Jakarta tidak pernah benar-benar tidur. Ia hanya mengganti bahasa.
***
Edo menyadari dia sudah terlalu lama menatap mikroskop ketika bayangan silia trakea mulai menari-nari seperti rambut perempuan yang ditiup angin. Bukan, itu bukan tarian. Itu tandanya matanya kelelahan. Atau jiwanya. Kedokteran mengajarkan satu hal: tubuh adalah mesin yang suatu hari akan mogok. Tapi tidak ada yang mengajar Edo bagaimana caranya mengenali tanda-tanda kerusakan sebelum semuanya terlambat.
Laboratorium anatomi lantai tiga itu lengang. Bau alkohol dan formalin merayap di udara seperti sesuatu yang mati namun enggan pergi. Suara AC terdengar seperti suara orang menangis di dalam sumur. Edo suka kesunyian ini. Atau mungkin dia hanya terbiasa. Karena di rumahnya yang besar di Pondok Indah, kesunyian juga selalu hadir di setiap sudut—di ruang makan yang hanya berisi dua piring, di ruang keluarga di mana televisi menyala tanpa suara, di kamar tidurnya yang terlalu luas untuk satu orang.
Tangan Edo gemetar ketika dia menutup mikroskop. Bukan gemetar karena takut. Gemetar karena kopi ketiga yang sudah habis efeknya, dan tubuhnya mulai mengirim sinyal protes. Dia sudah empat belas jam di sini. Empat belas jam menghafal nama-nama otot, saraf, pembuluh darah yang semuanya terdengar seperti mantra dari bahasa mati. Musculus sternocleidomastoideus. Nervus vagus. Arteri karotis komunis. Kadang Edo merasa dia sedang belajar bahasa asing, bukan ilmu menyembuhkan.
Dia berdiri. Jas lab putihnya tergantung di belakang pintu seperti kulit yang dia tanggalkan. Tas selempang coklat tua—yang sudah mulai jahitannya terlepas—dia sandang. Di dalam tas itu: stetoskop hadiah dari ayahnya, yang mungkin tidak pernah tahu cara kerja stetoskop; power bank yang selalu mati pada jam sepuluh malam; dan sebotol minyak angin yang sudah hampir habis, pemberian teman yang kini pindah ke Bandung dan sudah tiga bulan tidak mengirim kabar.
Dia keluar dari lab dengan langkah pelan, seperti orang yang sedang berjalan di dalam mimpi. Koridor kampus sepi. Lampu-lampu emergency memberi cahaya pucat, membuat bayangan Edo menjadi raksasa yang bergetar di dinding.
Di luar, malam Jakarta Selatan terasa hangat. Edo membuka pintu mobil BMW-nya—320i tahun 2012, hitam, klasik, dengan jok kulit yang sudah mulai retak di bagian tepi. Mobil ini dulu milik ibunya. Sekarang jadi miliknya. Edo tidak suka mengganti sesuatu yang masih bisa berfungsi. Termasuk mungkin hatinya yang sudah lama tidak dia gunakan.
Mesin menyala dengan suara halus, seperti orang yang menghela napas setelah menahan sesuatu terlalu lama. Edo tidak langsung tancap gas. Dia membiarkan mobil melaju perlahan, melewati perempatan yang lampu merahnya hanya berkedip oranye—seperti kota ini sedang malas berlagak sopan.
Lalu dia melihat kafe itu.
Pause.
Namanya terdengar seperti perintah untuk berhenti. Atau sebuah harapan.
Kafe itu masih terang di jam 2 pagi. Lampu-lampu kuningnya membuat segalanya tampak seperti adegan dari film lama. Edo bisa melihat beberapa orang di dalam: dua anak yang sudah tertidur di depan laptop, seorang ibu-ibu dengan kopi yang sudah dingin, dan—
Seorang laki-laki di meja dekat jendela.
Laki-laki itu sedang tersenyum ke ponselnya. Senyum yang lembut, seperti sedang membaca pesan dari seseorang yang sangat dia rindukan. Dia memakai kemeja flanel merah—merah yang tidak mencolok, merah seperti warna bibir setelah digigit. Di sampingnya ada tumpukan buku tebal. Edo tidak tahu isi buku-buku itu. Tapi dia bisa menebak: hukum. Karena sampulnya merah dan judulnya panjang dan penuh dengan kata-kata Latin yang membuat Edo pusing.
