Epilog

15 2 0
                                        


"Sialan, aku akan telat!, dasar adik jahanam, kenapa kau tidak membangunkanku?!" Ujar seorang gadis yang menginjak jenjang sekolah menengah akhir itu. Ia memakaikan kaos kaki berlogo sekolahnya dengan terburu-buru.

"Harusnya kau mandiri dasar kakak pemalas, aku kan libur jadi terserah mau bangun siang atau tidak." Balas sang adik dengan rebahan di sofa.

"Memangnya kakak begadang tadi malam?, membaca manga itu lagi?" Tanya sang adik.

"Ya..., begitu, sudahlah! Aku berangkat dulu, sampai jumpa adik tampanku!" Pamit sang kakak, ia meninggalkan rumah itu, menutup pintu rumahnya dengan kasar.

"Ya, hati-hati di jalan!" Balas sang adik, berniat mendoakan agar sang kakak tidak telat dan tidak terkena amukan para OSIS.

'Tumben sekali memujiku tampan, ada apa dengannya ya?' Batin sang adik dengan aneh.



















DI SISI LAIN

"Hey Kireina, sepertinya kau telat juga ya?" Ucap seorang laki-laki bertubuh tinggi bak tiang listrik dengan sapaan santainya. Padahal bel sekolah tinggal berbunyi beberapa menit lagi.

"Huh? Oh kau, Zei, sialan, dengan santainya kau berbicara kepadaku seolah bel sekolah masih beberapa jam lagi!" Seru Kireina dengan kesal. Dirinya sudah berlari dengan bersusah payah, tetapi ada saja yang mengganggunya. Dirinya tidak mau dihukum oleh OSIS lagi, seperti dahulu kala.

"Hahahaha, tidak usah sepanik itu, tenang saja, para guru pagi ini rapat sampai jam 9." Ucap Zei dengan tawa dan nada santainya. Sungguh Kireina tak habis pikir dengan Zei, bagaimana dia bisa sesantai itu?

"Iya guru rapat tapi..." Jeda Kireina.
"Tapi?" Tanya Zei.
"KAU PIKIR OSIS RAPAT JUGA HUH???" Seru Kireina dengan kesal.

"Uh um... Ya mungkin bisa saja mereka rapat juga kan? Mengurus... Em..." Zei bingung, mencari-cari alasan yang masuk akal.

"Dasar bodoh, membuang waktuku saja." Ucap Kireina yang tak tahan dengan Zei, lantas setelah menunggu lampu hijau untuk menyebrang, akhirnya sang lampu hijau menyala. Memberi tanda untuk bisa menyebrangi jalan tersebut.

Dengan cepat Kireina melangkah menyebrangi zebra cross tersebut, tetapi belum langkahnya selesai melintasinya, sebuah teriakan terdengar dari Zei.
"KIREINA AWASS!!" Teriaknya.

Dunia bagi Kireina saat itu seolah melambat bagaikan jj rimex yang dislow motion. Kireina menoleh ke samping kanannya. Terdapat sebuah truk yang hilang kendali akan menerjang dirinya. Bola matanya lantas membesar—terkejut. Ia berpikir. Ah, apakah hidupnya akan berakhir begitu saja? Bagaimana dengan nasib adik tampannya itu? Padahal adiknya hanya hidup dengan dirinya saja. Orang tua mereka sudah lama tiada karena COVID-19 pada tahun 2020. Ia tak bisa membayangkan adiknya hidup sendiri tanpanya.

DUAGGHHHH

Suara benturan keras menggema di persimpangan itu. Orang-orang di sekitar langsung menoleh kaget dan panik. Tubuh Kireina terpental karena truk itu.

"KIREINA!" Zei berlari sekuat tenaga menuju tengah jalan dengan napas terengah. Ia menghampiri sosok yang selama ini telah ia anggap saudara, dengan harapan rapuh bahwa mungkin saja masih ada keajaiban.

Tubuh Kireina terjatuh di aspal. Dunia terasa berputar di kepalanya. Telinganya berdenging, pandangannya mulai buram. Darah perlahan mengalir dari kepalanya, membasahi jalanan.

'Wah sepertinya aku akan menyusul kalian ya? Ayah, ibu...' Batin Kireina dengan tersenyum tipis.

Di sekelilingnya mulai terdengar suara orang-orang yang panik.

"INALILLAHI!"
"ASTAGA! ADA YANG TERTABRAK!"
"CEPAT PANGGIL AMBULANS!" Teriak beberapa orang di lokasi itu.

Zei berlutut di samping raganya dengan paras yang pucat.

"Kireina! Hei, jangan tutup matamu! Dengarkan aku!" Ujar Zei dengan suara yang gemetar.

Kireina mencoba membuka matanya. Paras Zei terlihat samar di hadapannya. Namun di dalam kepalanya hanya ada satu pikiran.

Adikku...

"Zei..." Bisiknya lemah tak bertenaga.

"Iya! Aku di sini!" Jawab Zei.

"Tolong.... Jaga... Adikku..." Lirih Kireina. Kelopak mata indah itu akhirnya terpejam, seakan dunia telah selesai ia tatap.

Mata Zei seketika membesar, sementara air mata mulai memenuhi pelupuknya. "Hei! Jangan berbicara seperti itu! Kamu pasti akan baik-baik saja!"

"Kireina, buka matamu kumohon!!"

"Kireina?!"

"KIREINAAAAAA!"

Continued





Rame lanjut wkwkwkwk, kalau ad yang baca ini si aku kaget yah.

Transmigrasi?Where stories live. Discover now