Katanya, rumah adalah tempat pulang paling nyaman. Tempat di mana lelah dipeluk tanpa banyak tanya, tempat di mana hati boleh runtuh tanpa takut dihakimi.
Tapi rumahku... tidak seperti itu.
Dindingnya masih berdiri, atapnya masih menaungi,namun hangatnya hilang entah sejak kapan. Di dalamnya, aku tidak menemukan pelukanyang ada hanya kata-kata yang menjatuhkan perlahan,membuatku merasa semakin kecil, semakin hilang.
Di tempat yang seharusnya melindungi,aku justru belajar bagaimana rasanya tertekan.Belajar bagaimana rasanya menjadi asingdi tempat yang seharusnya paling mengenal diri ini.
Dan yang paling menyakitkan...kata itu datang dari seseorang yang aku cintai.Seseorang yang dulu aku anggap sebagai cahaya,yang kini memilih untuk meredupbahkan seolah menginginkan aku ikut padam.
Sejak saat itu, gelap menjadi akrab.Bukan karena malam datang terlalu cepat,tapi karena terang di dalam diriku perlahan hilang.Aku masih di sini,
berjalan di antara sunyi yang tak pernah benar-benar pergi,mencari sesuatu yang dulu disebut "rumah"...meski kini aku tak lagi tahu harus pulang ke mana.
¡Ay! Esta imagen no sigue nuestras pautas de contenido. Para continuar la publicación, intente quitarla o subir otra.