Dia tidak berniat masuk. Dia hanya parkir di pinggir jalan—parkir liar yang seharusnya tidak boleh, tapi jam 2 pagi adalah jam di mana peraturan menjadi longgar seperti ikat pinggang setelah makan malam. Edo mematikan mesin. Dia hanya mau duduk sebentar. Menghirup udara. Melihat kehidupan dari balik kaca.
Tapi laki-laki di dalam itu menoleh.
Menatap ke arahnya.
Menatap langsung ke mata Edo—seperti tahu persis di mana Edo bersembunyi.
Kemudian dia tersenyum.
Bukan senyum yang ramah. Bukan juga senyum yang menggoda. Tapi senyum yang berkata, "Aku tahu. Aku tahu kamu sedang melihatku. Dan itu tidak masalah."
Edo merasa jantungnya mengetuk tulang rusuk seperti tamu yang datang tidak diundang. Tidak mungkin, pikirnya. Kaca mobilku gelap. Dia tidak mungkin melihatku.
Tapi laki-laki itu sudah berdiri. Sudah melangkah keluar dari kafe. Pintu kaca terbuka, dan bel kecil di atasnya berbunyi "ding" yang terdengar sampai ke mobil Edo. Laki-laki itu berjalan ke arahnya. Tanpa jaket. Tanpa tas. Hanya kemeja flanel merah yang sedikit kusut di lengan dan celana chino beige yang robek di lutut kanan—robek yang disengaja, karena itu gaya.
Edo ingin memundurkan mobil. Pergi. Menghilang. Tapi tangannya membeku di setir. Seperti saat dia pertama kali memegang stetoskop dan tidak tahu harus meletakkan ujungnya di mana. Seperti saat pertama kali dia sadar bahwa dia suka pada laki-laki—dan rasa itu membuatnya takut, karena dia tidak pernah diajari cara menghadapinya.
Laki-laki itu mendekati jendela sebelah kiri.
Mengetuk kaca. Dua kali. Pelan. Iramanya seperti detak jantung yang lambat.
Edo menurunkan jendela. Udara malam masuk—lembab, beraroma kopi robusta dan bensin. Bau khas Jakarta yang tidak pernah bisa dia hafal.
"Lo gak akan masuk?" suara laki-laki itu dalam. Sedikit serak. Seperti orang yang baru saja selesai banyak bicara atau tidak bicara sama sekali. "Udah dari tadi liatin kafe ini kayak lagi nonton film."
Edo membuka mulut. Tidak ada suara yang keluar. Lidahnya seperti terlipat di tenggorokan.
Laki-laki itu terkekeh. Kecil. Tidak mengejek. "Introvert ya? Santai, gue gak gigit. Gue cuma butuh teman ngopi. Teman gue kabur ditinggal tidur."
Dia mengulurkan tangan. Telapak tangannya lebar, jari-jarinya panjang, dengan tinta pena yang masih basah di sela jari tengah dan telunjuk—seperti baru selesai menulis sesuatu, mungkin namanya sendiri, mungkin doa, mungkin curhat yang tidak akan pernah dikirim.
"Arkana," katanya. "Fakultas hukum. Kalo lo nanya jurusan, itu artinya lo tertarik."
Edo tidak bertanya jurusan.
Tapi dia menggenggam tangan itu.
Hangat. Lebih hangat dari kopi yang sudah dingin. Lebih hangat dari selimut di kamarnya yang sepi.
"Edo," ucapnya pelan, hampir berbisik. "Kedokteran."
Arkana tersenyum. Senyum yang sama. Senyum yang membuat Jakarta jam 2 pagi terasa seperti tempat yang bisa dijadikan rumah.
"Nah, kan," kata Arkana. "Lo bisa juga ngomong."
Dan di situlah semuanya dimulai.
Bukan dengan hujan deras atau ledakan atau adegan di bandara.
Tapi dengan secangkir kopi yang tidak pernah Edo pesan, sebuah kafe bernama Pause, dan seorang laki-laki berkemeja flanel merah yang memutuskan bahwa malam itu—dia tidak ingin sendirian.
Bersambung.
BINABASA MO ANG
Pangkuan Jam 2 Pagi
Romance"Kamu jangan panggil aku 'sayang' kalau cuma di chat. Tapi kalau kamu tiduran di pangkuanku sambil narik selimut, itu baru namanya sayang." - Arkana, yang gak pernah bisa ngomong romantis tapi selalu ada jam 2 pagi. Edo mahasiswa kedokteran yang jad...
