Rumah Sepupu

173 18 0
                                        

Typo.


Hari libur rutin setiap minggu, di habiskan sejak pagi tadi. Berjalan-jalan menyusuri gedung-gedung kota, berbelanja, nonton dan mengisi daya energi dengan makanan mengenyangkan. Berkeliling hingga sore keempat nya memilih kembali kerumah untuk istirahat.

Diruang bersantai dua gadis cantik, Rubby dan Karin, tengah asyik menonton sesuatu di ponsel yang Rubby pegang. Rubby duduk dengan memangku bantal sedangkan Karin memilih untuk tidur di paha sepupunya.

Di pojok sofa panjang ada Nael duduk dengan rasa bosan. Sebenarnya agenda mereka ingin ke pantai, namun adiknya Rubby merengek minta pulang karna capek. Rencananya mereka akan bakar-bakar menghabiskan waktu sebelum besok hari senin, tapi ya sudahlah. "Mik, lo jadi beli ayam sama ikan?." Meletakkan ponselnya dan bertanya pada remaja yang lebih muda dua tahun darinya. Adik Karin.

"Jadi, tapi gak tau udah sampe atau belum." Mikha masih sibuk dengan game yang serius.

"Bakar-bakar ajalah kita di belakang, bosen gw." ujar Nael. Melirik pada dua gadis di sampingnya. Ia salfok dengan posisi Karin, sedikit meringkuk hingga pantat yang terbalut celana pendek, membulat padat. Dengan iseng ia tampar pantat itu dan meremasnya kasar.

"El, tangannya ih!." Tegur Karin, gadis itu menepuk tangan Nael yang masih nyaman meremas pantatnya.

"Pantat lo bikin gw gemes." Nael tidak menghentikan tangannya. Ia malah ikut rebahan dan memeluk tubuh Karin dari belakang.

"El, gw pukul ya kalau lo mesum!." Rubby tidak memukul tapi ia menarik telinga Nael.

"Ish, sakit loh By." Kembali duduk sembari memegangi telinganya, tidak parah tapi sakit.

"Lagian, ganggu orang anteng aja. Udah sana bakar-bakar sama Mikha, nanti kita nyusul." Kembali fokus pada apa yang di tonton. Kalau seperti ini dirinya tidak mau di ganggu.

"Suruh bibi buat bikin bumbunya." Karin memegang tangan Nael yang sengaja di taruh di atas pinggangnya. Meskipun Nael selalu mesum dan jail padanya, ia tidak pernah menolak kasar, dan kembali sewajarnya.

"Yok Mik, kebelakang Mik." Beranjak dan menarik tangan Mikha.

"Bentaran lah, lagi ada musuh nih!." Tolak Mikha.

"Udah afk aja bentar, nanti gw gendong-gendong deh." Paksa Nael.

"Gendong-gendong, retri busuk, gak bisa di andelin." Ucap Mikha lagi.

"Udah lah Mik, laper gw." Memiting Mikha dari belakang, Nael langsung menarik remaja itu ke halaman belakang rumah Mikha.

Mau tak mau, Mikha ikut dan meninggalkan ponselnya. Menyiapkan pembakaran sedangkan Nael membuat minuman sekalian meminta bantuan bibi untuk membuatkan bumbu bakar.

Sepuluh menit berlalu, meja bundar yang di sediakan perlahan penuh. Ikan bakar, dan sosis, sedangkan satu ayam utuh masih terbakar bara api. Karin dan Rubby membawa kursi lipat dari dalam rumah, mereka mendekat pada meja.

"Enak nih, duduk tinggal makan." Cibir Mikha yang tengah mengoles ikan terakhir.

"Enak dong. Kenapa?, enggak ikhlas?." Mikha seketika terdiam. Rubby memang bisa membuat lawan bicaranya diam tak melawan.

"Dek, kamu beli berapa sih kok banyak banget?." Tanya Karin. Pasalnya di rumah cuma ada mereka berempat dan satu pembantu tapi ikan yang di bakar Mikha ada enam, satu ayam utuh, dan juga satu bungkus sosis ukuran besar. Siapa yang akan menghabiskan makanan sebanyak ini.

"Beli paket murah aja, ci. Daripada satuan lebih mahal. Lagian nanti juga bakal ada aja yang makan." Balas Mikha. Sebentar lagi papa dan mamanya juga pulang, kalau belum habis kasih orang juga bisa.

Cerita Cinta RemajaWhere stories live. Discover now