Ada satu meja di Kopi Nalar yang tidak pernah benar-benar kosong.
Secara teknis, iya. Kursinya sering tidak ditempati. Barista berkali-kali mengarahkan pelanggan ke sana, terutama saat kafe mulai penuh. Tapi entah bagaimana, selalu ada alasan kecil yang membuat orang berubah pikiran di menit terakhir. Terlalu dekat jendela. Terlalu dingin. Terlalu sepi. Terlalu tidak enak, tanpa bisa dijelaskan.
Orang-orang yang bekerja di sana tidak lagi mempertanyakan.
Mereka hanya tahu satu hal: meja itu punya SOP sendiri.
Dan malam ini, SOP itu kembali berjalan.
Nalendra datang pukul 19.52. Delapan menit lebih cepat dari waktu kumpul yang selalu mereka sebut "jam delapan" tapi tidak pernah benar-benar dimulai tepat waktu. Dia duduk di kursi paling pojok yang menghadap jendela. Laptop dibuka, charger dipasang, spreadsheet langsung muncul di layar.
Tiga puluh detik pertama, dia terlihat seperti CEO startup yang baru saja menutup pendanaan besar.
Menit kedua, tangannya berhenti. Kursor berkedip di satu sel kosong. Dia tidak mengetik. Tidak menutup laptop. Hanya menatap.
Overthinking, tapi pakai Excel.
Sendadika datang berikutnya. Langkahnya tidak terburu-buru, tapi juga tidak santai. Jas masih rapi, tas kerja masih di bahu, seperti dia belum sepenuhnya keluar dari rumah sakit. Dia duduk, membuka tas sedikit, memastikan stetoskopnya masih di sana. Lalu dia mengeluarkan sesuatu yang justru lebih menarik perhatian.
Sebuah mug.
Baru. Masih terlalu bersih untuk masuk kategori koleksi.
Tulisan di depannya besar dan kontras.
"I'm Fine."
Sendadika memutarnya pelan, lalu berkomentar datar, "Denial ringan," seolah sedang membaca hasil EKG.
Priya datang tanpa banyak suara, tapi kehadirannya langsung terasa. Kemeja putih masih rapi, ID card masih terpasang, sepatu siap lari kapan saja. Dia duduk, mengeluarkan ponsel, lalu langsung tenggelam dalam chat.
Jarinya bergerak cepat, berhenti, menghapus, lalu mengetik ulang. Satu kalimat bisa berubah tiga kali. Bagi Priya, memilih kata bukan hal kecil. Itu bagian dari tanggung jawab.
Jenggala datang berikutnya. Dia tidak benar-benar duduk, dia seperti menjatuhkan diri ke kursi. iPad langsung keluar, stylus langsung bergerak. Garis pertama cepat, garis kedua dihapus.
"Tidak kena," gumamnya pada dirinya sendiri.
Dia mencoba lagi. Satu bentuk muncul, lalu hilang lagi.
Krisis kreatif tidak pernah datang dengan jadwal.
Satu kursi masih kosong.
Tidak ada yang menyentuhnya. Tidak ada yang mencoba.
Karena semua tahu, itu bukan kursi kosong.
Itu kursi Arunika.
Dan seperti biasa, dia datang bukan dengan pelan.
Tangga kayu berbunyi cepat, sedikit terlalu keras untuk suasana kafe yang menjual ketenangan. Suara plastik beradu dari dalam tas terdengar lebih dulu sebelum orangnya muncul.
"Halo, manusia-manusia yang butuh bantuan tapi denial!" suara Arunika muncul bersamaan dengan dirinya.
Arunika muncul dengan tote bag besar di bahu, hoodie kebesaran, dan energi yang tidak pernah setengah-setengah. Dia belum duduk, tapi tasnya sudah lebih dulu mendarat di meja dengan bunyi cukup keras untuk membuat dua orang di meja sebelah menoleh.
ŞİMDİ OKUDUĞUN
Taman Rasuna
RastgeleTaman Rasuna menjadi tempat pertama kali mereka bertemu, yang kemudian perlahan membentuk hubungan hangat seperti keluarga. Dari titik itu, kedekatan mereka terus tumbuh setiap hari, meskipun masing masing membawa hidup yang tidak sederhana, penuh s...
