Matahari bersinar terlalu cerah untuk jiwa si malang yang sedang meronta, berharap hujan turun dan menyelamatkannya. Telapak tangan halus nan putih kemerahan, nyaris seperti paw kucing. Ia terusaha keras menghalau teriknya sinar yang terasa menyengat kulit.
"Ahhgrr... kenapa sih harus upacara," gerutunya pelan, bibirnya tanpa sadar mengerucut ke bawah.
"Kim Sunoo, berdiri yang benar."
Suara tegas itu langsung membuatnya menegakkan badan. Guru BK yang berdiri di samping barisan menatapnya tajam, khususnya pada siswa-siswa yang atributnya tidak lengkap atau datang terlambat... dan tentu saja, Sunoo termasuk di dalamnya.
Dengan wajah yang jelas tidak ikhlas, Sunoo menurunkan tangannya. Satu-satunya pelindung dari panas yang sejak tadi ia andalkan. Ia menghela napas kecil, menahan keluhannya sendiri.
Sial.
Batinya masih menggerutu. Mana dia lupa pakai sunscreen lagi. Semua gara-gara semalam terlalu asyik maraton drama sampai lupa waktu.
Padahal dia punya tiga kakak. Tapi tidak ada satu pun yang bangun untuk membangunkannya pagi ini. Lihat saja nanti, pulang sekolah dia akan mengadu pada orang tuanya yang kebetulan hari ini pulang dari perjalanan bisnis.
Setelah menghadapi terik matahari yang tidak ada ampun dan ceramah panjang dari guru BK, akhirnya Sunoo bisa kembali ke kelas. Kelas paling depan, dekat lapangan basket dan laboratorium, yang biasanya terasa nyaman, setidaknya dibandingkan lapangan upacara tadi.
"Gimana ceramahnya? Sudah tercerahkan? Siapa suruh semalam maraton."
Suara itu langsung menyambut begitu ia duduk. Minjeong menoleh dengan senyum mengejek.
"Minjee... capek banget, asli. Pak Seok Jin ceramahnya kayak seratus halaman," keluh Sunoo sambil menyandarkan punggungnya, kepalanya sedikit terangkat ke atas.
"Haha, emang gitu beliau. Eh, kamu udah ngerjain PR kan? Jam pertama beliau masuk, loh. Matematika Umum," tanya Minjeong, kini sedikit lebih serius.
"Aman. Aku udah. Kak Jake bantuin semalam. Dia nggak bolehin aku nonton kalau PR belum selesai," jawab Sunoo dengan nada bangga.
Walaupun pada akhirnya mereka semua tetap ketiduran. Wajar saja, tidak ada kuliah pagi di jadwal hari Senin kakak-kakaknya.
"Enak banget ya punya kakak. Pinter, terus ganteng-ganteng lagi. Mereka pasti famous di kampus, kan?" Minjeong berkata dengan penuh keyakinan.
Sunoo hanya mendengus pelan. Rasanya tidak terima kakak-kakaknya yang hobi mancing bareng papa itu disebut ganteng.
Ya... walaupun faktanya memang benar.
Ia masih ingat, pernah sekali ia dan mamanya menjemput ketiga kakaknya saat hari pertama mereka menjadi mahasiswa. Banyak sekali gadis yang mengerumuni mereka, membawa hadiah dengan wajah penuh harap. Suasana itu sempat membuat Sunoo kesal karena harus menunggu lama, tapi perasaannya langsung membaik ketika kakaknya memberikan semua hadiah itu padanya begitu mereka masuk ke mobil.
Ketiga kakaknya memang tipe gentleman. Bahkan sejak SMA, mereka sudah pernah membawa pasangan masing-masing ke rumah untuk bertemu papa dan mama.
Berbeda dengan Sunoo.
Sampai kelas 12 ini, ia belum pernah mengajak siapapun ke rumah selain Minjeong dan Gisel. Itu pun hanya untuk bermain atau mengerjakan tugas bersama.
Orang tuanya cukup terbuka soal hubungan remaja, selama tidak mengganggu akademik. Mereka juga tidak menuntut harus selalu menjadi yang terbaik. Bagi mereka, hidup normal dan bahagia sudah lebih dari cukup.
