.
.
.
Pagi hari di hari Minggu terasa berbeda di rumah Mirea. Halaman yang biasanya lengang kini dipenuhi beberapa mobil yang terparkir rapi, menandakan kedatangan banyak tamu sejak pagi. Dari dalam rumah, suara obrolan bercampur tawa terdengar samar hingga ke luar, menciptakan suasana hangat yang jarang sepi. Hari itu memang sengaja Mirea siapkan untuk berkumpul—bukan acara resmi, bukan pula pertemuan penting—hanya waktu santai untuk menghabiskan hari bersama orang-orang yang sudah ia anggap seperti keluarga sendiri.
Di dalam rumah, Mirea terlihat sibuk sejak tadi. Ia mondar-mandir dari dapur ke ruang keluarga, tangannya tak pernah kosong. Sesekali ia membawa nampan berisi minuman, lalu kembali lagi dengan piring-piring kecil berisi camilan yang sudah ia siapkan sejak subuh. Meski terlihat lelah, wajahnya tetap tenang, bahkan sesekali tersenyum sendiri melihat rumahnya yang ramai. Suami dan anak-anaknya—kecuali Ghavrel—sedang pergi menikmati waktu mereka sendiri, jadi hari itu Mirea benar-benar memanfaatkan kesempatan untuk mengundang teman-temannya datang.
Ruang keluarga yang biasanya terasa luas kini penuh. Sofa-sofa empuk sudah ditempati para ibu yang duduk berdekatan, sebagian bersandar santai, sebagian lagi sibuk bercerita. Di bawah, karpet tebal dipenuhi anak-anak mereka yang kebetulan seumuran dengan Ghavrel. Ada yang duduk sambil bermain, ada yang rebahan, bahkan ada yang sudah mulai bercanda dengan suara yang cukup berisik. Namun, suasana itu justru terasa hidup—tidak mengganggu, malah menghangatkan.
Mirea masuk lagi dari dapur dengan membawa kue bolu hangat yang aromanya langsung menyebar begitu ia mendekat. Ia meletakkan kue itu di meja, lalu menoleh ke arah teman-temannya.
“Ada yang alergi makanan tertentu nggak?” tanyanya, memastikan semua orang bisa menikmati hidangan yang ia siapkan.
Beberapa orang langsung menggeleng, tapi Starla sedikit mengangkat tangan, tubuhnya condong ke depan. “Buat Arasi lebih diempukin lagi ya, Ra. Dia belum bisa makan yang keras-keras,” ucapnya mengingatkan.
Mirea mengangguk cepat, ia sudah mengantisipasi hal itu sejak awal. “Oh, kalau itu aku udah bikinin menu khusus, Star. Tenang aja,” jawabnya ringan.
Obrolan kembali mengalir santai, sampai Jema yang sejak tadi duduk bersandar tiba-tiba menegakkan tubuhnya dan menatap Mirea dengan ekspresi serius.
“Ra, ini kita bisa konsultasi nggak sih sama kamu?” tanyanya.
Mirea yang baru saja duduk di ujung sofa langsung menoleh. “Konsultasi apa, Jem?” balasnya, alisnya sedikit terangkat penasaran.
“Soal Aello,” jawab Jema singkat.
Mirea terdiam sejenak, lalu ekspresinya berubah jadi senyum kecil. Ia menghela napas pelan sebelum akhirnya menjawab dengan nada santai, “Kenapa lagi, Jem? Kalau soal biar dia lebih deket sama kamu daripada sama Fandi, aku nggak bisa,” ucapnya, lalu terkekeh pelan.
Ucapan itu langsung disambut tawa dari yang lain. Suara tawa memenuhi ruangan, beberapa bahkan sampai menepuk tangan atau menyenggol temannya di samping. Suasana yang tadinya santai berubah jadi lebih ceria, penuh canda yang terasa ringan dan akrab—semua beban yang mereka bawa dari kehidupan masing-masing benar-benar ditinggalkan di luar rumah Mirea hari itu.
Ghinar yang sejak tadi memperhatikan Jema, akhirnya ikut menimpali dengan santai, “Masalahnya tetep itu ya, Jem?” tanyanya sambil sedikit memiringkan kepala.
Jema menghela napas panjang, ekspresinya berubah jadi kesal bercampur lelah. Ia menyandarkan punggungnya ke sofa, tangannya bersedekap. “Pusing banget gue di rumah. Aello apa-apa papanya terus. Bahkan Shevan sama Zhee juga nemploknya di Fandi mulu,” ucapnya tanpa ditahan, karena sudah terlalu sering merasakan hal itu.
YOU ARE READING
All in one Story
RandomSekumpulan karakter dari cerita yang berbeda tiba-tiba berada di tempat yang sama. Nggak ada alasan khusus. Mereka tetap jadi diri mereka seperti di cerita masing-masing—dengan sifat, masalah, dan cara berpikir yang beda-beda. Dari situ, semuanya be...
