HAPPY READING!
___________________________________________
I. NAOMIZA
DI DUNIA ini, orang-orang percaya bahwa hanya penyihirlah yang mampu melakukan sebuah sihir, berasumsi bahwa sihir itu hanya bersumber dari penyihir dan orang biasa tak mampu melakukan sihir apalagi menjadi seorang penyihir. Ya, semua orang di dunia berpikir seperti itu, kecuali para penyihir yang memegang cerita itu erat-erat sebagai perjanjian.
Sihir tak dirapal dengan bahasa rumit, namun sihir digambar dengan segel yang rumit dan sesuai dengan kebutuhannya. Itulah sihir yang kita kenal sebagai penyihir. Setidaknya.
###
Dunia selalu bergerak, punya waktu, tak ada batasan untuk berhenti, kecuali memang sudah tak sanggup melanjutkan. Setidaknya itu pendapatku selama hidup, tak ada waktu untuk berhenti karena akan selalu ada momen aneh dan bermakna yang terjadi, entah itu dapat dimaknai atau berlalu dengan cepatnya.
Sudah lama sejak mengabdikan diri sebagai seorang Ksatria Moralis yang pekerjaannya menjaga sihir dan berpegang teguh untuk memusnahkan sihir terlarang beserta para penggunanya-Gerombolan Bertopi Tepi. Banyak hal yang telah terjadi, banyak orang yang telah ditemui, banyak pelajaran yang telah diambil, juga pelajaran hidup.
Hari ini cerah, seperti biasanya. Aku berjaga di wilayah dekat Hutan Thristas, akhir-akhir ini banyak rumor yang beredar bahwa ada salah satu penyihir yang tengah mencoba melakukan eksperimen membuat sihir baru yang memungkinkan sesuatu yang mustahil. Jadinya, aku dikirim untuk berjaga disana bersama dua Ksatria Moralis lainnya, aku tidak begitu akrab dengan beberapa anggota karena kecenderungan melakukan tugas sendirian yang lebih berbahaya, termasuk mereka berdua.
"Naomiza." Seorang dari mereka berdua membuka suara setelah adegan panjang kecanggungan tanpa obrolan diantara kami. Tunggu, mereka mengetahui namaku dari siapa dan dari mana? Padahal jarang sekali kuumumkan nama di hadapan publik.
Aku mengangkat kepala, pandangan datarku bertemu dengan mereka berdua, tatapan mereka tak bisa ditebak, apakah ragu, datar, atau ramah. "Iya, ada apa?" Jawabku sopan, walau sejujurnya di lubuk hati yang paling dalam aku merasa amat senang karena ada salah satu anggota yang mengajakku berbicara dahulu. Seolah keberadaan ku sebagai pemimpin disini dianggap ada.
"Anda sedaritadi aku perhatian tampak memikirkan sesuatu, boleh tau apa?"
Aku diam sejenak, keheningan kembali menyelimuti kami dekap, apa yang kupikirkan tadi? Mengapa mendadak lupa apa yang bercamuk dipikiranku?
"...... Hanya mencoba menebak apa tujuan Gerombolan Bertopi Tepi mendatangi Hutan ini." Jawabku seadanya, memandangi mereka dengan tatapan yang tak lagi datar namun agak bersahabat.
Seorang lagi, yang berambut hitam keabu-abuan melipat kedua tangannya di dada sambil menghembuskan napas melalui hidungnya, mungkin dia sepemikiran denganku? Entahlah, rasanya sulit di tebak.
"Anda ada benarnya." Dia bersuara akhirnya, suara pria muda yang di penuhi semangat mengabdikan diri sepenuhnya.
Aku mengangguk. "Kalau di pikir-pikir, Hutan ini pernah menjadi tempat di temukannya peti mati berisi seorang anak kecil yang masih hidup," Tiba-tiba mulutku bercerita demikian kepada mereka, mengingat tentang kejadian saat pengejaran Gerombolan Bertopi Tepi sampai ke Hutan ini dan begitulah.... Tak ada yang bisa ditebak dari dunia ini, semuanya punya bagian cerita yang kalau disatukan akan menjadi kepingan puzzle utuh yang kemudian akan diketahui mengapa.
KAMU SEDANG MEMBACA
Maaf Yang Terlambat (Cerpen) ✅
FantasiApakah aku datang terlambat kala itu, aku benar-benar minta maaf..... Aku tau maafku mungkin tak bisa mengulang waktu dimana aku bisa datang.... Dua insan yang akhirnya saling melepas satu sama lain, menghentikan hubungan tanpa drama. Sampai akhirn...