Karena itu, Sunoo tumbuh dengan penuh cinta sebagai anak bungsu yang dimanjakan. Tiga kakak yang usil tapi perhatian, orang tua yang hangat, dan lingkungan yang nyaman membuatnya tidak pernah benar-benar merasa kekurangan sesuatu.
Ia merasa... tidak butuh pasangan.
Namun, jauh di dalam hatinya, ada keinginan kecil yang tidak pernah ia akui dengan lantang.
Ia juga ingin punya seseorang.
"Sunoo."
Suara itu menariknya kembali.
"Sunoo! Kenapa ngelamun?"
Sunoo tersentak, lalu menoleh. "Astaga, Gisel. Kaget aku," katanya sambil mengelus dadanya.
"Udah jam istirahat, loh. Ayo ke kantin. Aku mau beli roti susu. Makanan MBG hari ini ikan lele, amis banget," kata Gisel sambil meringis.
Sunoo langsung ikut meringis. "Ih, seriusan? Males banget. Yaudah, ayo."
Kantin sudah penuh saat mereka sampai. Antrian panjang terlihat di hampir setiap stan, membuat Sunoo langsung kehilangan semangat.
Perutnya lapar—tadi pagi ia tidak sempat sarapan. Tapi melihat kondisi seperti itu, ia justru merasa lemas.
"Aku nggak usah makan deh. Kalian aja," katanya pelan.
"Eh, jangan gitu. Nanti sakit. Kamu punya maag, kan?" Minjeong mengingatkan.
"Iya, nanti kita yang beliin. Kamu duduk aja di sana," tambah Gisel, menunjuk kursi kosong tidak jauh dari mereka.
Sunoo menatap keduanya dengan mata berbinar. "Makasih ya... aku duduk dulu. Udah nggak kuat," katanya sebelum berjalan pelan menjauh.
Ia menjatuhkan dirinya di kursi kosong, lalu menyandarkan kepala di atas meja. Tubuhnya terasa ringan, tapi tidak nyaman. Perutnya mulai memberontak, dan pikirannya terasa campur aduk—lelah, kesal, tapi juga hangat karena perhatian teman-temannya.
"Mau diantar ke UKS?"
Suara itu terdengar dekat. Terlalu dekat.
Sunoo langsung mengangkat kepala, sedikit kaget. Di depannya berdiri seseorang yang tidak ia kenal.
"Eh... nggak kok. Nggak perlu. Aku nggak sakit, cuma belum sarapan aja," jawabnya, masih mencoba memahami situasi.
"Oh."
Jawaban itu singkat. Datar.
Ada jeda setelahnya. Orang itu tampak memperhatikan wajah Sunoo, seolah memastikan sesuatu. Tatapannya tenang, tapi sulit ditebak.
"Ini. Aku punya roti sama susu. Makan."
Sunoo sedikit terkejut. "Eh, nggak usah. Makasih. Teman aku lagi beliin kok... itu di depan," katanya sambil menunjuk ke arah antrian.
"Mereka masih lama. Kalau kelamaan bisa jadi asam lambung."
Nada suaranya tetap tenang, tapi ada ketegasan yang tidak bisa diabaikan.
Sebelum Sunoo sempat menolak lagi, tangannya sudah ditarik pelan. Roti dan susu itu diletakkan begitu saja di atas telapak tangannya.
Tanpa permisi.
Tanpa basa-basi.
Sunoo hanya bisa terdiam, masih memproses apa yang baru saja terjadi. Ia bahkan belum sempat mengucapkan terima kasih saat orang itu sudah berbalik dan berjalan pergi.
Begitu saja.
Meninggalkannya dengan roti dan susu di tangan, serta satu pertanyaan yang tiba-tiba muncul,
Siapa dia?
YOU ARE READING
Easy | YangSun [end]
Fanfiction(short story) Sunoo mencoba iseng mengajak Jungwon, si Ketua Osis yang terkenal karismatik dan perfeksionis itu pacaran. Tanpa ia duga, tiba-tiba saja ajakan itu di terima. "like Damn, I really make it look easy" batin nya dom : jw 😼 sub : sn 🦊...
![Easy | YangSun [end]](https://img.wattpad.com/cover/409641613-64-k986241.jpg)