Derap langkah kaki Nada ikut mengisi koridor gedung yang sedikit ramai. Ia tergesa-gesa dengan sekotak instrumen di punggungnya. Kurang satu putaran tangga lagi dan kemudian ia mencapai lantai 3, ruang studio musik tempatnya berlatih sore ini. Sudah ada beberapa butir peluh di dahinya ketika ia sampai di depan ruangan, mengembuskan napas, kemudian menarik gagang pintu dan melihat sesosok laki-laki yang tersenyum sinis di balik grand piano hitam.
"Telat sepuluh menit, Kak." Suara Gabriel yang terkesan agak kesal itu menambah ketegangan Nada.
Nada menarik napasnya dan lagi-lagi mengembuskannya dengan cukup keras. "Yaudah deh, sori ... Udah lama?"
"Yah ... sepuluh menit sebelum jam 3. Habis matkul langsung ke sini."
"Sori yaa, Gaby, aku habis panggilan alam tadi di kos, hehe."
"Udah agak terbiasa sih sama jam karetmu itu, Nad. Cepet dibuka itu violin!"
"Iya, iyaa ..." Dengan bersungut-sungut Nada membuka case violinnya itu dan mulai disetel sesuai dengan kebutuhannya kali ini.
Alya Nadira atau Nada, perempuan dengan tinggi pas-pasan dengan rambutnya yang dicepol ini seorang mahasiswi tingkat akhir yang dipercaya oleh dosen untuk tampil pada sebuah acara penting di kampus. Oleh karenanya, ia butuh seorang pianis untuk mengiringi penampilannya itu. Namun, karena tidak ada pianis yang saat ini sedang ready, dosennya menyarankan agar berpasangan dengan Gabriel Putra, atau akrab dipanggil Gaby. Gabriel sendiri bukan seorang pianis yang profesional, ia masih student, tetapi cara belajarnya yang cepat membuat beberapa orang percaya pada kemampuannya.
"Mainnya yang tebel dong bagian ini, tipis banget kayak baru belajar." Gabriel sedikit memaki Nada yang mana saat memainkan bagian tertentu tidak cocok di hati Gabriel.
"AC-nya ini terlalu dingin, Gab, ntar aku tinggiin dulu derajatnya." Dengan bersungut-sungut lagi, Nada berbalik, melangkah ke arah kontrol AC yang berada di dinding.
"Disuruh apa, jawabnya apa."
"Ya kan karena kedinginan, jadi ga fokus aku."
"Malah nyalahin keadaan."
"Yauda sih, dasar ga punya hati."
"Emang."
Begitulah percakapan Nada dan Gabriel yang terkesan seperti bermusuhan, tetapi pada dasarnya mereka bukan musuh melainkan teman yang langsung akrab ketika selera musik, hobi, dan topik obrolan yang nyambung satu sama lain. Seperti itulah pertemanan yang semakin akrab, semakin tidak ada rasa sungkan untuk saling mengolok.
Hari ini adalah minggu keempat mereka berlatih bersama. Satu minggu lagi acara yang melibatkan mereka berdua berlangsung. Namun, Nada belum bisa memainkan dengan benar pada satu bagian lagu yang dirasa baginya cukup sulit. Gabriel sering memarahinya, begitu pula Nada yang selalu merengut setiap kali hal ini terjadi.
"Mangkanya kalau latihan yang bener," ucap Gabriel.
"Udah bener kok, pas dibarengin sama piano aja jadi berantakan."
"Bilang aja ga serius latihan."
Nada tak lagi membalas perkataan dia, hanya menatap sinis kemudian melanjutkan membenahi bagian yang sulit itu. Sementara itu di tengah alunan violin, hanya tersisa tatapan Gabriel yang intens pada Nada sehingga ia lupa untuk menekan beberapa tuts untuk melanjutkan lagunya.
Mahasiswa yang mendapatkan reputasi "pianis tanpa hati" kini dipegang oleh Gabriel. Ia tidak hanya bersikap dingin kepada orang yang tidak akrab dengannya, tetapi juga tidak memiliki rem untuk menghujat perilaku atau perkataan orang yang tidak disukai. Gabriel juga orang yang memiliki tingkat emosional meledak-ledak. Dia bisa menghujat orang yang tidak disukai di depannya langsung, hal ini kerap membuat teman-temannya malu. Sudah dinasehati tetap saja sama dan malah membela diri.
ESTÁS LEYENDO
Sisa Melodi
RomanceBagi Gabriel, piano adalah tentang ketepatan. Namun, saat Nada mulai mengalunkan melodi yang terasa syahdu, harmoni yang tercipta terasa jauh lebih dari sekadar deretan notasi. Nada-begitu ia memanggil kakak tingkatnya itu-adalah melodi yang selalu...
