Kepulangan yang Salah

1 0 0
                                        

Hujan turun sejak sore, dan belum juga berhenti.
Garcella berdiri di depan sebuah rumah tua dengan napas tertahan. Tangannya menggenggam erat gagang koper, sementara matanya menatap bangunan yang terasa… asing, meskipun ia tahu betul—ini adalah rumah masa kecilnya.
Cat dindingnya mengelupas. Jendela-jendelanya kotor. Dan lampu teras yang redup berkedip pelan, seolah menolak untuk tetap menyala.
Sudah lama sekali sejak terakhir kali ia menginjakkan kaki di tempat ini.
Sejak neneknya meninggal.
Angin malam berhembus dingin, membuat Garcella merapatkan jaketnya. Ia sempat ragu. Perasaan tidak nyaman itu muncul begitu saja—tanpa alasan yang jelas.
Tapi ia sudah sampai di sini.
“Cuma semalam,” gumamnya pelan.
Tangannya meraih gagang pintu.
Krek…
Pintu itu terbuka dengan suara berderit panjang. Bau lembap langsung menyergap, bercampur dengan aroma kayu tua yang lapuk.
Garcella melangkah masuk.
Lantai kayu berdecit pelan di bawah kakinya. Ruangan itu gelap, hanya diterangi cahaya dari luar yang masuk melalui celah pintu. Ia menutup pintu di belakangnya, dan suara “klik” kecil terdengar—terlalu nyaring dalam keheningan.
Rumah itu… terlalu sunyi.
Tidak ada suara apa pun. Tidak ada tanda-tanda kehidupan.
Namun entah kenapa, Garcella merasa… seperti tidak sendirian.
Ia menyalakan lampu ruang tamu. Lampu itu berkedip beberapa kali sebelum akhirnya menyala, memperlihatkan debu yang beterbangan di udara.
Semua masih sama.
Sofa tua di sudut ruangan. Lemari kayu besar. Dan foto-foto lama yang tergantung di dinding.
Garcella mendekat.
Di salah satu foto, ia melihat dirinya saat kecil… berdiri di samping neneknya. Senyum mereka terlihat hangat.
Tanpa sadar, ia menyentuh bingkai foto itu.
Dulu, neneknya selalu memperingatkan satu hal.
Satu hal yang sampai sekarang masih ia ingat dengan jelas.
“Kalau malam, jangan pernah ke ujung lorong.
Apalagi… buka pintu yang ketiga.”
Garcella menelan ludah.
Ia memalingkan wajah dari foto itu dan melihat ke arah lorong panjang di tengah rumah.
Lorong itu gelap.
Lampunya mati.
Dan di ujung sana… samar-samar terlihat tiga pintu berdiri sejajar.
Perasaannya langsung tidak enak.
“Cuma sugesti,” bisiknya pada diri sendiri.
Ia berusaha mengabaikan lorong itu dan berjalan menuju kamarnya. Setiap langkahnya menimbulkan bunyi berderit yang terasa terlalu keras.
Sesampainya di kamar, ia membuka pintu perlahan.
Ruangan itu berdebu, tapi masih bisa dikenali. Tempat tidur lama, meja kecil di sampingnya, dan jendela yang tertutup rapat.
Garcella meletakkan kopernya, lalu duduk di tepi kasur.
Hening.
Hanya suara hujan di luar.
Ia menghela napas panjang, mencoba menenangkan diri.
Sampai tiba-tiba—
TOK…
Garcella membeku.
Suara itu pelan.
Seperti… ketukan.
Ia menoleh ke arah pintu kamarnya.
Diam.
Tidak ada apa-apa.
“Mungkin dari luar,” gumamnya, meskipun ia sendiri tidak yakin.
Beberapa detik berlalu.
Lalu—
TOK… TOK…
Kali ini lebih jelas.
Bukan dari luar.
Itu dari dalam rumah.
Tepatnya…
Dari arah lorong.
Jantung Garcella mulai berdetak lebih cepat. Ia berdiri perlahan, langkahnya ragu-ragu saat mendekati pintu kamar.
Tangannya meraih gagang pintu.
Perlahan… ia membukanya.
Lorong itu gelap seperti sebelumnya.
Namun ada sesuatu yang berubah.
Pintu ketiga di ujung lorong—
Terbuka sedikit.
Padahal… ia yakin tadi semua pintu tertutup.
Udara terasa lebih dingin.
Dan dari kejauhan… terdengar sesuatu.
Seperti suara napas.
Atau…
Bisikan.
“…cella…”
Garcella langsung membeku.
Suara itu lirih.
Tapi jelas.
“…Garcella…”
Suara itu… sangat familiar.
Terlalu familiar.
“Nenek…?” suaranya bergetar.
Pintu ketiga itu bergerak perlahan.
Terbuka sedikit lebih lebar.
Gelap di dalamnya tampak… tidak wajar. Seolah-olah bukan sekadar ruangan, tapi sesuatu yang jauh lebih dalam.
“…kemari…”
Bisikan itu kembali terdengar.
Mengundang.
Memanggil.
Garcella menatapnya tanpa berkedip.
Langkahnya maju… satu per satu…
Menuju ujung lorong.
Menuju pintu ketiga.
Tanpa ia sadari—
Senyum tipis mulai muncul di wajahnya.
Seolah-olah…
Ia memang sudah menunggu untuk kembali.

pintu ketiga di ujung lorong Stories to obsess over. Discover now