Pertemuan di Waktu yang Salah

8 1 0
                                        

Junwei Halim Pradana adalah tipe orang yang tidak pernah kehabisan cara untuk mengisi waktunya. Sebagai anak seorang pebisnis, kadang ia ikut membantu di kantor ayahnya, kadang juga menghilang begitu saja hanya untuk mencari suasana baru. Hidupnya fleksibel, terlalu fleksibel malah. Sampai suatu hari, karena tidak enakan dan sedikit terbawa suasana, ia ikut ajakan teman-temannya untuk naik gunung.

Masalahnya, ia tidak punya persiapan apa pun. Bahkan sepatu yang layak untuk dipakai mendaki pun tidak ada. Akhirnya mereka memutuskan untuk mampir ke sebuah toko peralatan outdoor yang tidak terlalu besar, tapi cukup lengkap.

Awalnya, Junwei mengira itu hanya toko biasa. Sampai perhatiannya berhenti pada satu sosok di balik meja kasir. Nama tag nya bertuliskan, Nayra Asvara.

Ia pertama kali memperhatikan perempuan itu bukan saat dilayani, melainkan ketika Nayra sedang menjelaskan produk kepada salah satu temannya. Cara bicaranya santai, jelas, dan langsung ke inti. Tidak ada nada manis yang dibuat-buat, tidak ada senyum berlebihan yang dipaksakan. Semuanya terasa seperlunya, tapi justru itu yang membuatnya berbeda.

Nayra tidak banyak tersenyum. Kalaupun iya, hanya sebentar, tipis, dan terasa profesional. Di tengah toko yang cukup ramai, ia tetap terlihat tenang, seolah tidak ada yang benar-benar bisa mengganggu ritmenya.

Padahal, kenyataannya jauh dari itu.

Di rumah, suara orang tuanya lebih sering diisi pertengkaran daripada percakapan biasa. Dan di luar itu, ada satu hal yang terus berputar di kepalanya pacarnya. Kabar tentang perselingkuhan itu belum pernah benar-benar terbukti. Tidak ada sesuatu yang bisa ia pegang untuk memastikan semuanya nyata. Tapi justru itu yang membuat pikirannya tidak pernah tenang.

Hal-hal yang tidak pasti seringkali lebih berisik di kepala.

Namun Nayra tidak menunjukkan apa pun. Ia tetap bekerja seperti biasa, tetap menjadi dirinya yang terlihat tidak terganggu. Seolah semua baik-baik saja, padahal pelan-pelan semuanya menumpuk.

Dan entah kenapa, dari sekian banyak tempat yang bisa Junwei datangi hari itu, ia harus bertemu Nayra di saat hidup perempuan itu sedang berantakan.

Junwei atau yang lebih sering dipanggil Junha sengaja mendekat ke meja kasir. Di tangannya, ia membawa sepasang sepatu gunung ukuran 40. Langkahnya santai, sampai akhirnya berhenti di depan Nayra yang sedang sibuk menulis sesuatu di buku. Rambut perempuan itu terurai, sebagian diselipkan ke telinga.

 Rambut perempuan itu terurai, sebagian diselipkan ke telinga

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

Tanpa banyak basa-basi, Junha menyodorkan sepatu itu. "Mbak, ada size 45 untuk sepatu ini?"

Nayra melirik label sepatu itu sekilas. Size 40. Alisnya naik sedikit sebelum ia mengangkat pandangan, menelusuri tinggi badan Junha hingga akhirnya bertemu dengan wajahnya. Ekspresinya tetap datar, tenang, tidak ada kesan jutek, tapi juga tidak berusaha terlihat ramah.

"Maaf, kak. Untuk jenis ini stoknya mentok di size 42. Kalau kakak mau, bisa nunggu beberapa hari. Nanti kami coba sediakan size 45," ucapnya dengan nada yang jelas dan rapi.

Harga Sebuah KepercayaanStories to obsess over. Discover now