PK 26 Part I

286 6 0
                                        


Rumah besar itu berdiri tenang di ujung jalan yang nyaris selalu sepi. Pagar hitam tinggi menjulang, kamera terpasang di setiap sudut, dan satu pos kecil di dekat gerbang utama menjadi penjaga pertama sebelum siapa pun bisa masuk.
Semua itu bukan tanpa alasan.

Pak Gunadi bukan orang sembarangan.
Sebagai pengusaha di bidang logistik dan distribusi, ia sudah terlalu lama bermain di dunia yang keras—dunia di mana uang besar sering datang bersama risiko yang tidak kecil. Dalam beberapa tahun terakhir, tekanan semakin terasa. Bukan hanya persaingan bisnis yang makin tajam, tapi juga ancaman yang mulai menyentuh kehidupan pribadinya.

Pernah suatu malam, mobilnya diikuti dari kantor hingga hampir mendekati rumah. Tidak ada kejadian langsung, tapi cukup untuk meninggalkan satu hal: kewaspadaan.

Sejak saat itu, Pak Gunadi tidak mau mengambil risiko sekecil apa pun.
Ia mulai menggunakan jasa pengawal pribadi—orang-orang yang tidak hanya bertugas menjaga, tapi juga memastikan tidak ada celah sekecil apa pun dalam keamanan keluarganya.

Dan di antara mereka, ada satu sosok yang paling sering berada di rumah itu.

Ahmad Fauzan.

Tubuhnya tegap, bahunya lebar, legannya tebal berotot dan gerakannya tenang tapi selalu terukur. Wajahnya tidak banyak ekspresi, dengan sorot mata yang seolah selalu membaca situasi. Ia bukan tipe yang suka berbicara panjang lebar. Kehadirannya saja sudah cukup memberi rasa aman—atau bagi sebagian orang, rasa segan.

Pak Ahmad terbiasa dengan tugasnya.
Mengawasi.
Menilai.
Menjaga jarak.

Namun ada satu hal yang tidak pernah benar-benar ia pelajari: menghadapi seseorang seperti Gunawan.

Gunawan berbeda.
Sebagai anak tunggal Pak Gunadi, ia tumbuh di lingkungan yang penuh aturan dan ekspektasi. Tapi di balik semua itu, ada sisi yang tidak bisa sepenuhnya disembunyikan—lembut, manja, bahkan sedikit centil.

Cara bicaranya halus, gerakannya ringan, dan ada sesuatu dalam cara ia memandang orang… yang terasa terlalu lama untuk sekadar kebetulan.

Ahmad menyadarinya sejak awal, tentang bagaimana Gunawan menatapnya lebih lama dari yang seharusnya, dan bagaimana Gunawan selalu terlalu baik kepada dirinya, dengan membawakan minuman botol dingin di saat dirinya sedang istirahat di kamar samping, kamar yang dikhususkan untuk dirinya.

Namun di atas semua itu, ada satu hal yang selalu ia pegang:

Gunawan adalah anak Pak Gunadi.
Orang yang ia lindungi.
Orang yang harus ia jaga, bukan ia… pikirkan.

Jadi setiap kali tatapan itu datang, Ahmad hanya membalas seperlunya. Singkat. Datar. Profesional.
Ia menjaga batas.

Setidaknya, sampai hari itu.

PUBER KEDUA 26Stories to obsess over. Discover now