Bisakah seseorang merasa asing di tempat yang katanya rumah Allah?
Hana memegang erat tali jilbabnya, mencoba menahan angin malam yang menerpa wajah. Di depannya, gerbang besar Pondok Pesantren Al-Huda berdiri kokoh, dua pilar putih dengan kaligrafi emas bertuliskan "Baitul Qur'an wa Sunnah". Lampu-lampu kuning menerangi gapura itu, membuatnya tampak seperti pintu surga dalam mimpinya selama ini.
"Rasanya seperti mimpi, Mbak Hana."
Suara di sampingnya membuat Hana menoleh. Seorang gadis seusianya, jilbab merah muda agak lusuh, matanya berbinar menatap pesantren itu.
"Iya," jawab Hana pendek.
Gadis itu bernama Fatimah. Satu busur dari Surabaya. Sepanjang perjalanan ia tak berhenti bicara—tentang Kyai Miftah yang katanya punya ribuan santri, tentang Gus Arfan yang konon hafal 30 juz di usia 25 tahun, tentang berkah yang akan mengalir deras bagi siapa pun yang nyantri di sini.
Hana hanya mengangguk-angguk. Bukan tidak bersyukur. Tiga tahun ia menabung dari hasil jualan gorengan sepulang sekolah, dua kali nyaris putus asa karena biaya pendaftaran naik, dan kini akhirnya tiba. Tapi ada yang aneh. Sejak kakinya melangkah masuk area pesantren, dadanya terasa sesak.
Mungkin hanya gugup. Iya, pasti itu.
"Baru datang, Nek?"
Seorang santri senior—laki-laki, kumis tipis, sorot mata tajam—menghampiri mereka. Di tangannya ada buku tulis tebal.
"Baru tiba, Mas. Dari Tasikmalaya dan Surabaya," jawab Fatimah cepat, terlalu bersemangat.
Laki-laki itu mengangguk, mencoret-coret bukunya. "Namanya siapa? Asal? Mau daftar program apa?"
"Hana, Mas. Dari Tasikmalaya. Program tahfidz 30 juz."
Mata laki-laki itu berhenti pada Hana. Agak lama. Hana tidak suka caranya memandang, tapi ia pilih diam.
"Tahfidz 30 juz?" Laki-laki itu tersenyum tipis. "Berani sekali, Nek. Program khusus itu bimbingannya langsung Gus Arfan."
"Gus Arfan?" Fatimah memekik pelan. "Putra Kyai Miftah?"
"Iya. Beliau yang pegang program tahfidz intensif. Tapi syaratnya ketat. Tes baca Qur'an dulu besok pagi. Kalau nggak lolos, turun ke reguler."
Hana mengangguk mantap. Ia sudah hafal 5 juz di kampung. Bacaan tajwidnya—kata guru ngajinya—sudah seperti qari'. Ia percaya diri.
"Kalau gitu, saya antar ke asrama putri." Laki-laki itu menunjuk ke arah barat. "Ikuti jalan setapak ini. Nanti ketemu bangunan hijau, itu asrama. Bilang sama bu nyai kalau baru datang."
"Bu nyai?" tanya Hana.
"Istri muda Kyai Miftah, Nyai Laila. Beliau yang ngurus asrama putri."
Hana mengangguk. Mereka berdua melangkah, melewati deretan pohon mangga yang tertata rapi. Suara jangkrik mengerik nyaring, bercampur dengan sayup-sayup lantunan ayat dari pengeras suara di kejauhan.
"Kok ramai banget, ya, Mas?" Fatimah bertanya lagi. "Padahal sudah jam 9 malam."
"Ada pengajian malam khusus untuk santri senior. Dibimbing Gus Arfan langsung."
Mata Fatimah langsung berbinar lagi. "Masya Allah... semoga saya bisa cepat masuk program senior."
Hana tersenyum kecil melihat antusiasme teman barunya itu. Ia sendiri justru merasa lelah. Perjalanan 12 jam naik bus ekonomi membuat tulang-tulangnya terasa remuk.
Mereka berhenti di depan bangunan hijau dua lantai. Catnya sudah kusam, tapi masih terlihat kokoh. Di teras, beberapa santriwati duduk melingkar, mengaji dengan suara pelan.
"Tunggu di sini. Saya panggilkan bu nyai."
Laki-laki itu pergi ke dalam. Beberapa menit kemudian, seorang perempuan keluar. Usianya mungkin sekitar 30-an, jilbab warna hitam longgar, wajahnya cantik tapi ada gurat lelah di matanya. Sorotnya sayu, seperti orang yang terbiasa menahan banyak hal.
"Yang baru datang, Nak?"
Hana dan Fatimah serentak menjawab, "Iya, Bu Nyai."
