Suasana pagi itu terlewat seperti rutinitas biasanya tenang, nyaris hampa makna, seakan waktu hanya berputar di lingkaran yang sama tanpa pernah benar-benar bergerak maju. Cahaya putih kebiruan dari lampu laboratorium memantul dingin di setiap permukaan logam dan kaca, menciptakan kesan steril yang menekan, membungkus segalanya dalam keheningan yang terasa hidup untuk disebut sunyi.
Seeky Li tetap bekerja seperti biasanya di dalam lab, langkahnya teratur, geraknya presisi, seolah ia sendiri telah menjadi bagian dari sistem itu sebuah mesin yang bernapas, namun perlahan kehilangan hangatnya sebagai manusia.
Hari itu jadwal pemeriksaan rutin dilakukan, sama seperti hari-hari sebelumnya yang tak pernah ia ingat dengan jelas perbedaannya. Seeky Li yang tengah selesai mencatat hasil pemeriksaannya pada tubuh subject 9900, jemarinya bergerak ringan di atas layar transparan, menuliskan data demi data dengan ketelitian tanpa cela, denyut nadi, respons saraf, fluktuasi energi yang tidak sepenuhnya bisa dijelaskan oleh sains konvensional.
Namun ada sesuatu yang berbeda, sesuatu yang tidak bisa ia kategorikan ke dalam angka atau grafik.
Tiba-tiba Seeky Li tersentak kaget, napasnya tercekat di tenggorokan, seluruh tubuhnya menegang seolah arus listrik halus menjalar di sepanjang tulang belakangnya lantaran subject 9900 - Ocean tiba-tiba memeluknya dari belakang.
Pelukan itu bukan sebuah sentuhan kecil. Ia terasa hidup dengan nafas hangatnya yang menjalar.
Lengan Ocean melingkar perlahan namun pasti, erat, seakan ada kesadaran yang tumbuh di balik eksistensinya yang seharusnya terbatas. Dingin tubuhnya meresap melalui kain lab Seeky Li, namun di saat yang sama, ada kehangatan samar yang mustahil dijelaskan, kontradiksi yang membuat jantung Seeky Li berdegup tak beraturan. Nafas Ocean menyentuh tengkuknya, tipis, nyaris tak terdengar, namun cukup untuk membuat bulu kuduknya berdiri.
Dalam sepersekian detik itu, batas antara ilmuwan dan subjeknya, antara pencipta dan sesuatu yang diciptakannya mulai retak tanpa suara.
Dia tak bergerak selangkahpun dari tempatnya dan membiarkan Ocean melakukan hal yang dia sukai, sebuah pembiaran yang dahulu terasa mustahil bagi dirinya sendiri. Tubuhnya tetap diam, namun bukan lagi karena keterpaksaan, melainkan karena sesuatu yang lebih dalam sesuatu yang ia sendiri enggan akui.
Ocean mengendus leher Seeky Li, perlahan, seakan sedang menghafal setiap fragmen keberadaannya, menghirup aroma sabun mandi yang melekat di kulit tan nya bersih, lembut, kontras dengan dinginnya dunia yang mereka tempati. Nafas itu menyentuh setiap jengkal kulitnya, hangat sekaligus asing, membuat detak jantung Seeky Li semakin sulit dikendalikan, kedua netranya terpejam rapat dengan bibir bawahnya yang tergigit.
Dia mendengarkan nafas dan respon yang Seeky Li berikan, Bahkan tanpa ragu, Ocean meninggalkan jejak merah di sana bekas yang samar namun jelas, seperti tanda kepemilikan yang tak terucap, tertanam di kulit tan Seeky Li. Sensasi itu menjalar, bukan seperti rasa sakit atau geli, melainkan sesuatu yang lebih rumit, sesuatu yang membuatnya memejamkan mata berulang kali lalu tenggelam dalam momen yang seharusnya tidak pernah ia nikmati.
Seeky Li tak lagi melawan seperti dulu. Tidak ada dorongan untuk melepaskan diri, tidak ada perlawanan yang biasanya muncul sebagai refleks. Bahkan dia yang sekarang tanpa sadar, sangat menikmati kasih sayang yang Ocean lakukan padanya. Kasih sayang yang lahir dari sesuatu yang tidak seharusnya memiliki perasaan.
Namun hari itu, nasib buruk tak selalu tercantum pada kalender. Segala sesuatu dalam hidup Seeky Li selalu tersusun rapi, terjadwal, terkendali atau setidaknya itulah yang ia yakini. Meskipun semua jadwal yang Seeky Li miliki selalu tersusun dan konsisten, kunjungan Li Wenlong hari itu datang seperti retakan dalam sistem yang sempurna, sebuah anomali yang tak terdeteksi sebelumnya.
*BLAMM
Pintu itu terbuka lebar tanpa aba-aba, ketika suara desahan Seeky Li lolos tanpa sempat ia tahan. Waktu seakan berhenti dalam satu detik yang memanjang menjadi keabadian yang menyakitkan. Beberapa pasukan humanoid elite segera mengepung mereka dengan gerakan serempak, langkah mereka berat namun nyaris tak bersuara, senjata tertodong ke depan wajahnya dengan presisi yang mematikan.
YOU ARE READING
無心深淵 - JURANG TANPA HATI (XINGQIU - JIANGLI)
Fanfiction⚠️. DISCLAIMER BOYSLOVE STORY FANFICTION, BILA TIDAK SUKA BOLEH DI SKIPP YA. JUDUL : 無心深淵 - JURANG TANPA HATI. (XINGQIU - JIANGLI) RATED : 18+ GENRE : FANFICTION, ROMANCE, SCI-FI, SUPRANATURAL. AUTHOR BY : OSHIN_LUNE 🧊✨ UPDATE : TIAP SABTU ✅ JANGAN...
