1. Meet him again?

55 8 1
                                        

​Hari ini adalah hari Senin pada awal bulan September. Udara pagi masih membawa sisa-sisa gigitan dingin dari embun semalam, tetapi cahaya matahari yang perlahan merangkak naik dari ufuk timur mulai memberikan kehangatan yang tipis.

Setelah menghabiskan musim panas selama satu setengah bulan lamanya-waktu yang bagi sebagian orang terasa terlalu singkat, adapula bagi sebagian lainnya terasa bagai keabadian yang menyiksa-roda kehidupan akademik kembali berputar.

​Para murid dari Treasure Highschool kembali berdatangan. Institusi pendidikan elit yang berdiri megah dengan arsitektur perpaduan neo-klasik dan modern ini tampak seperti sebuah kastil yang mengisolasi diri dari dunia luar.

Gedung akademinya yang menjulang tinggi dengan jendela-jendela kaca berbingkai perak memantulkan cahaya keemasan pagi. Jauh di belakang sana, terpisah jarak sekitar kurang lebih lima ratus meter, berdiri dua kompleks bangunan raksasa yang tak kalah megah: asrama putra dan asrama putri, tempat di mana hiruk-pikuk kehidupan domestik para pewaris, jenius, dan elit muda ini bersembunyi.

​Pagi ini, area gerbang utama yang terbuat dari besi tempa hitam legam dengan ukiran lambang sekolah sudah dipenuhi oleh lautan manusia. Mereka mengenakan seragam kebanggaan Treasure Highschool dengan sangat rapi; kemeja putih bersih tanpa setitik pun noda, celana panjang abu-abu gelap, memastikan dasi bersalur biru-perak itu tidak tertinggal, serta dibalut dengan jas navy yang dirancang khusus oleh penjahit kelas atas.

​Sebagai seorang Ketua Kedisiplinan yang memegang otoritas absolut di lapangan, Park Jeongwoo sudah berdiri tegak di tengah-tengah gerbang utama sejak fajar baru saja menyingsing.

Sosoknya bagaikan patung marmer yang tak tergoyahkan. Ia berdiri di sana, menunggu seluruh murid dari kelas 10 hingga 12 datang, menyorotkan pandangan tajam bagai serigala untuk memastikan seragam serta atribut mereka benar-benar sesuai dengan regulasi sekolah yang ketat.

​Jeongwoo menelan udara pagi dalam-dalam. Setiap kali ia bernapas, aroma maskulin yang bersih dan elegan dari Prada L'Homme menguar dari titik-titik nadinya.

Kombinasi bunga Iris yang lembut namun tegas, berpadu dengan Neroli yang segar dan sentuhan Black Pepper yang memberikan tendangan maskulinitas yang tajam, menciptakan sebuah tameng tak kasat mata di sekeliling pemuda itu. Wangi tersebut adalah representasi sempurna dari dirinya: tenang, kalkulatif, tak tersentuh, dan elegan.

​Manik mata berwarna cognac miliknya yang indah-cokelat keemasan yang seolah menyimpan letupan kembang api yang dibekukan di dalam kaca-menatap lurus ke depan.

Surai wavy berwarna hitam kelam yang selembut sutra jatuh dengan sempurna, membingkai wajahnya yang memiliki rahang tegas dan kulit tan yang eksotis.

Di usia yang baru menginjak delapan belas tahun, Jeongwoo memancarkan aura kedewasaan yang mengintimidasi. Memiliki postir tegap, bahunya lebar, hasil dari dedikasinya sebagai atlet voli kebanggaan sekolah.

​Sekarang waktu menunjukkan pukul tujuh pagi tepat. Hembusan angin September menyapu pelan, menggugurkan beberapa daun maple yang mulai menguning di sepanjang jalan masuk. Masih ada waktu tiga puluh menit sebelum bel peringatan pelajaran pertama berbunyi dan menggema ke seluruh penjuru sekolah. Barisan murid yang masuk sudah mulai menipis, mayoritas dari mereka yang disiplin telah berada di kelas atau sibuk bergosip di kafetaria.

​Namun, di balik ketenangan wajahnya, ada sebuah roda gigi yang terus berputar di dalam kepala Jeongwoo. Sebuah perhitungan matematis yang mengganggu. Ia belum melihat batang hidung si Kapten Basket arogan itu, serta kedua sahabatnya-sesama anggota klub basket dan pembuat onar kelas atas.

​Jeongwoo menghela napas tipis, nyaris tak terdengar. Jemarinya yang panjang dan dihiasi urat-urat kebiruan merapikan ban lengan merah bertuliskan 'KEDISIPLINAN' yang melingkar apik di bisep kirinya.

Lovely RivalWhere stories live. Discover now