Suara bel berbunyi nyaring, menandakan jam pertama dimulai.
Tapi seperti biasa, ada tiga kursi kosong di kelas XI IPS 2.
“Prana, Paulo, Mirachel… lagi-lagi,” gumam guru dengan nada lelah.
Bukan karena mereka tidak tahu aturan.
Tapi karena mereka… tidak peduli.
Di belakang gedung sekolah, tepatnya di dekat lapangan yang jarang dipakai, tiga sosok itu terlihat santai.
Prana bersandar di tembok dengan tangan di saku, wajahnya tenang tapi matanya tajam. Dia tipe yang terlihat malas, tapi sebenarnya selalu sadar dengan sekitar.
Paulo duduk di bangku panjang, memainkan ponselnya, sesekali tertawa kecil melihat sesuatu di layar.
Sementara Mirachel berdiri agak jauh, memandang langit, seperti tidak benar-benar hadir di tempat itu.
“Masuk?” tanya Paulo santai.
Prana menggeleng. “Belum mood.”
Mirachel hanya menghela napas.
“Kita bakal dipanggil lagi.”
Paulo tersenyum. “Kayak biasa aja.”
Dan benar saja.
Tidak sampai satu jam, seorang petugas sekolah datang.
“Kalian bertiga. Ke BK. Sekarang.”
Paulo berdiri santai. “Undangan lagi.”
Prana hanya tersenyum tipis.
Mirachel menutup mata sebentar, seolah sudah lelah dengan rutinitas ini.
Ruang BK sudah seperti rumah kedua bagi mereka.
“Ini sudah keterlaluan!” kata guru BK dengan nada tinggi.
“Kalian pikir sekolah ini tempat main?”
Prana tetap diam. Paulo menunduk pura-pura sopan. Mirachel hanya mendengarkan tanpa ekspresi.
“Kalian tidak bisa terus seperti ini.”
“Kami juga nggak bilang mau berubah,” jawab Prana santai.
Suasana langsung membeku.
Guru BK menarik napas panjang.
“Baik. Kalau begitu… kalian bukan urusan saya lagi.”
Ketiganya saling pandang.
“Mulai sekarang, kalian akan ditangani langsung oleh OSIS.”
Untuk pertama kalinya… mereka sedikit tertarik.
Ruang OSIS terasa berbeda.
Lebih rapi. Lebih dingin. Dan entah kenapa… lebih menekan.
Di dalam ruangan itu, tiga orang sudah menunggu.
Di tengah berdiri seseorang dengan aura dominan—Malvver.
Tatapannya tajam, dingin, dan penuh kontrol.
Di sebelahnya, Liam berdiri dengan sikap santai tapi tetap tegas.
Sedangkan Kanetha duduk sambil menulis sesuatu, terlihat tenang.
“Masuk,” kata Malvver singkat.
Prana, Paulo, dan Mirachel masuk tanpa banyak bicara.
“Duduk.”
Tidak ada pilihan selain patuh.
Malvver membuka map di tangannya.
“Prana. Paulo. Mirachel.”
Dia menyebut nama mereka satu per satu dengan suara datar.
“Kalian bertiga punya catatan pelanggaran terbanyak di sekolah ini.”
Paulo tersenyum kecil. “Prestasi, ya?”
Malvver menatapnya tajam.
“Lucu?”
Paulo langsung diam.
Tatapan Malvver kemudian beralih ke Prana.
“Kamu yang paling sering memulai.”
Prana menatap balik tanpa takut.
“Bukti?”
Malvver menyipitkan mata.
“Aku tidak butuh bukti untuk membaca orang seperti kamu.”
Prana tersenyum miring.
“Dan aku nggak butuh izin kamu untuk jadi diri gue sendiri.”
Liam langsung menoleh, sedikit terkejut.
Kanetha berhenti menulis.
Untuk beberapa detik… suasana menjadi tegang.
“Cukup,” kata Liam akhirnya.
Dia melangkah maju.
“Kita bukan di sini buat adu ego.”
Nada suaranya lebih lembut, tapi tetap tegas.
Dia lalu menatap Mirachel.
“Kamu… sebenarnya kenapa ikut mereka?”
Mirachel terdiam.
Pertanyaan itu… tidak pernah benar-benar dia pikirkan.
“Aku… nggak tahu,” jawabnya pelan.
Liam memperhatikannya lebih lama dari yang lain.
Sementara itu, Kanetha akhirnya berbicara.
“Paulo.”
Paulo menoleh.
“Kamu sebenarnya bisa lebih dari ini.”
Paulo mengangkat alis. “Kamu kenal gue?”
Kanetha tersenyum tipis. “Aku memperhatikan.”
Untuk pertama kalinya… Paulo tidak langsung menjawab.
Malvver menutup mapnya dengan keras.
“Mulai hari ini, kalian bertiga akan berada di bawah pengawasan OSIS.”
“Apa?” Paulo langsung bereaksi.
“Kalian akan membantu kegiatan OSIS setiap hari sepulang sekolah.”
Prana tertawa kecil. “Nggak tertarik.”
Malvver berdiri.
“Kamu pikir ini pilihan?”
Dia mendekat ke arah Prana.
“Ini konsekuensi.”
Prana tidak mundur.
Justru mendekat sedikit.
“Kita lihat aja nanti.”
Tatapan mereka bertemu.
Dan entah kenapa… bukan cuma ada konflik di sana.
Ada sesuatu yang lain.
Sesuatu yang belum bisa dijelaskan.
Hari itu berakhir dengan satu hal pasti:
Hidup mereka akan berubah.
Bukan karena mereka mau.
Tapi karena mereka… dipaksa untuk dekat dengan orang yang tidak pernah mereka duga akan berarti.
Di luar ruangan OSIS…
Paulo menghela napas.
“Ini bakal ribet.”
Mirachel mengangguk pelan.
Prana hanya tersenyum.
“Tapi menarik.”
Di dalam ruangan…
Liam menatap pintu yang baru saja tertutup.
“Mereka nggak gampang.”
Kanetha tersenyum kecil. “Tapi bukan berarti nggak bisa berubah.”
Malvver diam.
Tapi pikirannya tidak tenang.
Untuk pertama kalinya… seseorang seperti Prana membuatnya kehilangan kontrol.
Dan tanpa mereka sadari…
Ini bukan sekadar hukuman.
Ini adalah awal dari sesuatu yang akan mengubah mereka semua.
Hai para readers ku yang paling aku cinta, maaf ya aku ngilang nya lama sekarang aku balik dengan cerita baru ku dibaca yaaaa.
Kalo ada salah kata atau salah penataan maaf karna manusia gk ada yang sempurna.
Semoga kalian suka jangan lupa vote sama komen yaaaaaaa
YOU ARE READING
Enemies To Lovers
RomanceAwalnya sih musuhan tapi kok tiba tiba jadian. tungguin keseruan
