bab 1 - pagi yang berbeda dari sebelumnya

16 2 0
                                        

"Sheanna jea Avasha" & "Zehandra Raden"

pagi selalu datang.
tidak pernah terlambat.
tidak pernah peduli siapa yang siap atau tidak.

Shea membuka matanya tanpa semangat.
langit diluar jendela cerah, terlalu cerah untuk seseorang yang bahkan tidak ingin bangun dari tempat tidur.

ia menatap langit langit kamar,kosong.

tidak ada yang berubah.
tidak akan pernah berubah.

"SHEA!!"

dan ya, suara itu lagi.

ia memajamkan mata sebentar, lalu menarik napas dalam dalam— seolah itu bisa membuat semuanya lebih ringan.

tidak bisa.

dengan langkah pelan, ia turun dari tempat tidur, seragamnya tergantung rapi. semua sudah disiapkan. semua terlihat sempurna

seperti hidupnya, dari luar.
.

di meja makan, tak ada sapaan hangat, tidak ada ucapan "selamat pagi".

ayahnya duduk sambil membaca berita di TV mahal, ibunya sibuk dengan ponsel

shea menarik kursi, duduk tanpa suara.

"nilai kamu kemarin, sangat memalukan" ucap ayah.

kalimat pertama yang keluar pagi itu.

shea hanya terdiam

"anak orang lain aja bisa? kenapa kamu enggak?" lanjut ibunya tanpa menoleh.

sendok ditangan Shea berhenti sejenak. ia ingin menjawab kalau ia sudah berusaha, kalau ia lelah. tapi seperti biasa, kata kata itu hanya berhenti ditenggorokan.

"maaf."

hanya itu yang keluar

ayah nya mendengus pelan. "maaf terus, tapi gak pernah berubah." dan pagi itupun... selesai seperti biasanya.

berbeda dengan rumah lain di sudut kota yang sama

"raden! jam segini belum bangun!? sudah jam berapa ini nanti telat!"

suara amukan yang lembut itu tidak pernah berubah.

raden membuka mata dengan sedikit malas, tapi ada senyum kecil diwajahnya.

"iya,bun..."

ia bangkit dari tempat tidurnya, merapikan rambut seadanya, lalu keluar kamar.

aroma masakan langsung menyambut.

"pagi abang!!" sapa adik perempuannya ceria, masih dengan seragam TK yang sedikit berantakan.

raden terkekeh kecil.
"pagi juga! rambut kamu berantakan kaya sarang burung."

"IHH, bundaaa abang ejek nara!!" ucap adik raden yang rewel setelah di ganggu oleh kakak laki lakinya

ibunya tersenyum melihat mereka

"pagi pagi udah berantem! makan dulu!"

tawa kecil memenuhi ruang makan itu, sangat sederhana, tapi tidak semua orang bisa merasakan.

dan raden tidak pernah benar benar sadar—
bahwa tidak semua orang punya pagi seperti ini.

di sekolah —

Shea berjalan menyusuri lorong dengan langkah tenang, terlalu tenang.

tatapan beberapa orang mengikuti. bisik bisik kecil terdengar, tapi ia sudah terbiasa.

"dia si anak DPR itu, kan??"
"iyaa, tapi katanya—"

Shea tidak mendengarkan. atau lebih tepatnya, memilih untuk tidak peduli.

ia masuk ke kelas, duduk di bangkunya, sendiri.

tidak ada yang benar benar mendekat. bukan karena jahat

tapi karena... dia terlalu jauh.

.

beberapa menit kemudian, pintu kelas terbuka.

"permisi, pak. maaf saya telat"

suara itu baru.
Shea tidak langsung menoleh. tapi entah mengapa— kelas yang tadinya biasa saja.... terasa sedikit berbeda.

"masuk,perkenalkan diri kamu," kata guru.

"nama saya Zehandra raden, panggil raden saja"

satu kelas hening beberapa saat

namun cukup membuat beberapa orang mulai berbisik lagi.

Shea akhirnya mengangkat pandangan.

untuk pertama kalinya hari itu— ia benar benar melihat sesuatu.

bukan kemewahan, bukan juga tuntutan,bukan tatapan merendahkan.

hanya seseorang, dengan ekspresi tenang.

dan anehnya—
itu terasa asing.

raden berjalan mencari tempat duduk. hingga matanya berhenti pada satu kursi kosong tepat disamping Shea.

"boleh?" tanya raden sambil menunjuk kursi yang ada didekat Shea

shea terdiam.

sekian lama
tidak ada yang pernah bertanya seperti itu.

ia mengangguk kecil.

dan tanpa mereka sadari—
itulah awal dari sesuatu yang akan mengubah segalanya.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Apr 26 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

no place called home, until youStories to obsess over. Discover now