Hujan turun tipis di halaman rumah lama itu.
Dua anak kecil duduk di tangga depan, kaki mereka dua-duanya menggantung karena terlalu pendek untuk menyentuh tanah.
“Ariel, kamu kok nangis lagi.”
Anak laki-laki berkulit pucat dan bermata sipit itu buru-buru mengusap pipinya.
“Ih aku nggak nangis!”
“Bohong.” jawab Oxy.
Oxy yang melihat mata Ariel mulai membengkak karena terlalu banyak menangis, akhirnya menyodorkan tisu dengan gaya sok dewasa.
“Aku cuma kesel,” gumam Ariel.
“Kenapa?” tanya Oxy, penasaran.
“ya karena kamu mau pindah.”
Oxy diam sebentar.
Dia sebenarnya juga nggak suka harus pindah rumah.
Tapi melihat Ariel yang biasanya datar dan tenang menjadi seperti itu, membuatnya merasa aneh.
Dia akhirnya berdiri di depan Ariel dan menepuk bahunya pelan.
“Don't worry... Ell.”
“Kenapa?” tanya Ariel.
“Gue bakal ketemu kamu lagi.”
Ariel mengerutkan dahinya.
“Ka-kamu yakin?”
Oxy menyeringai kecil.
“Ya iya, dunia kan nggak segede itu.”
Ariel akhirnya tertawa sedikit.
Saat mobil keluarga Adrian mulai datang kemari dan ibunya Audrey memanggil Oxy untuk naik ke mobil, Oxy berbalik pergi... lalu berhenti sebentar.
Dia menoleh lagi.
“Ell.”
Ariel mengangkat kepalanya.
“If we meet again...”
Oxy mengangkat jari kelingkingnya.
“...kita harus tetep temenan ya.”
Ariel menatapnya beberapa detik sebelum akhirnya mengaitkan kelingking mereka.
“Aku janji.”
Hujan turun semakin deras dan saat itu, mereka tidak tahu bahwa beberapa tahun kemudian mereka akan tinggal di bawah satu atap.
Di kamar yang sama. Di ranjang yang sama.
Dan janji kecil itu akan berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih rumit dari yang mereka pikirkan.
VOUS LISEZ
"Under One Roof"
Roman d'amourDulu hanya janji masa kecil. Sekarang... jadi sesuatu yang jauh lebih rumit. Tinggal di rumah yang sama, berbagi kamar, bahkan berbagi ranjang- semuanya bisa di bilang terlalu dekat. Dan seketika jarak itu menghilang, yang tersisa hanya satu pertany...
