بِسْمِ ٱللَّٰهِ ٱلرَّحْمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ
CINTANYA ALLAH LALU KAMU
Jilid Satu
Cinta yang Ia Tunda Karena Allah
— Sebuah Novel Islami —
Bismillahirrahmanirrahim
Untuk mereka yang pernah menangis
di atas sajadah pada jam-jam yang tak seorang pun tahu —
bukan karena putus asa, tapi karena percaya.
✦ ☽ ✦
PROLOG
Satu Surat yang Tidak Pernah Terkirim
وَعَسَىٰٓ أَن تَكۡرَهُواْ شَيۡـًٔا وَهُوَ خَيۡرٞ لَّكُمۡ
— Al-Baqarah: 216 —
“Mencintai bukan sekedar memiliki,tapi tentang menjaga diri demi ridha allah”
Kepada seseorang yang namanya tidak kutulis di sini —
Aku tidak tahu apakah surat ini akan pernah kaubaca. Tapi aku menulisnya malam ini, di tanggal satu November, dengan lampu kamar yang hampir padam dan hati yang penuh dengan hal-hal yang tidak kuizinkan untuk kuucapkan.
Kau tahu betapa sulitnya menyimpan sesuatu yang terasa seperti matahari di dalam dada? Ia tidak minta dikurung. Ia ingin memancar. Ia ingin aku berlari ke arahmu dan berkata — tapi aku tidak berlari. Aku berdiri di tempat. Bukan karena aku tidak mau. Bukan karena aku tidak berani.
Tapi karena ada Satu yang lebih tahu dariku tentang kapan waktu yang tepat.
Ini bukan penolakan terhadapmu. Ini adalah penyerahan kepada-Nya.
— Hana Nuraini, 1 November
✦ ☽ ✦
* Laki-laki di Perpustakaan *
Hana mengenal Rasyid pertama kali bukan karena ia tampan — meski ia memang tampan dengan cara yang tidak mencolok. Ia mengenalnya karena buku.
Perpustakaan kampus pada Senin pagi biasanya sepi. Hana sudah terbiasa dengan kursi pojok dekat jendela barat sebagai wilayahnya. Ia sudah duduk di sana sejak sebelum perpustakaan resmi buka — salah satu keistimewaan menjadi mahasiswi yang akrab dengan Pak Darman, penjaga perpustakaan yang sudah tua dan baik hati.
Tapi hari itu, seseorang sudah lebih dulu duduk di kursinya.
Hana: "Maaf, ini biasanya kursi saya."
Laki-laki itu menoleh. Usia dua puluh tahunan. Kacamata tipis. Di mejanya terbuka sebuah mushaf dan sebuah buku tebal bertuliskan Fiqih Muamalat.
Rasyid: "Oh, maaf. Saya tidak tahu. Silakan, saya bisa pindah."
Hana: "Tidak, tidak. Kursi lain juga sama saja. Maaf saya yang berlebihan."
Ia duduk di kursi sebelahnya. Dan selama dua jam berikutnya, mereka tidak saling berbicara. Hanya dua orang dan buku-buku mereka dalam sunyi yang nyaman — jenis sunyi yang jarang ada di antara dua orang asing.
Ketika Rasyid akhirnya berdiri untuk pergi, ia meletakkan sebuah pembatas buku di meja Hana. Bergambar sederhana: bulan sabit dan bintang kecil. Di baliknya tertulis tangan:
"Jazakillah khairan atas kursinya hari ini. — Rasyid"
Hana memandang punggungnya menghilang di balik rak-rak buku.
Ia belum pernah menerima sesuatu sesederhana itu, namun terasa seberat emas.
✦ ☽ ✦
Senin Ke Tujuh
YOU ARE READING
cinta di dalam islam
RomanceKisah dua insan yang saling mencintai dalam diam, memilih menjaga jarak demi menjaga iman. Di tengah ujian perasaan dan tekanan zaman, mereka belajar bahwa cinta sejati bukan tentang memiliki, tetapi tentang menunggu waktu yang diridhai Allah.
