Langit Tidak Pernah Kebetulan

21 4 9
                                        

Langit malam itu terlalu bersih untuk disebut kebetulan.

Tidak ada awan.
Tidak ada gangguan.
Hanya gelap yang luas... dan bintang-bintang yang bersinar seolah tahu sedang diperhatikan.

Aku mencatat waktu.

22.47.

Fenomena ini sudah diprediksi sejak lam. Pergerakan orbit yang jarang, pertemuan garis cahaya yang kalau mau jujur... tidak benar-benar berarti apa-apa.

Setidaknya, itu yang selalu aku percaya.

Bintang tidak peduli siapa yang melihatnya.
Langit tidak menulis cerita.
Dan manusia... hanya terlalu suka mencari arti dari sesuatu yang tidak punya niat apa-apa.

Aku mengangkat teleskop sedikit, menyesuaikan sudutnya.

"Kalau kamu terus melihatnya seperti itu, bintangnya tidak akan berubah posisi."

Suara itu datang tanpa izin.
Aku tidak langsung menoleh.

"Dan kalau kamu berbicara seperti itu," jawabku datar, "fenomenanya juga tidak akan jadi lebih menarik."

Hening sebentar.

Lalu... langkah kaki mendekat.

"Aku cuma bilang," katanya lagi, suara ringan, hampir seperti sedang menahan tawa, "kadang orang terlalu fokus pada apa yang bisa diukur... sampai lupa merasakan."

Aku akhirnya menoleh.

Dia tidak berdiri jauh dariku.
Tidak membawa alat apa pun.
Tidak terlihat seperti orang yang datang untuk mengamati fenomena langit.

Lebih seperti... seseorang yang sudah tahu jawabannya, bahkan sebelum melihat.

"Apa kamu juga datang untuk fenomena ini?" tanyaku.

Dia mengangguk pelan, menatap langit, bukan aku.

"Bukan fenomenanya," katanya. "Momen ketika semuanya sejajar."

Aku hampir tertawa.

"Sejajar?" ulangku. "Itu cuma istilah romantis untuk seseuatu yang sebenarnya acak."

"Acak?" Dia akhirnya menoleh. "Kamu yakin?'

Aku menatapnya balik, sedikit lebih lama dari yang seharusnya.

Ada sesuatu yang aneh.
Bukan pada wajahnya.
Bukan pada caranya bicara.
Tapi pada perasaan... seolah aku pernah berada di momen ini sebelumnya.

Padahal jelas belum.

"Semua di langit bisa dijelaskan," kataku akhirnya. "Tidak ada yang benar-benar ditakdirkan."

Dia tidak lansung membantah.

Hanya tersenyum tipis. Bukan mengejek. Bukan setuju.

Lebih seperti... seseorang yang tahu aku salah, tapi tidak tertarik memperdebatkannya.

"Lucu ya," katanya pelan.

"Apa?"

"Orang yang keras menyangkal takdir... biasanya yang paling dekat dengannya."

Aku menghela napas.

"Dan orang yang percaya takdir," balasku, "biasanya hanya takut mengakui kalau mereka tidak punya kendali."

Kali ini dia tertawa kecil.

Tidak keras.
Tidak lama.
Tapi cukup untuk membuat suasana berubah... sedikit.

Angin malam lewat di antara kami, membawa dingin yang seharusnya biasa saja.

Tapi tidak malam ini.

Aku kembali menatap teleskop, mencoba fokus.

Orbit of UsStories to obsess over. Discover now