Nyai Laila mengamati mereka bergantian. Matanya berhenti agak lama pada Hana, seperti ada sesuatu yang ia cari. Lalu tersenyum—tapi senyum itu tidak sampai ke mata.
"Silakan masuk. Kamar nomor 7, lantai atas. Ada dua tempat tidur kosong."
"Terima kasih, Bu Nyai."
Saat Hana melangkah masuk, Nyai Laila tiba-tiba memegang lengannya. Pegangannya cukup erat.
"Kamu Hana, ya? Dari Tasik?"
"Iya, Bu Nyai."
Nyai Laila menatapnya lekat. "Kamu... kalau ada yang aneh, yang tidak beres, jangan dipendam sendiri. Ngerti?"
Hana mengerjap bingung. "Maksud Bu Nyai?"
Perempuan itu tersadar, lalu melepaskan tangannya. "Ah, tidak apa-apa. Lelah naik bus, ya? Cepat istirahat. Besar-besaran."
Hana mengangguk, meski dadanya makin sesak. Ia naik ke lantai dua mengikuti Fatimah yang sudah tak sabar melihat kamar.
Di lorong atas, Hana sempat menoleh ke belakang. Nyai Laila masih berdiri di teras, menatapnya. Dalam temaram lampu 15 watt, perempuan itu terlihat seperti patung kesedihan yang berjalan.
---
Kamar nomor 7 ternyata sempit. Hanya muat dua dipan tipis, satu lemari kayu lapuk, dan jendela kecil menghadap ke timur. Bau kamper dan debu menyambut mereka.
"Wah, nyaman juga," kata Fatimah merebahkan diri di dipan dekat jendela.
Hana hanya menghela napas. Ia keluarkan mukena dan sajadah dari tas, lalu sholat tahiyatul masjid meski hanya di kamar. Setelah selesai, ia duduk memandang keluar jendela.
Dari sini, ia bisa melihat sebagai pesantren. Rumah besar di tengah—pasti kediaman kyai. Lebih besar dari rumah-rumah di sekitarnya, dengan teras marmer dan tiang-tiang tinggi. Di sampingnya, masjid dengan kubah hijau mengilap. Dan di belakang, puluhan bangunan lebih kecil berjejal: asrama, dapur umum, kandang sapi.
Pesantren yang makmur. Pesantren yang terkenal.
Tapi kenapa Hana merasa seperti ayam yang baru masuk kandang rubah?
"Han... lo nggak tidur?" Fatimah menguap keras.
"Nanti. Masang kelambu dulu."
"Ah, lo kebanyakan pikiran. Udah, tidur aja. Besak mau tes."
Hana tersenyum. Mungkin benar. Mungkin ia terlalu banyak pikiran.
Saat ia mulai membentangkan kelambu, suara motor masuk ke area pesantren. Bukan motor biasa—suaranya berat, seperti moge mahal. Hana mencondongkan badan, melihat ke bawah.
Dua motor besar berhenti di depan rumah kyai. Lampu depannya menyilaukan. Seorang laki-laki turun dari motor pertama. Jubah putih, sorban dililit rapi. Posturnya tegap, bahkan dari sini Hana bisa merasakan kewibawaannya.
Gus Arfan, bisik Hana dalam hati.
Laki-laki itu melepas helm, menyerahkan pada seseorang yang menjemput. Lalu, entah kenapa, ia menoleh ke arah asrama putri. Ke arah jendela Hana.
Jaraknya lumayan jauh. Mungkin 50 meter. Mungkin lebih. Tapi Hana bisa merasakan sorot matanya. Seperti sedang menghitung. Seperti sedang menilai.
Hana spontan menarik wajah dari jendela, mundur selangkah. Jantungnya berdetak cepat.
"Astaghfirullah," desahnya pelan. "Hana, lo parno banget."
Ia menggeleng-geleng sendiri, lalu membereskan kelambu dan merebahkan diri. Fatimah sudah tidur, dengkuran halus terdengar.
Di luar, suara motor menjauh. Lantunan ayat dari masjid sayup terdengar.
Tapi Hana tidak bisa tidur.
Sepanjang malam, ia hanya menatap langit-langit kamar yang retak-retak. Dan di setiap bayangan yang lewat, ia selalu membayangkan sepasang mata dari kejauhan itu.
Mata yang—entah kenapa—terasa begitu akrab. Seperti sudah melihatnya sejak lama. Seperti sudah merencanakan sesuatu.
Selamat datang di Pesantren Al-Huda, Hana.
Semoga Allah menjagamu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Nafsu Suci
Fiksi IlmiahSinopsis NAFSU SUCI Pondok Pesantren Al-Huda: ribuan santri berdatangan, puluhan tahun beroperasi, puluhan rahasia terkubur di bawah makam para kyai. Hana datang dengan satu mimpi: menghafal Al-Qur'an dan membawa pulang berkah untuk adik-adiknya di...
