Pagi di kota metropolitan ini selalu dimulai dengan kesibukan yang menyesakkan. Klakson kendaraan yang saling bersahutan dan langkah kaki terburu-buru para pekerja kantoran adalah melodi harian yang membosankan.
Namun, di sudut jalan kecil yang sedikit tersembunyi dari hiruk-pikuk jalan utama, terdapat sebuah toko bunga kecil bernama "The Wilted Rose".
Felicia sedang sibuk memangkas duri-duri dari batang mawar merah ketika lonceng di atas pintu berdenting. Ia tidak segera mendongak, jemarinya yang terampil masih fokus pada kelopak bunga yang sedikit layu.
"Selamat datang di The Wilted Rose. Ada yang bisa saya bantu?" sapa Felicia dengan suara lembut yang menjadi ciri khasnya.
Tidak ada jawaban. Sunyi yang janggal itu membuat Felicia akhirnya mengangkat wajah. Di ambang pintu, berdiri seorang pria dengan setelan jas hitam yang tampak sangat mahal namun berantakan.
Dasinya longgar, rambutnya yang tertata rapi kini sedikit kusut, dan yang paling mencolok adalah tatapan matanya.
Mata itu dingin, tajam, namun menyimpan kelelahan yang luar biasa.
🥀🥀🥀
Pria itu adalah Daren Raymond.
Seseorang yang biasanya hanya bisa dilihat di sampul majalah bisnis atau di balik podium konferensi pers.
Daren tidak segera mendekat.
Ia hanya berdiri di sana, menghirup aroma tanah basah dan kesegaran bunga yang memenuhi ruangan kecil itu.
Baginya, toko ini terlalu sempit, terlalu terang, dan terlalu ... damai.
Berbanding terbalik dengan kepalanya yang baru saja hampir meledak karena kegagalan akuisisi saham dan pengkhianatan orang kepercayaan di kantor.
"Toko ini hampir tutup," suara Daren terdengar berat dan serak.
Ia menatap papan 'Closed' yang sebenarnya sudah ingin dibalik oleh Felicia lima menit yang lalu.
Felicia tersenyum tipis, tetap bersahabat meskipun pria di hadapannya memancarkan aura yang sangat tidak bersahabat.
"Secara teknis, iya. Tapi jika Anda membutuhkan sesuatu yang mendesak, saya masih di sini." Daren berjalan mendekat ke arah meja pajangan.
Langkah sepatunya yang berat beradu dengan lantai kayu, menciptakan bunyi berderit yang kontras dengan suasana tenang di sana.
Ia menunjuk secara acak pada seikat bunga Lily yang mulai layu di pojok ruangan-bunga yang sengaja dipisahkan Felicia untuk dirawat kembali.
"Mengapa anda masih menyimpan bunga yang mati itu? Lebih baik anda buang saja. Itu bisa merusak pemandangan," ujar Daren sinis.
Felicia terdiam sejenak, lalu menatap bunga Lily itu dengan tatapan hangat.
"Bunga itu tidak mati, Tuan. Ia hanya layu karena kekurangan perhatian. Dengan sedikit air, cahaya yang cukup, dan kesabaran, ia akan mekar kembali lebih indah dari sebelumnya."
Daren mendengus remeh. "Kau ini terlalu puitis untuk seorang penjual bunga. Sesuatu yang sudah rusak tidak akan pernah bisa kembali seperti semula. Itu sudah menjadi hukum alam."
"Mungkin bagi Anda, bisnis adalah tentang hasil akhir yang sempurna. Tapi bagi saya, kehidupan adalah tentang proses pemulihan," balas Felicia tenang.
Ia kemudian mengambil sebuah mawar putih yang masih segar dan mengulurkannya pada Daren.
"Anda terlihat seperti seseorang yang baru saja kehilangan arah. Mungkin bunga ini bisa membantu menenangkan pikiran Anda." Daren menatap mawar itu seolah-olah itu adalah benda asing yang berbahaya.
