Bab 1.

432 22 1
                                        

Bau antiseptik memenuhi ruang Unit Gawat Darurat malam itu. Lampu putih yang terang menyilaukan memantul pada lantai bersih, sementara langkah kaki para tenaga medis terdengar tergesa, seakan waktu tak pernah benar-benar cukup untuk menyelamatkan semua yang datang dengan harapan.

Phuwin Tangsakyuen menarik napas panjang sebelum memasuki ruang perawatan VIP. Tangannya yang masih mengenakan sarung tangan medis sedikit mengepal, bukan karena gugup menghadapi pasien, melainkan karena nama yang tertera di berkas yang baru saja ia baca.

Nama yang tidak pernah benar-benar hilang dari ingatannya.

Nama yang pernah menjadi sumber luka terdalam dalam hidupnya.

Pond Naravit.

Pelumba litar kebanggaan negara. Alpha dominan dari keluarga terpandang. Seseorang yang selalu berada di atas, di puncak segalanya termasuk saat mereka masih di kampus dulu.

Dan seseorang yang menghancurkan harga dirinya tanpa ragu.

Phuwin mendorong pintu perlahan.

Di dalam, seorang pria tinggi dengan tubuh atletis duduk di atas ranjang, lengan kirinya dibalut perban. Wajahnya masih tampan seperti dulu bahkan mungkin lebih matang sekarang. Rambut hitamnya sedikit berantakan, dan ada luka kecil di pelipisnya, namun itu tak mengurangi aura dominan yang selalu melekat padanya.

Tatapan mereka bertemu.

Waktu seakan berhenti.

Senyum itu muncul sama seperti dulu.

“Seperti kita bertemu lagi, Phuwin Tangsakyuen,” kata Pond dengan nada ringan, hampir santai, seakan mereka hanyalah dua teman lama yang kebetulan bertemu kembali.

Namun bagi Phuwin, itu seperti pisau yang diputar di luka lama.

Tatapannya menajam, dingin, tanpa sedikit pun kehangatan.

“Pasien dengan cedera ringan biasanya tidak ditempatkan di ruang VIP,” balas Phuwin datar, mengabaikan sapaan itu sepenuhnya. Ia melangkah masuk, membuka berkas di tangannya, berusaha bersikap profesional.

Namun jantungnya berdetak terlalu cepat.

Sial.

Ia benci ini.

Ia benci bagaimana keberadaan Pond masih bisa mempengaruhinya.

Pond tertawa kecil. “Masih sama. Dingin dan menyebalkan.”

Phuwin tidak menanggapi. Ia mulai memeriksa luka di lengan Pond dengan gerakan terlatih. Sentuhannya ringan, profesional, tapi ada ketegangan yang tak bisa ia sembunyikan sepenuhnya.

“Kecelakaan di lintasan?” tanya Phuwin singkat.

“Motor sedikit tergelincir. Tidak parah,” jawab Pond santai.

“Tidak parah, tapi tetap meminta ruang VIP,” sindir Phuwin.

Pond memiringkan kepala, menatapnya lebih dalam. “Atau mungkin karena aku ingin dokter tertentu yang menangani.”

Tangan Phuwin berhenti sejenak.

Ia menatap Pond, kali ini langsung ke mata.

“Kalau itu alasannya, kamu membuang waktu. Aku tidak punya waktu untuk permainan lama.”

Pond tersenyum lebih lebar.

Ah, senyum itu.

Senyum yang dulu membuat banyak orang jatuh hati.

Dan yang dulu membuat Phuwin membencinya lebih dari apa pun.

“Permainan?” ulang Pond. “Kau masih menganggap itu permainan?”

The Doctor and the Racer"Stories to obsess over. Discover now