001.

2K 76 17
                                        

Kata orang, hidup itu gampang.
Kata orang, jadi dewasa itu enak. Punya duit, punya rumah, karir jelas, istri cantik.
Huh?
F*ck that shit.
Hidup lo ga segampang itu.

"Niko! Meja 3!" Namanya Ribka. Yap, ini emaknya Niko. Masih muda, masih cantik, dan yang terpentingnya lagi, dia cinta keluarga. Umurnya baru menjelang 46, tapi parasnya sudah overlap dari umurnya.

Tanpa banyak bicara, Niko dengan gesit membawa pesanan yang ada di dalam semangkuk lengkap batagor ini ke mereka yang memesan. porsinya melimpah, harga murah meriah. Nama kedai 'Batagor Racunlidah' sempat jadi perdebatan, namun dipilih karena filosofisnya yang mengartikan cita rasa nikmat yang akan menjadi racun sehat di lidah para penciptanya.

Well.. ini bisa dibilang lebih dari kata achievement untuk bisa memiliki lebih dari 3 cabang di seluruh Jakarta. Dulu cuma satu, sekitar Jakarta Selatan. Sekarang tersebar ke Bekasi dan Jakarta Barat. Beruntung, aku bekerja di cabang pusatnya. Bukan di Bekasi atau yang di Jakbar.

"Niko! Meja 5, 4 rapiin! Itu yang nunggu di luar buruan suruh masuk" tidak membentak, tapi juga tidak terlalu lembut. Emak gua orang yang kalem.

Aku bergegas merapikan meja nomor 5 dan 4 dengan bermodalkan sapu tangan dan spray pembersih meja. Memang bersih hasilnya, karena ajaran simpel ini juga diajarkan oleh kedua emak bapak gue.

"Mas, masuk mas. Sini saya antar" aku menjemput 3 orang pembeli yang rela antri di depan toko ke dalam. Satu orang satu meja, dua orang satu meja.

Selama gua kerja sama orang tua gua sendiri, kedai ini mayoritas pembelinya ada di usia milenial sampai ke gen-z. Bahkan, yang kalangan lanjut usia hingga paruh baya pun juga ada.

"Niko, those on table 6, he'd want to pay. Buruan kesana!" Kalo ini bapak gua. Biasa temen-temennya manggil dia dengan 'Jo'.

Kalo kalian penasaran kenapa dia pake bahasa inggris? Well, dulu dia jago bahasa inggris. Sangking jagonya, conversation awal yang harusnya basic aja jadi ikutan inggris. Ngobrol santai pun dia bisa juga bahasa lidah. Tapi pernah gua tanya sih kenapa, dia lebih prefer bahasa inggris.

Di keluarga gua, gaada anak yang lebih bungsu lagi. Cuma gua. Ya gimana ya---- antara malas bikin lagi apa emang prinsipnya ngikutin prinsip orang Tionghoa lama. Anak jangan banyak-banyak. Tapi kalo soal duit, boleh.

Rada capek emang kalo udah kerja sama emak bapak gua ini ya. Soalnya ini kedai gila ramai terus, kayak gaada sepi-sepinya. Entah apa peletnya yang dipake. Atau emang emak gua yang jadi peletnya. Entahlah.

Sekarang jam 2 siang menuju sore. Gua masih berpakaian seragam SMA----belum gua ganti sampe sekarang. Bau? Iya. Males ganti? Iya juga.

Dan meskipun udah jam 2 sore, ini kedai mulai agak sepi. Tapi bukan sepi kayak warung tetangga kasih naik itu harga barang tiba-tiba. lebih ke sepi yang gradual / perlahan ramai menuju sepi. Pelan-pelan 1 orang, 2 orang pulang. Kadang 3 orang pulang, gaada yang nunggu di luar. Tapi kalo menurut sepengamatan kerja gua, emang jam segini rada krusial. Soalnya puncak ramai kedai gua itu predictable. Di antara jam sarapan, makan siang, itu udah titik balik yang pasti bakalan ramai. Siklus begini udah dipelajari sejak 8 hingga 12 tahun lalu, menurut bapak gue.

