bab 00

4 0 0
                                        

00 - Hai

Ayahku bilang hanya orang-orang yang payah yang masih pergi ke festival Loy Krathong bersama teman-teman.
Abangku bilang aku sangat payah, sampai tidak bisa memberanikan diri untuk mengajak dia pergi ke Loy Krathong bersamaku.
Dan temanku berkata...
"Hai."

Cara ini berhasil seratus persen.
"..."
"Hai."
Aku menjilat bibirku yang kering. Sialan. Aku harus bagaimana sekarang? Sesuai yang sudah aku latih, dia harusnya merespons sesuatu, bukan cuma menatapku seperti ini

"Temanku menyukaimu."

Aku memejamkan mata dan mengatakannya sedikit lebih keras. Suara petasan dan keramaian festival Loy Krathong memenuhi udara. Semua orang di sini datang melarung krathong bersama kekasih mereka. Tentu saja. Tahun pertama di universitas, jomblo seperti aku... pasti agak menyedihkan. Tidak, sebenarnya sangat menyedihkan.
"Teman?"
"Uh, iya."
Apakah ada yang pernah bilang padanya?
Bahwa dia sangat menggemaskan.
"Namaku Buddy."

Imut tanpa alasan apapun.
Cukup imut untuk membuat seseorang yang bodoh jatuh cinta sejak hari pertama ospek.
Imut meskipun tingginya sama denganku.
Imut meskipun dia berpakaian sangat sembarangan — baju seragam mahasiswa yang terlalu besar dan tidak pernah disetrika dengan benar, sepatu sneaker yang sama sejak ospek... atau bahkan tangan putih pucat itu yang dengan hati-hati memegang sebuah krathong dari roti.
"Teman ayah kamu, kurang ajar."
Duar!
Rasanya seperti baru saja kena tembak langsung di jantung. Krathong roti yang dia lempar mengenai wajahku, ekspresinya kesal. Aku tahu ekspresi itu... Teman-temannya bersiul dan menggoda, membuat semua orang menoleh. Aku yakin teman-temanku, yang tadi bersembunyi di balik pohon, juga sudah keluar untuk menyemangati, melebur bersama lampu-lampu festival yang cerah dan meriah yang dipasang universitas.
Dan itulah hari itu.
"Duang! Ayo, coba deh!"
"Duangg, bilang! Cowok modern, bahu lebar, sepatu kulit!"
Hari pertama aku melakukan lebih dari sekadar diam-diam memperhatikan dia berlatih musik setelah kelas.
Hari pertama aku melakukan lebih dari sekadar berjalan melewatinya dan duduk di belakang warung makan, memandangi punggungnya saat dia perlahan makan hidangan yang sama setiap sore.
"Jadi, namamu Buddy atau Duang?"
Hari pertama...
"Duang."
Mengucapkan namaku sendiri rasanya sangat susah.
"Terus? Ada apa?"
"Kamu... keberatan?"
"..."
"Kalau kita coba ngobrol?"
Hari pertama aku merasa seperti orang paling bodoh sedunia.
Aku ingin berteriak di depan mukanya, minta maaf karena sudah jadi orang yang sangat payah... sangat tidak keren.
Tapi ya, apakah dia keberatan?
Aku cowok.
Dia cowok.
"Bisa lebih langsung tidak?"
Aku menelan ludah.
"Qin! Santai, nak, santai!"
"Jangan digertak, bro. Tenang!"
Kalau lebih langsung lagi, aku sudah berlutut melamar dia, sumpah.
Aku menggaruk hidungku dengan canggung... tidak sengaja bertemu matanya, dan jantungku seperti jatuh bebas bak naik roller coaster.
Aku berhenti bertanya pada diri sendiri apakah ini akan berhasil atau tidak, karena bagaimana mungkin berhasil kalau aku tidak pernah mencoba?
"Bolehkah aku mendekatimu?"
Aku sudah berpikir bolak-balik seratus kali. Tapi setelah semua perhitungan, aku pikir lebih baik langsung bilang sebelum dia bisa setuju atau menolakku. Dan karena itu, aku harus mengumpulkan keberanian lebih besar dari saat aku di TK dan harus menari di atas panggung di depan ratusan orang pada Hari Ibu.
Dia lebih dari itu.
"Bukan... maksudku, Duang mau mendekatimu."
Lebih dari seratus orang dan panggung yang membuat lututku gemetar.
"Aku ganti pikiran."
"..."
"Aku tidak minta izin. Hanya kasih tahu."
Aku memang kuno banget.
Tapi ya...
"Kalau begitu, buktikan kalau kamu berhasil."
Aku dan dia.
Dia yang menyanyi dengan sangat merdu.
Dia yang selalu pulang ke asrama larut malam dan membeli kopi hitam untuk melawan kantuk setiap pagi.
Dia yang tidak bisa diprediksi seperti cuaca.
Dan itulah hari itu... hari aku mulai mendekatinya.
Hari kita mulai ngobrol.

lukuklikukWhere stories live. Discover now