Prolog

5 2 0
                                        

Keadilan hanyalah konsep bagi mereka yang masih bernafas.

Jangan percaya pada sunyi.

Karena di dalam sunyi itulah, terdapat jiwa jiwa yang terlupakan sedang sibuk menenun rupa, bersiap untuk mencuri kembali tempat yang pernah mereka tempati.

Mereka tidak ingin sekadar ada, mereka ingin merasakan hidup lagi dengan cara yang tidak biasa.

Masalahnya bukan tentang siapa yang datang, tapi tentang siapa di antara kita yang sebenarnya sudah lama pergi tanpa pernah kita sadari.

Masalahnya bukan tentang siapa yang datang, tapi tentang siapa di antara kita yang sebenarnya sudah lama pergi tanpa pernah kita sadari

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

Lima.

Hitungan itu seharusnya selalu lima.

Lima gelas kopi yang mendingin, lima pasang sepatu yang berjejer, lima tawa yang saling menyahut.

Tapi di dunia yang tak pernah adil ini, angka bisa berkhianat.

Di bawah lampu jalanan yang remang remang, terdengar suara tawa dari berbagai arah.

Tidak teratur, nyaring, dan berulang ulang.

Empat dari lima di antara mereka melangkah cepat bagaikan angin menerpa, paru paru yang seolah diremas oleh udara dingin, keringat yang memenuhi kulit, dan ketakutan yang mendesak di kerongkongan.

Mereka berlari seolah sedang dikejar oleh dosa yang tak pernah mereka perbuat.

"Berhenti! berhenti!"

Salah satu dari mereka mengerang parau di tengah pasokan udara yang terasa kian menipis.

Langkahnya berhenti lebih dulu, memaku tubuhnya di atas aspal yang dingin.

Matanya tertuju pada teman teman nya yang ikut berhenti, sosok sosok yang kini melemparkan tatapan penuh tanya.

"Berhenti– kenapa sel? kita harus ngejauh sebelum dia tau dimana kita."

Salah satu nya menjawab dengan raut yang mengkerut penuh tanya, menahan dada yang naik turun tak beraturan.

Kalimatnya terbata, tertatih di tengah paru-paru yang dipaksa bekerja melampaui kapasitasnya.

Di matanya yang bergetar, ada ketakutan yang jauh lebih besar daripada sekadar rasa lelah setelah berlari.

"Tau tuh, lo liat keadaan dia tadi? itu bukan dia lagi sel! gue ga tau apa mau makhluk itu dari kita."

Sahut yang lain dengan suara yang menyayat udara.

Nadanya terdengar nyata antara amarah yang memuncak dan ketakutan yang merayap dingin, menembus hingga ke sumsum tulang.

Ia sedang berteriak pada takdir, menuntut jawaban atas kegilaan yang baru saja dimulai.

Sosok yang dipanggil 'Sel' mengembuskan napas kasar, rasa frustrasi tersirat nyata di raut wajahnya, sementara ketakutan yang asing mulai mengaburkan tatapannya.

Jalanan yang seharusnya riuh itu kini terasa seperti goa gelap yang mencekam, seolah olah tiap sudutnya dihuni oleh sesuatu yang tak terlihat, namun tengah bernapas di tengkuk mereka.

"Gue tau! tapi lo semua sadar ga? dari tadi kita udah lari, dan ga pernah sampai. Kita cuma muter muter."

Kesadaran itu menghantam mereka bagaikan petir di tengah terik matahari.

Pandangan mereka kini tertuju pada jalanan yang tak lagi memberikan rasa nyaman, melainkan ketegangan yang merambat perlahan.

Setiap sudut kini terasa penuh sesak, seolah ada jiwa jiwa tanpa raga yang sedang berdiri membeku, mengamati mereka dalam diam.

Malam itu, mereka akhirnya paham.

Bahwa di dunia yang tak pernah adil ini, kegelapan tidak butuh izin untuk masuk ke dalam lingkaran mereka.

Ia hanya butuh satu celah, satu ketakutan, dan jiwa yang beraga.

Dunia tak pernah adil. Stories to obsess over. Discover now