Rezki melamun di kursi depan rumahnya, menyesap dalam sebatang rokok lintingan yang tinggal setengah. Asap rokok mengepul di udara, saat hembusan napas kasar keluar dari mulut Rezki. Dalam benaknya selalu memikirkan hal-hal yang membuat kepalanya semakin terasa pening. Tepukan lembut terasa di bahunya. Ia menoleh, mendapati bapaknya yang menyapa dengan senyuman hangat.
"Ngelamun opo, Le?" tanya pria paruh baya itu, kakinya melangkah memutari kursi, lalu duduk di samping putranya.
"Ndak ada, Pak," jawab Rezki menggeleng, helaan napas kasar keluar begitu saja dari mulutnya.
"Kepikiran kerjaan tah?" tanya pak Bejo lagi.
Rezki terdiam sejenak, mengatur beberapa kali ketukan napas sembari menimbang-nimbang jawaban. "Iya, Pak," katanya ragu.
"Yowalah, seng sabar yo, Lee. Mungkin Gusti Allah isih nggolekake gawean sing cocok nggo kowe, ( Owalah, yang sabar ya, Nak. Mungkin Allah masih carikan pekerjaan yang cocok buat kamu)," kata pak Bejo, menepuk-nepuk punggung Rezki. "Kuncine sabar karo ikhtiar. (Kuncinya sabar dan ikhtiar)"
"Iyo, Pak, Rezki juga wes sabar poll iki. (Iya, Pak, Rezki juga sudah sangat sabar ini). Cuma yo mungkin memang belum rezeki saja," balas Rezki, "padahal jenengku Rezki yo, Pak, artine rezeki. Tapi yo mboh, kok jarang banget entok rezeki lho, (padahal namaku Rezki ya, Pak, artinya rezeki. Tapi ya tidak tahu, kok jarang sekali dapat rezeki lho)," lanjut Rezki dengan candaan recehnya, berusaha menghibur dirinya sendiri.
"Yowes Lee, bapak ke ladang dulu," pak Bejo beranjak berdiri, mengambil cangkul di samping rumah. Sebelum benar-benar melenggang pergi, pak Bejo menghentikan langkahnya sejenak di samping Rezki. Tangan keriput dan kasarnya menepuk-nepuk bahu putranya. "Semangat, yo, Lee. Jalan masih panjang, bapak bakal selalu dukung kamu dari belakang." Setelah berucap dan tersenyum, pak Bejo melanjutkan langkahnya. Tubuh tuanya menaiki sepedah ontel, mengayuhnya secara perlahan.
Dalam hatinya Rezki merutuki nasibnya yang belum bisa membahagiakan satu-satunya orang tua yang ia miliki.
Saat ini bukan saatnya untuk merutuki nasib, kini saatnya ia harus bangkit dan lebih berusaha lagi dari sebelumnya.
Tekadnya sudah bulat, kali ini ia harus benar-benar mendapatkan pekerjaan tetap, bukan hanya pekerjaan serabutan yang ia kerjaan seperti hari-haru sebelumnya.
Rezki bangkit, menarik napas dalam, kakinya melangkah tegas masuk ke dalam rumah. Ia mengambil topi hitam yang tergantung di paku yang tertancap di balik daun pintu kamarnya.
Kali ini ia akan mencari beberapa pekerjaan serabutan dahulu sambil mencari beberapa info lowongan pekerjaan
#eventfaza #day01 #petualangankaryS3 #fazacitraproduction
YOU ARE READING
Bisikan di Tengah Perjalanan
HorrorSetiap pekerjaan pasti memiliki resiko masing-masing.