..

Agak sorean ini, akhirnya gua bisa bernafas lega. Biarpun sebentar, paling engga cocok buat istirahat makan atau minum singkat. Emak bapak gua duduk di dekat meja paling depan----dekat dapur masaknya. Gua di belakangnya sibuk makan, sembari main hp.

"Niko?"

"Hm?" Gua nyahut singkat.

"Mandi dulu sana. Lu bau bet dah" kata emak gua menoleh ke belakang, sambil dagunya naik nunjuk ke arah kamar mandi di belakang.

"Bentaran lagi deh, mah. Makanan gua belum abis nih.."

"Sekarang, Niko. Sekarang. Ga tahan mami cium bau badan kamu.."

"Ih. Entaran aja dah! Tanggung ini lagi liatin live Valve Major Championship nih mah.."

Dia natap gua bentar. Matanya langsung ke mata gua, disaat gua fokusnya lagi ke hape gua sendiri.

"Niko." Katanya singkat, tapi intimidatif.

"Ck, iya-iya!" Gua buru-buru selesain makanan gua, terus cuci lalu pergi mandi.

Ini kalo kata emak gua ga gua jalanin, hape gua bisa disita seminggu. Mending gua ikutin dah apa katanya. Ngeri emang didikan Jepang Fasis ini.

Bapak gua noleh sesaat gua udah di koridor rumah----jalan ke arah kamar mandi belakang. Dia cuma natap punggung gua yang mulai luntang-lantung kayak kecapekan yang butuh istirahat dikit.

"Riby." Ia panggil istrinya sendiri.

"Yes?"

"Lu terlalu keras ga sih sama Niko?"

Dia diam sejenak, berpikir secara logika.

"I dont. Itu sah-sah aja sih yang. Aku ga ngebentak dia, ga mukul dia kok. Everything is fine, babe"

"Tapi kesannya nada kamu tadi agak intimidatif, Rib"

"Halah babe.. jangan terlalu lembut sama anak napa? Dia makin dilembutin, gaada jantan-jantannya nanti pas gede. Udah, gapapa. Emang udah seharusnya gua bikin dia jadi beneran laki.." kata Riby menyeka keringatnya sendiri.

"Laki-laki emang hidup buat digituin. Itu fakta babe. Kamu dulu juga aku temenin dari umur 19 pun gitu juga. Ya kan?"

Bapak gua diem sambil merenung.
Ada benernya juga. Semasa bapak gua kerja di tahun-tahun awal, emak gua lebih galak daripada bapak gua sendiri. Padahal mukanya brewokan, kumis tebel. Kalah sama yang bawa daster sama apron.

"Iya juga ya.."

"I'm not exaggerating things. Gua bicara fakta kok, babe. Dulu kamu kerja aja kamu kurang lincah aku marahin. Hahaha" ia terkekeh pelan.

"Tapi sekarang mau gua kurangin dah. Gua agak merasa bersalah aja dulu gua bentak-bentak Niko waktu masih kecil. Sekarang sifatnya yang agak membangkang masih ada.."

"Makanya gua bilang apa, kan? Kamu terlalu keras sama dia, By"

"I know.. tapi gua gamau dia jadi cowo lembek menye-menye gitu. Gua takut dia gabisa jadi orang, yang. Takut di society-nya, dia ga berguna.."

"Aku tahu kok.." bapak gua senyum tipis.

Emak gua bales dengan hal yang sama. Ia senyum tipis sambil megang pundak kanan bapak gua sendiri.

"Sayang paham maksud aku, kan?"

Bapak gua ngangguk pelan.

"Good."

Meskipun emak gua jauh lebih tegas daripada bapak gua sendiri, tapi hasilnya mulai terasa. Dulu gua dikatain yang carut sama emak gua. Takut? Iya. Tapi makin gede, gua makin paham. Bahwasanya hidup itu gabisa lu lembekin. Lu lembek, lu digoblokin orang. Lu capek ya kerja. Lu miskin karena lu ga punya skill.

-T

.

Bersambung. . . . .

Batagor (Reborn Remake 2026)Stories to obsess over. Discover now