan benci karena suara ketawa itu masih terdengar familiar banget di kepalanya.

"Jakarta kecil ya," kata Daniel sambil nerima kopinya.

Ethan masih setengah bengong.

"Lo balik kapan?"

"Dua minggu lalu."

"Dua minggu?"

"Iya."

"Ga bilang?"

Daniel ngangkat bahu santai.

"Emang harus?"

Jawaban itu simpel.

Tapi somehow bikin Ethan langsung kesel.

Karena dulu Daniel bakal jadi orang pertama yang spam chat cuma buat bilang:

ethan cepetan pulang

gue bosen sendirian

Sekarang balik ke Indonesia setelah empat tahun aja dia ga ngabarin.

Ethan nerima kopinya sambil terus ngeliatin Daniel.

Aneh.

Semua tentang Daniel berubah.

Cara ngomongnya lebih santai.

You Were Never HimStories to obsess over. Discover now