"Jangan mau sama anak teknik, mereka brengsek."
Kalimat itu bukan sekali dua kali Jennie dengar. Hampir setiap tahun, bahkan setiap semester rasanya, temannya selalu mengulang kalimat yang sama dengan nada penuh keyakinan seolah itu adalah hukum alam yang tidak bisa dibantah.
Jennie hanya mengangguk pelan, seperti biasa. Tidak menyangkal, tidak juga membenarkan. Di hadapannya, Roseanne Kalana sedang bersedekap, wajahnya penuh ekspresi tidak terima, seperti baru saja mengingat sesuatu yang menyebalkan.
Bukan tanpa alasan Rose bisa sekesal itu. Ia pernah didekati salah satu anak teknik, yang awalnya terlihat baik, perhatian, bahkan sempat membuatnya percaya. Sampai akhirnya... hilang begitu saja. Di-Ghosting. Sialan memang.
Sebelumnya, perkenalkan aku Jennie Indira, mahasiswi pendidikan untuk anak sekolah dasar. Iya. Aneh memang. Sifatku yang mudah terpancing emosi ini harus mengurus bocah-bocah yang bahkan mungkin belum tau caranya buang air besar dengan benar. Dan juga, aku seorang mahasiswa semester 6 yang tengah pusing ditagih judul skripsi oleh dosen pembimbing.
"Serius, Jen. Mending sama anak seni atau sastra," lanjut Rose sambil menyandarkan dagu di telapak tangannya. Senyumnya mulai berubah, agak melamun. "Bayangin, kamu bisa abadi di karya mereka. Puisi kek, lagu kek..."
Sayangnya, Jennie telah menyukai anak teknik yang mahir dalam seni dan sastra. Dan itu sudah berlangsung selama hampir 3 tahun. Bagaimana? Apakah ia telah menyukai anak brengsek yang bisa membuatnya abadi dalam sebuah karya?
Lisa Anandara namanya. Pemilik nama yang punya senyum lebar dan motor astrea yang sudah di modifikasi. Yang sering memakai kemeja flanel kotak-kotak atau terkadang memakai jaket himpunan dengan kaos polos di dalamnya.
Cara jennie jatuh suka pada lisa itu simple, hanya karena aroma parfum saat tidak sengaja berpapasan di acara volunteer luar kampus dan juga bagaimana wajah frustasi lisa saat mengengkol motor butut miliknya itu.
"Anjirr anjir wangi banget itu orang, padahal mukanya kayak orang nggak mandi berhari-hari" Jennie terus berjalan namun kepalanya terus menghadap kebelakang.
Jennie ingat kala itu di hari yang sama dengan kejadian 'aroma parfum', pada saat ia sedang menunggu ojek online setelah rapat divisi volunteernya, ia melihat lisa terlihat begitu frustasi menunjuk-nunjuk motor bututnyaa. Jennie melihatnya tersenyum geli saat lisa sedang menggaruk kepalanya padahal masih menggunakan helm.
"Pak, tolong tunggu sebentar yaa. 5 menit aja pak, saya sedang menghafal wajah masa depan saya."
Bapak ojek itu sempat menatap Jennie dengan tatapan yang sulit dijelaskan. Antara iba dan sedikit khawatir. Tapi tetap saja, ia menunggu. Dan Jennie? Ia berdiri di sana, pura-pura sibuk dengan ponselnya, padahal matanya tidak lepas dari satu orang itu yang masih saja berkutat dengan motor Astrea-nya yang seolah punya dendam pribadi. Helmnya belum dilepas. Tangannya beberapa kali menepuk-nepuk jok motor, lalu menggaruk kepala yang tentu saja tidak akan terasa karena terhalang helm.
"Lucu banget sih," gumamnya pelan.
Awalnya Jennie pikir itu cuma ketertarikan sesaat. Tipe-tipe "oh lucu juga ya ni orang" yang biasanya hilang dalam seminggu. Nyatanya? Ia mendapati dirinya terus bolak-balik fakultas teknik untuk melihat wajah lisa lagi, ingin tahu lisa lagi apa, pakai baju apa yaa dia hari ini, motornya mogok lagi gak, ada latihan arak-arakan gak, apakah lisa dihukum terlalu keras oleh kating atau apakah lisa punya waktu tidur yang cukup mengingat fakultas teknik yang katanya salah satu jurusan tersulit.
Hampir tiga tahun menyukai dalam diam, tentu Jennie cukup banyak tahu mengenai lisa hanya dengan bermodalkan third accountnya yang memfollow akun lisa dan himpunan jurusannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
TEKNIK | Jenlisa
Fanfiction"jangan mau sama anak teknik, mereka brengsek" Just random oneshot story
