Waktu itu, pukul 13.20, saat aku lihat kamu bagikan cengiran girangmu ke batang tebu, detik-detik yang masih terbentang jauh di depan tidak pernah terlintas dalam bayangku.
Aku tidak pernah tahu.
Jika jemarimu yang kini sibuk mengetuk-ngetuk kerasn...
Bagaimana jika detak detik kita tidak pernah bersinggungan?
Bagaimana, ya?
Ah, mari kita coba runut ujung benangnya satu-satu.
Mungkin, tawaku tetap mengudara senantiasa. Lalu, sepercik tanya mulai muncul, membasahi bibirku yang terlalu kelu untuk bersuara.
Untuk siapa?
Kepada siapa?
Demi siapa?
Karena siapa?
Aku diam.
Menumpahkan seluruh atensiku padamu yang sibuk merajut bahagia. Jemarimu bergerak apik, tak terpantik oleh nyawaku yang konstan meringkik. Mataku betah mengikuti setiap tubuhmu ciptakan gerik, tertarik, pada ntah kenyataan macam apa yang tengah kau sulam menjadi cantik.
Ah, bagaimana caramu mengukir kasih dan sayang pada detik demi detik?
Jikalau benang takdirmu tiada sempat lahirkan ketukan dengan milikku, mungkin saat ini, aku hanya bisa bantingkan kesah dari pagi hingga petang. Sesekali menggosok hariku yang lengang supaya tak makin usang.
Mungkin, aku hanya akan berbaring seharian, embuskan abai pada tiap uluran tangan.
Atau bahkan, aku hanya bisa terkekeh geli saat mendengar bulan selipkan selamat malam ke belakang daun telinga matahari.
Tapi, apa kamu tahu?
Mungkin sejak hari itu, saat kau persilakan aku bergabung ke dalam jalinan benang-benang kesah kasihmu yang kau tenun rapi. Meski hadirku buatnya mencuat di kanan kiri, jadikan warnanya tak lagi harmoni, jemarimu tetap setia tanamkan bunga di sana-sini.
Karenamu, aku sadar masih banyak sapa yang ingin aku ungkap. Masih banyak bagian dari dirimu yang ingin aku dekap. Masih banyak citraan manis yang ingin kudengar dirimu ucap.
Menurutmu, harus berapa kali aku gaungkan kata sayang, sampai relungku yang dambakanmu benar-benar sembuh dari inginnya?
Untuk saat ini, aku hanya mau terima sumbang tawamu untuk tawa sumbangku. Biar saja tanya demi tanya tadi terus memercik dan banjiri bahuku. Selama itu kamu, aku tidak akan lelah bertamu. Selama itu kamu, aku tidak akan bosan bertemu. Selama itu kamu, aku tahu pasti kepada siapa tatap kagumku tertuju. Selama itu kamu. Selalu kamu.
Lalu, bagaimana jika benang yang kita rajut sudah temui ujungnya? Bagaimana jika jarimu mulai letih, dan mulai kusadari denyut nadimu melambat di bawah usap ibu jariku?
Maka, akan aku hadirkan satu konklusi.
Helakan kesahmu dibahuku, biar kukecup lelahmu sampai menjelma debu.
-
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Maka aku, sekali lagi, akan menjadi hari esokmu.
Jean Elkana, 17
-
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Untuk waktu yang tak ditentukan, mari saling mengisi ruang dengan mencetak ribuan kenang.