1). Between Two Worlds.

5.2K 820 918
                                        

-enjoy let's get started, let's go-

-enjoy let's get started, let's go-

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

Ruangan itu sunyi. Terlalu sunyi untuk ukuran markas seorang bos besar.

Seorang pria bertubuh tinggi duduk santai di kursi empuk yang bentuknya nyaris menyerupai singgasana. Bahunya lebar, posturnya kokoh, kulitnya sawo matang dengan kesan dingin yang sulit didekati. Aura yang ia bawa bukan sekadar berbahaya, tapi juga menekan, seolah ruangan itu sendiri tunduk padanya.

Di tangan kirinya, sebatang cerutu mahal dengan cincin logam berlapis emas menyala pelan. Asapnya melingkar ke udara, membawa aroma cengkeh yang tajam namun elegan. Sementara di tangan kanannya, ia menggenggam sebuah foto polaroid.

Foto itu kontras dengan dirinya. Seorang pria berkulit pucat seperti salju, wajahnya lembut, nyaris terlalu indah untuk dunia yang keras. Senyumnya tipis, tapi cukup untuk membuat siapa pun berhenti sejenak hanya untuk melihat lebih lama.

Pria itu, sang bos tersenyum. Bukan senyum biasa. Bukan senyum dingin yang sering membuat orang lain gemetar. Ini senyum yang terlalu hangat. Terlalu dalam. Ia menghisap cerutunya perlahan, lalu menghembuskan asap ke samping, seolah takut mengotori wajah di foto itu.

"Sayangku... cintaku... duniaku..." gumamnya lirih, nyaris seperti doa.

Tatapannya berubah. Bukan lagi tajam, melainkan penuh kepemilikan yang tidak disembunyikan sedikit pun.

"Kitty kecilku, My Sunghoon..."

Di ambang pintu, empat orang penjaga berdiri tegak. Atau setidaknya, berusaha terlihat tegak. Keempatnya kompak memejamkan mata selama satu detik penuh, menarik napas dalam, lalu menghembuskannya pelan. Sebuah usaha kolektif untuk menjaga kewarasan, dan lebih penting lagi, nyawa.

Jangan ketawa. Jangan ketawa. Jangan ketawa.

Itu mantra mereka. Karena sekali saja ada yang berani mengeluarkan suara aneh di situasi seperti ini, kemungkinan besar mereka tidak akan sempat menyesal.

Mereka membuka mata kembali, wajah sudah kembali datar seperti patung. Di depan mereka, bos besar itu tampak seperti remaja yang baru pertama kali jatuh cinta. Dan masalahnya, ini bukan kejadian baru. Bukan seminggu. Bukan sebulan. Tapi sepuluh tahun.

Sepuluh tahun dengan rutinitas yang selalu sama, duduk di kursi itu, menatap foto yang sama, dengan ekspresi yang sama. Seolah dunia di luar tidak pernah lebih penting dari selembar polaroid di tangannya. Kalau seseorang nekat masuk lebih jauh ke dalam ruangan itu, mereka akan langsung mengerti satu hal:

Ini bukan kantor.
Ini... museum.

Dinding dipenuhi dengan foto Sunghoon, dari berbagai sudut, berbagai ekspresi. Ada yang tersenyum, ada yang diam, bahkan ada yang tampak tidak sadar sedang difoto. Di sudut ruangan, berdiri sebuah patung.

Ya, patung.
Ukuran asli. Wajahnya jelas, Sunghoon.

Rak kaca di sisi lain memajang benda-benda yang, bagi orang normal, hanyalah barang bekas: sepatu yang sudah usang, celana robek, bahkan aksesoris kecil yang entah bagaimana bisa dianggap "berharga".

Mr. Zero | heehoonWhere stories live. Discover now