Permulaan

19 5 1
                                        





















Dia perlahan membuka matanya, menatap langit cerah di atasnya. Beberapa detik dia hanya diam, mencoba mengingat apakah dia masih hidup atau sudah jadi arwah gentayangan.

Dia kemudian duduk dan melihat sekeliling. Hutan. Pohon. Rumput. Burung. Damai banget.

Terlalu damai.

"...Ini surga? Tapi kok sepi, gak ada bidadari," gumamnya.

Dia berdiri dan berjalan ke danau di dekatnya. Saat melihat bayangannya di air, dia langsung membeku.

Dia menunduk, menyentuh wajahnya, lalu melihat bayangan itu lagi.

Masih sama.

Dia cubit pipinya sendiri.

"Aduh. Sakit. Berarti bukan mimpi."

Yang ada di depannya adalah dirinya... tapi versi bocil. Sekitar umur 15 tahun. Rambut ungunya masih pendek, muka masih polos, belum muka orang kebanyakan masalah.

Beberapa detik dia hanya menatap kosong.

Lalu—

"ANJING!!! KOK GUA JADI BOCIL LAGI?!" teriaknya ke langit.

Burung-burung langsung terbang kabur.

"Bukannya gua lagi lawan dewa sialan itu?! Harusnya gua lagi duel epik, bukan malah jadi anak 'lagi gini!"

Dia memegang kepalanya frustasi.

"Mana Samsul?! Itu orang kabur apa gimana?! Jangan bilang gua dikirim ke masa lalu sendirian?!"

Dia melihat bayangannya lagi di danau, lalu menghela napas panjang.

"Gila... dari Ksatria legendaris, pembunuh naga, penantang dewa... sekarang balik jadi bocil ingusan."

Dia jongkok di pinggir danau.

"Kalau gini ceritanya... gua harus ngulang lagi dong?"

Dia langsung menatap langit dengan ekspresi horor.

"Dewa sialan... ini hukuman lebih kejam dari kematian."
Yahh... anak itu adalah Marvel, Ksatria Spade.

Repeat AgainDonde viven las historias. Descúbrelo ahora