0. ⋆˚ Hush ˚⋆

0 0 0
                                        


✧..
✧....
✧......
✧........
✧..........
✧............
✧..............
✧................
✧..................
✧....................
✧......................
✧........................
✧..........................
✧............................
✧..............................
✧................................
✧..................................
✧....................................
✧......................................
✧.......................................
✧.........................................
✧...........................................
✧.............................................
✧...............................................
✧.................................................
✧...................................................
✧.....................................................
✧.......................................................
✧.........................................................




"Tuan Alpheus. Menurutmu, apakah merasa hampa itu sebuah dosa,
atau hanya cara paling bodoh untuk tetap bertahan?"










Pertanyaan itu kembali terucap dari memori Tuan Muda Duke Alpheus - Ijekiel Alpheus. Sudah 3 tahun berlalu sejak Ijekiel mendengar suara itu, suara yang lembut, penuh ingin tahu dan seolah tersenyum padanya itu.



Sudah 3 tahun dia tidak mendengar suara manis itu.



Sudah 3 tahun dia tidak melihat rambut bergelombang berwarna coklat keemasan seperti gandum saat matahari terbenam itu.



Sudah 3 tahun dia tidak menatap mata hazel yang berubah antara cokelat tua dan hijau muda, seolah menyimpan dua musim sekaligus itu.



Seraphina Anthea Elowen.



Dia merindukannya.



Namun sekarang, pria bersurai putih itu hanya bisa menghela napas sambil meminum teh yang sudah dingin sejak sepuluh menit lalu di taman keluarga Alpheus yang penuh bunga indah namun tidak menarik baginya.



Tangannya menyentuh bros berbentuk bunga-bunga kecil berwarna biru muda keunguan yang tersusun rapi. Ibu jarinya menelusuri setiap bentuk dan pola dari bunga tersebut.



Bunga Hydrangea.



Dia bahkan baru mengetahui namanya saat berumur sepuluh tahun.



Seorang gadis muda yang memberitahu nya nama bunga itu.



"Bunga ini bernama Hydrangea. Dalam bahasa bunga, artinya ketulusan, rasa syukur, keanggunan dan kelimpahan."



"Terlalu banyak untuk satu bunga rapuh yang indah ini, bukan?"



Dia bahkan tidak tahu kenapa ingatan itu masih bertahan begitu lama dalam kepalanya.



Kenapa memori itu hanya mengingat suaranya, tanpa wajah dan mulut yang mengucapkannya?



Tapi dia tahu, semenjak saat itu, bunga hydrangea selalu berbeda.



Tangannya yang memegang bros itu dia dekatkan ke wajahnya, hingga bibirnya menyentuh bunga hydrangea tersebut.



Aku akan menunggumu, Nona Bunga.



Hydrangea.



—————————————————————



"Tuan Lucas. Menurutmu, apakah merasa hampa itu sebuah dosa,
atau hanya cara paling bodoh untuk tetap bertahan?"










Suara itu tiba-tiba muncul diantara hiruk pikuk pasar yang sedang sibuk di siang hari.



Bagaimana bisa?



Wanita yang mengucapkannya bahkan tidak ada di sini.



Pria bersurai hitam bermata merah tersebut terdiam sejenak, pertanyaan itu terus terulang di kepalanya akhir-akhir ini.



Hal yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Sebagai penyihir terkuat, dia selalu menganggap perkataan orang lain sebagai angin lewat saja.



Apalagi pertanyaan aneh seperti itu.



Dan saat fokusnya kembali ke dunia nyata, berusaha menghilangkan pertanyaan itu dari pikirannya, pandangannya jatuh ke kios buah-buahan.


Ada banyak jenis buah, dengan berbagai warna dan bentuk. Lucas yang dulu mungkin akan menghiraukannya.



Tapi ini Lucas yang sekarang.



Dia akhirnya mendekati kios itu, melihat- lihat berbagai pilihan buah yang ada.



"—Melambangkan kedamaian, keharmonisan, umur panjang dan keberuntungan."



"Semua yang diinginkan manusia, tepatnya."



Dia membeku sejenak lalu memilih dan membeli beberapa apel merah. Menyodorkan beberapa koin pada wanita tua penjual kios kecil tersebut.



Dengan koin asli.



Yang juga aneh.



Dia bahkan bisa membuat jutaan koin sendiri menggunakan sihir.


Mengapa harus koin asli?



Namun dia menyerah dengan pikirannya sendiri, lalu pergi dengan satu pikiran yang menggantikan semua pikiran yang mengganggunya dari tadi, pikiran yang membuat sudut bibirnya tanpa sadar bergerak sedikit ke atas.



Dia pasti akan menyukainya.




Apel.



—————————————————————



"Wajahnya cantik, tubuhnya bagus, keluarganya kaya dan terhormat. Hidupnya terlalu sempurna!"



"Anak kedua yang tidak perlu memikirkan posisi penerus di keluarganya."



"Jenius dalam segala bidang, mungkin bakatnya sejak lahir. Dia bahkan tidak perlu belajar."



"Dia hanya perlu duduk manis sepanjang hidupnya. Ini tidak adil."



"Tumbuh hingga umur 17 tahun dan menghabiskan sisa hidupnya dengan menikah dengan bangsawan terhormat, dia bahkan tidak perlu memikirkan masa depannya dengan susah payah."



"Sungguh gadis yang sangat beruntung."



"Aku iri padanya."



Ucapan-ucapan semua bangsawan setiap mendengar nama Seraphina Anthea Elowen.



Semua orang menginginkan kehidupannya, termasuk Seraphina sendiri.




Dulunya.

The Art of Being Fine Stories to obsess over. Discover now