Dulu.., Aku pernah percaya pada cinta
seperti orang percaya pada rumah—
tempat pulang, tempat istirahat, tempat aman.
Aku salah.
Cinta tidak selalu membangun.
Kadang ia hanya mengajarkan,
bagaimana rasanya bertahan sendirian
di tengah janji yang runtuh.
Aku sudah memberi segalanya
tanpa pernah menghitung sisa.
Aku mencintai tanpa rencana cadangan,
tanpa pintu darurat.
Dan ternyata,
tidak semua orang datang untuk menetap.
Sebagian hanya singgah,
meninggalkan luka yang pelan-pelan mengubah cara bernapas.
Aku belajar satu hal:
yang paling sering terluka
bukan mereka yang mencintai setengah,
melainkan mereka yang datang sepenuh.
Sejak itu, aku berhenti berharap.
Bukan karena aku lemah,
tapi karena hatiku terlalu sering
dipaksa kuat sendirian.
Aku tidak lagi menunggu pesan.
Tidak lagi menggantungkan bahagia
pada balasan atau perhatian.
Jika seseorang datang, aku menyambut.
Jika pergi, aku membiarkan.
Tanpa doa agar bertahan.
Tanpa tangis agar kembali.
Sampai suatu hari,
aku bertemu seseorang
yang tidak menawarkan janji,
tidak menjual kata "selamanya".
Ia hanya hadir.
Tenang.
Dan tidak pergi.
Dan di sanalah aku sadar—
kehilangan berkali-kali tidak membuatku takut mencintai.
Yang membuatku gemetar
adalah kemungkinan
untuk percaya lagi.
YOU ARE READING
KAULAH KAMUKU
RomanceSetelah beberapa kali dikhianati dan dijadikan pilihan kedua, Arka akhirnya berhenti percaya pada cinta. Bukan karena dia membenci perasaan itu, tapi karena dia lelah menjadi satu-satunya yang selalu serius. Semua itu perlahan mengubahnya menjadi se...
