Senin selalu punya cara sendiri untuk menjadi hari yang paling tidak diinginkan. Bagi kebanyakan siswa di SMA Pelita, Senin berarti upacara bendera, panas yang menyengat, dan omelan guru kesiswaan tentang kaos kaki yang kurang tinggi satu senti.
Termasuk bagiku, Pharita Cenayu Anggala.
Aku berdiri di barisan kelas 11-A, mencoba menghalau sinar matahari dengan telapak tangan yang nggak seberapa lebar. Di depanku, barisan punggung teman-temanku sudah mulai basah oleh keringat. Aku baru saja ingin mengeluh dalam hati, sampai Pak Kepala sekolah naik ke podium dan mengumumkan sesuatu yang sedikit berbeda hari ini.
"Anak-anak, selama empat puluh hari ke depan, sekolah kita akan kedatangan kakak-kakak mahasiswa dari Universitas Negeri yang akan melaksanakan program KKN. Mereka akan membantu dalam pengembangan fasilitas sekolah dan kegiatan belajar mengajar. Mari kita sambut dengan baik."
Lalu, serombongan orang dengan jaket almamater berwarna biru tua berjalan menuju depan lapangan. Di tengah keriuhan bisikan teman-temanku---yang mayoritas cewek-cewek mulai sibuk ngerapiin poni---mataku justru terpaku pada satu orang.
Dia berdiri paling ujung. Tidak terlalu tinggi, tapi posturnya tegak dan tenang. Saat teman-temannya yang lain sibuk memperbaiki posisi kerah atau sekadar celingukan canggung ke arah ribuan siswa, dia cuma menunduk sedikit, lalu menatap lurus ke depan dengan binar mata yang... sejuk. Kayak baru saja menemukan air di tengah padang gurun lapangan upacara ini.
"Itu Kak Ruka, ya?" bisik Asa, temanku di sebelah. "Katanya dia ketua kelompoknya. Anak Arsitek, lho."
Mahasagara Ruka.
Nama itu disebutkan saat satu per satu dari mereka memperkenalkan diri. Suaranya rendah, tidak dibuat-buat berwibawa, tapi entah kenapa setiap kata yang keluar dari mik yang sedikit cempreng itu terdengar sangat jelas di telingaku. Dia tidak bicara banyak, cuma salam, nama, jurusan, dan kalimat penutup: "Mohon bantuannya, ya."
Hanya itu. Tapi bagi Pharita yang baru berusia tujuh belas tahun, itu adalah awal dari kekacauan detak jantung yang paling sopan yang pernah ada.
♡♡♡♡
Upacara selesai, tapi kerumunan tidak langsung bubar. Koridor sekolah mendadak jadi lebih ramai dari biasanya. Kakak-kakak KKN itu langsung diarahkan ke ruang multimedia yang dijadikan basecamp sementara mereka.
Aku, yang kebetulan menjabat sebagai sekretaris OSIS, punya tugas yang sebenarnya cukup menyebalkan hari ini: mengantarkan daftar inventaris ruang multimedia dan kunci tambahan.
Aku berdiri di depan pintu ruang multimedia selama tiga menit. Cuma berdiri. Aku merapikan seragamku yang sedikit kusut, memastikan rambut kuncir kudaku tidak berantakan. Aku merasa konyol. Kenapa juga aku harus serapi ini cuma buat kasih kunci?
Tok, tok.
"Permisi..."
Pintu terbuka. Bukan Ruka yang membukanya, tapi seorang kakak perempuan berambut pendek yang tersenyum ramah. "Eh, iya? Ada yang bisa dibantu, Dek?"
"Ini, Kak... mau kasih kunci ruangan sama daftar inventaris meja-kursi ruang multimedia," jawabku sambil menyerahkan map plastik.
"Oh, oke. Masuk dulu aja, Dek. Sini, tanda tangan serah terimanya sama ketua kelompok kita. Ruka! Ini ada anak OSIS," panggil kakak itu.
Aku masuk dengan ragu. Ruangan yang biasanya bau debu dan pengap itu sekarang beraroma kopi dan kertas. Di salah satu meja panjang di pojok, Ruka sedang duduk. Di depannya ada gulungan kertas besar---yang kutahu kemudian adalah denah lahan belakang sekolah---dan sebuah meteran kuning yang masih melingkar di tangannya.
YOU ARE READING
Sketsa🔚
RomanceAda orang-orang yang datang ke hidup kita bukan untuk menetap, tapi untuk memperbaiki apa yang rusak, lalu pergi setelah semuanya rapi. Bagi Pharita Cenayu Anggala, orang itu bernama Mahasagara Ruka. Ruka datang bersama rombongan mahasiswa KKN lainn...
