satu

646 55 20
                                        

Happy Reading

Sejak awal pertemuan mereka di bangku sekolah menengah pertama, hubungan antara Lee Leo dan Kim Junseo tidak pernah berjalan dengan baik. 
Bukan karena mereka berbeda terlalu jauh, justru sebaliknya. Mereka terlalu mirip, sama-sama cerdas. Sama-sama ambisius dan sama-sama tidak suka kalah. 

Namun dunia selalu berpihak pada satu Lee leo.
Setiap pengumuman peringkat kelas selalu menjadi momen yang menyakitkan bagi Junseo. Ia berdiri tegak, menahan napas, berharap kali ini namanya akan dipanggil pertama. 
Namun harapan itu selalu hancur oleh satu suara yang sama.
 
“Peringkat pertama, Lee Leo.” tepuk tangan bergema. 

Junseo menggenggam buku di tangannya lebih erat. Rahangnya mengeras, tatapannya tajam ke depan. 
“Peringkat kedua, Kim Junseo.” 

Kedua, welalu kedua seolah-olah takdir sudah menuliskan bahwa ia hanya akan berada satu langkah di belakang Leo, tidak pernah lebih. 

Dan itu membuatnya membenci Leo. 
Bukan sekadar tidak suka. 
Melainkan benci yang tumbuh perlahan, mengakar dalam setiap kegagalan kecil yang ia rasakan. 

Kini mereka sudah duduk di bangku sekolah menengah atas. Waktu berlalu, tetapi satu hal tidak berubah. 
Persaingan itu dan posisi mereka, Leo tetap di atas dan  Junseo tetap di bawah. 

“Kalau kau terus seperti itu, kau akan sakit sendiri,” ujar Sangwon suatu hari, saat mereka duduk di kantin. 

Sangwon adalah satu-satunya orang yang benar-benar memahami Junseo. Ia tidak pernah menghakimi, hanya mengingatkan. 

Junseo mendengus pelan. 
“Aku tidak peduli. Selama dia masih ada, aku tidak akan pernah benar-benar menang.” 

Sangwon menatapnya dalam diam, lalu menghela napas. 
“Masalahnya bukan Leo.” 

Junseo menoleh, sedikit kesal. 
“Lalu siapa?” 

“Dirimu sendiri.” 

Junseo tidak menjawab. Ia hanya memalingkan wajah, jelas tidak ingin melanjutkan percakapan itu. 

Namun, jika hanya soal peringkat akademik, mungkin Junseo masih bisa menahannya. 
Yang membuat segalanya semakin buruk adalah hal lain. 

Setiap kali Junseo mulai menyukai seseorang, setiap kali ia berusaha mendekat, hasilnya selalu sama. 
Awalnya berjalan baik. Senyum, percakapan ringan, perhatian kecil yang membuat hatinya berdebar. 
Lalu entah bagaimana, semuanya berubah. 

Perempuan yang semula dekat dengannya perlahan menjauh. 
Dan beberapa minggu kemudian, mereka terlihat berjalan bersama Leo. 
Tertawa. Bersandar di bahunya lalu menjadi miliknya. 

Hari itu, Junseo berdiri di koridor sekolah dengan tangan mengepal. Di hadapannya, seorang gadis yang beberapa minggu terakhir dekat dengannya menunduk, tidak berani menatap matanya. 

“Apa maksudmu?” tanya Junseo pelan, suaranya tertahan. 

“Aku… aku minta maaf.” Jawaban yang sama.

Junseo tertawa kecil, “Jangan bilang kau juga…” 

Gadis itu menggigit bibirnya. 
“Aku… sekarang bersama Leo.” 

Kalimat itu terasa seperti pisau yang menusuk tanpa ampun. 

Junseo terdiam beberapa detik, lalu mengangguk pelan. "Begitu ya?” 

“Selalu dia,” gumamnya pelan, hampir tidak terdengar. 

Ia berbalik dan berjalan pergi tanpa menoleh lagi. 

From Rival to mine - LeoSeo✅Stories to obsess over. Discover now