Part 38

3.4K 95 3
                                        

Rumah sakit 

“ahh— Jio!” 

Di ruangan serba putih itu, tangan Jio mencengkram kuat leher Navena. Bibirnya melumat, menyesap bahkan menggigit bibir Navena, membuat bibir Navena berdarah. 

Lidah Jio memaksa masuk kedalam mulut Navena, mengabsen setiap gigi-gigi Navena. Tangan satunya memegang kedua tangan Navena yang terus memberontak. 

Menekan infus yang terpasang di tangan Navena— darah mengalir di selang infus. Cengkraman Jio benar-benar kuat. Navena mendesah kesakitan. 

“emhh, ahh." Navena mendesah pelan saat dengan sengaja Jio menggigit bibirnya saat Navena berusaha menutup mulutnya. 

“J–jio lepas, ahh!” 

Perang lidah itu berangsur lumayan lama, Navena sudah berusaha memberontak. Namun apa daya nya? Saat Navena hampir kehilangan kesadarannya, Jio menarik dirinya. 

Melepaskan ciuman keduanya. Navena langsung menghirup udara dengan cepat. Ia menatap Jio yang sedang mengusap bibirnya sembari menatap Navena— lapar? 

“Manis.” Navena menatap Jio sinis, tangannya nyeri, infus di tangannya benar-benar penuh dengan darah, semua karena ulah Jio. 

Bibirnya berdarah, lehernya merah, Navena cukup terkejut dengan apa yang telah Jio lakukan kali ini. Biasanya pria itu hanya akan mengancam dengan ucapan, tidak seperti ini. 

“Orang gila!” 

Jio terkekeh pelan, menatap Navena yang terbaring di ranjang dengan nafas yang belum teratur. “I know, This is all because of you, darling.” 

Menatap marah ke arah Jio, Navena mengepalkan kedua tangannya. “Aku mau kita putus!” 

“Bener-bener bakal gue perkosa lo na, liat aja." Setelah berkata seperti itu, Jio kembali menyambar bibir Navena,  tubuhnya naik ke atas brankar. Menindihi Navena, hal itu semakin membuat Navena tidak bisa memberontak. 

“Ngapain! Jio? Minggir nggak!” 

“Akh! Ji—emh!” 

Menyatukan kembali bibir keduanya, Jio kali ini lebih kasar lagi, menyesap, menggigit, dan melumat bibir Navena. 

Tangannya bergerak di atas tubuh Navena, saat berada di dada, sang dominan dengan cepat meremas gumpalan yang ada di sana. 

Hal itu benar-benar membuat Navena mendesah— geli yang Navena rasakan. 

“Ahhh,” 

Puas bermain main di gumpalan kenyal itu, tangan Jio turun kebawah, bersamaan dengan kepalanya yang ikut ke bawah. 

Memberikan tanda kepemilikan di leher Navena— cukup banyak, hingga tidak bisa Navena tutupi. 

“Emhh jiohh,” mendesah pelan, saat sebuah tangan membelai miliknya. Navena benar-benar tidak tahan. Dia ingin memberontak, tapi tak kuasa. 

Jio dengan semangat memberikan tanda kepemilikannya. Tidak hanya di leher. Jio membuka kancing baju Navena, menyesap puting Navena yang sudah mengeras. Lalu memberikan tanda di sekitar sana juga. 

“Ahh— jiooh!” 

Jio benar-benar seperti orang kerasukan. Saat dirasa dirinya sudah tidak tahan, Jio berdiri. Berlari ke arah kamar mandi, meninggalkan Navena yang sudah lemas di buatnya. 

Bajunya berantakan, dari leher hingga perutnya penuh dengan kissmark yang di buat oleh Jio. Tangan Navena bergetar, menutupi dirinya dengan selimut. 

Syarah desahan kecil terdengar dari arah kamar mandi, Navena hanya bisa menghela nafas. Air matanya sudah mengalir sedari tadi, sungguh ia tidak pernah melihat Jio seperti ini. Navena sangat terkejut! 

Desahan dari kamar mandi itu mengalun panjang, hingga beberapa menit kemudian— Jio datang kembali dengan wajah dan rambut yang masih basah oleh air. 

Menghampiri Navena yang menutupi tubuhnya dengan selimut, saat Jio membukanya, Navena menatap Jio dengan takut-takut. 

“Hiks— maaf,” 

Jio tersenyum pelan, tatapannya kali ini lebih lembut, tidak seperti tadi, penuh dengan amarah. 

“Maafin Jio juga, tadi kebawa emosi,” Navena tak menjawab, suara tangisnya semakin keras saat Jio mengecup kening Navena lama. 

“Hiks— Jahat!” Navena berucap keras, sembari memeluk Jio yang masih stay pada posisinya. Membungkuk dan mengecup kening Navena. 

“Aku takut— hiks!” Navena memeluk Jio erat, tangan tangannya memukul-mukul punggung Jio. 

Yang di pukul hanya tersenyum dan semakin mengeratkan pelukannya. 

Marked by Jio Stories to obsess over. Discover now