Aku merasa kurang pas buat ini jadi harus ku buat ulang ~~~
-------------
Salju tipis bulan November mulai turun membungkus atap-atap bangunan tua di kota Zürich.
Angin musim dingin berembus kencang, menembus mantel wol tebal yang membungkus tubuh Dunk.
Langkah kakinya terdengar samar di atas trotoar yang mulai membeku, bergegas menuju halte trem.
Di genggamannya, sebuah cangkir kopi kertas sudah kehilangan kehangatannya, berubah sedingin udara di sekitarnya.
Dunk menghentikan langkah sejenak, memandang pantulan dirinya di jendela kaca sebuah kafe yang ramai oleh obrolan warga lokal.
Ia menatap kosong pada kerumunan orang asing di dalam sana, menyadari betapa kontrasnya kehangatan tempat itu dengan dingin yang ia rasakan.
Gedung University of Zurich berdiri megah di seberang jalan, menjadi saksi isu perjuangan barunya di tanah Eropa.
Sebagai seorang anak yatim piatu yang tumbuh besar di sebuah panti asuhan sederhana di Bangkok, bisa menginjakkan kaki di Swiss rasanya seperti sebuah keajaiban yang tidak nyata.
Statusnya sebagai satu-satunya mahasiswa asal Thailand yang menerima beasiswa penuh dari Universitas Chulalongkorn untuk program Magister Ilmu Komunikasi di sini membuat beban di pundaknya terasa berkali-kali lipat lebih nyata.
Ia merapatkan syal rajutan di lehernya, mencoba mengusir rasa asing yang terus menggelayuti hatinya sejak tiba tiga bulan lalu.
Sambil berjalan pelan menaiki tangga kampus, ia memeluk erat diktat kuliah tebal mengenai teori komunikasi massa global.
Di koridor kampus yang sepi dan berbau kayu tua, Dunk berjalan sendirian menuju ruang kuliahnya di lantai dua.
Dunk menghela napas panjang hingga embusan napasnya membentuk kabut tipis di udara.
'Aku bahkan tidak tahu apakah keputusan mengambil beasiswa S2 ke Swiss ini sudah benar atau belum.'
Ia membuka pintu ruang kelas yang masih kosong, lalu memilih duduk di barisan paling belakang dekat jendela.
Ponselnya di atas meja tiba-tiba bergetar, menampilkan sebuah notifikasi panggilan video dari rumah satu-satunya yang ia miliki di Thailand.
Dunk segera menggeser layar ponselnya, mencoba mengulas senyum terbaik agar wajah lelahnya tidak kentara di depan dua orang paling berharga dalam hidupnya.
"Halo, Ibu Panti! Halo, Fourth! Iya, di sini baru mau mulai kelas pagi," sapa Dunk, berusaha membuat suaranya terdengar seceria mungkin.
Dari seberang telepon, wajah hangat ibu panti yang mengasuhnya sejak kecil muncul di layar, didampingi oleh Fourth, anak panti asuhan yang sudah ia anggap seperti adik kandungnya sendiri.
"Bagaimana kuliahmu di sana, Nak? Apa udaranya sangat dingin? Jangan lupa selalu pakai jaket tebal yang Ibu belikan sebelum kamu berangkat, ya," ujar Ibu Panti dengan suara lembut yang seketika meruntuhkan dinding pertahanan Dunk.
Fourth langsung menyela dari samping dengan wajah bersemangat, merangsek mendekati kamera ponsel.
"Phi Dunk! Jangan lupa makan yang banyak! Panti sepi sekali sejak Kakak pergi ke Swiss, tidak ada lagi yang mau menemaniku begadang main game!" seru Fourth sambil mengerucutkan bibirnya.
Dunk terkekeh pelan, menyentuh syal di lehernya untuk meyakinkan dua orang yang teramat ia rindukan itu.
"Sudah Dunk pakai kok, Bu. Fourth, kamu jangan nakal ya di sana, bantu Ibu jaga adik-adik yang lain."
ŞİMDİ OKUDUĞUN
No More Friend
Hayran KurguDetail on below JoongDunk + Mpreg 🔞🔞🔞🔞🔞🔞 Update Tiap Mood Jam 20.00 PM WIB Bab coming soon info Tokoh Joong Archen Aydin Dunk Natachai Boonprasert Gemini Norawit Titicharoenrak Fourth Nattawat Jirochtiku
