Kadang, yang paling sulit bukan jatuh cinta-tapi memahami perasaan yang tidak pernah benar-benar diucapkan.
Carmenita Fiandi-atau Carmen di sekolah, Fia di rumah-menjalani hidupnya dengan sederhana: siaran radio, kerja part-time, dan hari-hari hanga...
Langit sore belum benar-benar gelap ketika suara gedebuk terdengar dari halaman rumah nenek. Carmen bahkan tidak langsung menoleh. Ia hanya memejamkan mata sebentar, menarik napas, lalu menghembuskannya pelan.
"Lagi," gumamnya.
Ia berjalan keluar, membuka pintu kayu yang sedikit berderit. Seperti yang sudah bisa ditebak—sebuah bola basket tergeletak di antara pot tanaman. Salah satu batang bunga tulip putih kesayangan neneknya miring, tanah di sekitarnya berantakan.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Carmen menatap pemandangan itu beberapa detik—Sabar, katanya dalam hati. Ia memeriksa tanaman lainnya barangkali tidak selamat.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Dari balik pagar, suara santai terdengar. "Masih hidup?"
Carmen menoleh cepat.
Seorang laki-laki berdiri di sana, satu tangan bertumpu di pagar, wajahnya sama sekali tidak menunjukkan rasa bersalah. Rambutnya sedikit berantakan, kausnya basah oleh keringat, dan bola basket lain ada di tangannya.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Carmen menyipitkan mata. "Kalau mati, kamu mau apain?"
Laki-laki itu mengangkat bahu. "Ganti."
Carmen tertawa kecil—bukan karena lucu, tapi karena tidak percaya. "Ini bukan soal diganti atau nggak."