Cinta titipan 1
Langkah kecil berlari sembari memegangi sebuah gelang manik warna warni. Beberapa kali ia terjatuh lalu bangkit lagi. Suaranya menggema di lorong memanggil seseorang yang berada di ambang pintu.
"Kakak! Tunggu, Kak."
Langkah kakinya terhenti tepat di hadapan seorang anak yang lebih tua darinya.
"Kenapa berlari? Kalau terjatuh bagaimana?"
"Ini. Aku mau kasih Kakak gelang ini."
Gadis berumur lima tahun itu memasangkan gelang manik ke lengan bocah laki-laki dengan wajah yang sangat bahagia.
"Terimakasih, ya, Laras. Aku harus pergi, kamu baik-baik, ya, di sini."
Laras mengangguk. Seorang wanita menghampiri gadis kecil yang mulai terlihat sedih. Bu Nilam adalah pengurus panti.
"Apa Kakak akan kembali, Bu?"
"Dia pasti kembali."
Mobil mewah itu pergi meninggalkan panti asuhan tempat Laras tinggal. Damar dan ayahnya pergi ke luar negeri untuk urusan pekerjaan. Seminggu sekali, Ayah dan Anak itu selalu pergi ke panti dimana almarhumah ibunya Damar pernah menjadi salah satu penghuni dulunya.
Laras sudah dianggap seperti anggota keluarga sendiri. Seandainya tidak ada orang tua asuh yang mau datang mengadopsi, mungkin Damar dan ayahnya lah yang mengadopsi Laras. Gadis manis itu ditinggalkan begitu saja orang orang tuanya di depan pintu panti ketika bayi.
13 tahun kemudian.
"Buu ...! Ibuuuu."
Bu Nilam berlari keluar rumah karena mendengar suara panggilan dari Laras. Gadis periang itu memeluk Bu Nilam sembari membawa selembar kertas kelulusan. Laras lulus dengan nilai terbaik di sekolah.
"Laras lulus, Bu. Lihat ini."
"Alhamdulillah, Nak."
"Kalau sudah lulus gini, aku mau cari kerja biar bisa bantu Ibu dan adek-adek."
"Gak usah, Ras. Kamu kerja itu untuk kamu sendiri."
"Bu. Jangan pernah bilang begitu. Aku sangat berterima kasih sama Ibu. Kalau bukan Ibu yang menyelamatkan aku waktu itu, mungkin sekarang hanya nama Laras yang menjadi kenangan. Makasih, ya, Bu."
Gadis berambut sebahu itu memeluk Bu Nilam dengan sayang. Teringat saat orang tua yang hendak mengadopsi Laras saat itu ternyata sindikat penjualan manusia. Beruntung Bu Nilam curiga dengan data-data diri keduanya dan kebetulan sekali polisi sudah mengintai mereka dan terjadilah penangkapan di panti saat itu.
"Sudah, jangan diingat masa-masa itu. Paling penting bagi Ibu, kamu selamat dan tetap mau tinggal dengan Ibu sampai saat ini."
Di bandara, seorang pemuda melangkah menghampiri sopir pribadi yang sedang menunggunya.
"Apa barang-barangku sudah di mobil semua?"
"Sudah, Mas. Semua sudah saya taruh di mobil."
Damar baru pulang dari Kanada setelah beberapa bulan yang lalu ayahnya pulang lebih dulu. Sepanjang jalan ia memperhatikan jalan dan gedung yang semakin bagus pembangunannya.
"Laras, sekarang kamu di mana? Apa kamu bahagia dengan keluarga barumu? Setelah hari itu, kita bahkan sudah tidak pernah berkomunikasi."
Damar memegangi gelang manik pemberian Laras. Damar sudah menganggap Laras seperti adiknya sendiri. Damar anak tunggal dan hanya Laras lah temannya bermain ketika berkunjung ke panti.
Sesampainya di rumah, Damar disambut ayahnya. Pria paruh baya itu memeluk rindu pada putra semata wayangnya. Padahal baru beberapa bulan tak bertemu.
"Bagaimana perjalananmu, lancar?"
YOU ARE READING
Cinta Titipan
RomancePerjuangan Laras untuk mencari tahu dimana keberadaan orang tuanya harus menelan kekecewaan lantaran cerita masa lalu yang belum usai. Pernikahan yang bahagia diawal tiba-tiba menemui badai besar saat kebenaran akhirnya terungkap. Apa yang harus Lar...
