Berlatar di masa depan, ketika para murid Kivotos telah dewasa dan hidup damai bersama keluarga mereka, namun sebuah ancaman baru mulai bergerak dalam diam. Tanpa disadari siapa pun, dimensi alternatif bernama Beta Space mencoba terhubung ke dunia m...
Matahari sore memancarkan cahaya keemasan yang menembus dinding kaca gedung S.C.H.A.L.E. Bangunan yang dahulu menjadi pusat berbagai peristiwa besar di Kivotos itu kini tampak jauh lebih tenang dibandingkan puluhan tahun silam. Meski begitu, wibawanya sama sekali tidak memudar. Sebagai organisasi independen yang didirikan oleh Presiden Dewan Pelajar Umum sebelum menghilang, S.C.H.A.L.E. tetap menjadi lembaga yang memiliki kewenangan luas untuk membantu seluruh akademi di Kivotos. Bahkan setelah bertahun-tahun berlalu, tempat ini masih menjadi titik temu berbagai persoalan yang tidak mampu diselesaikan oleh sekolah mana pun seorang diri.
Di salah satu ruangan kerja yang cukup luas, suara ketikan keyboard terdengar tanpa henti.
Seorang pria berambut hitam dengan jas panjang khas S.C.H.A.L.E. duduk di balik meja yang dipenuhi tumpukan dokumen elektronik maupun laporan fisik. Wajahnya terlihat jauh lebih dewasa dibandingkan Sensei yang dahulu pertama kali datang ke Kivotos, namun tatapan matanya masih sama-tenang dan penuh kesabaran.
Kini, hampir semua orang mengenalnya dengan sebutan Sorasaki Sensei.
¡Ay! Esta imagen no sigue nuestras pautas de contenido. Para continuar la publicación, intente quitarla o subir otra.
Bukan karena ia telah melupakan nama lamanya, melainkan karena suatu kejadian besar yang pernah mengguncang Kivotos membuat keberadaan Sensei terpecah menjadi beberapa individu yang menjalani jalan hidup masing-masing. Sebagian memilih mengurus distrik lain, sebagian lagi menghilang, sementara dirinya tetap berada di S.C.H.A.L.E., mengabdikan hidupnya untuk Gehenna.
Dan, tentu saja...
Sebagai suami dari mantan Ketua Prefect Team Gehenna, Sorasaki Hina.
Pria itu mengembuskan napas pelan sembari menyandarkan tubuhnya ke kursi.
"Kalau laporan dari Gehenna terus bertambah begini, sepertinya aku harus meminta tambahan staf lagi..." gumam Sorasaki Sensei sambil memijat pelipisnya.
Belum sempat ia kembali mengetik, terdengar suara pintu otomatis terbuka perlahan.
"Permisi, Sensei. Apa aku mengganggu?" tanya seorang gadis berambut pirang panjang yang baru memasuki ruangan. Gadis itu mengenakan seragam Millennium yang dipadukan dengan jaket biru putih, membuat penampilannya terlihat santai meski tetap rapi. Dialah Kurenai Alya,
¡Ay! Esta imagen no sigue nuestras pautas de contenido. Para continuar la publicación, intente quitarla o subir otra.