one.

47 8 1
                                        

Lampu putih di langit-langit ruangan itu terasa terlalu terang, seolah sengaja ingin menelanjangi setiap ketakutan yang ada di dalamnya. Di tengah ruangan, seorang perempuan berlutut di lantai dingin, punggungnya lurus tapi tubuhnya bergetar halus. Kedua tangannya terangkat ke atas, kaku seperti boneka.

Gaun pink lembut membalut tubuhnya, kontras dengan suasana ruangan yang dipenuhi aroma besi dan ancaman. Jepitan rambut pink menghiasi rambut blonde panjangnya yang jatuh rapi, dan poni nya yang membuatnya terlihat manis, terlalu manis untuk berada di tempat seperti ini. Kulitnya putih bersih, wajahnya cantik dengan garis lembut, ekspresi polos yang membuatnya tampak seperti anak kecil yang tersesat.

Tujuh orang berdiri mengelilinginya. Semua memegang senjata. Tatapan mereka tajam, dingin, dan tidak memberi ruang untuk harapan. Jeie bisa merasakan matanya panas, dadanya sesak, tapi ia menahan diri untuk tidak menangis. Tangisan terasa seperti kesalahan fatal di tempat ini.

Langkah kaki terdengar. Satu orang maju ke depan.

Lelaki itu tinggi, berkulit putih dengan postur yang tenang namun mengintimidasi. Hidungnya tinggi, rahangnya tegas. Rambut hitamnya jatuh ke depan, sedikit menutupi mata tajam yang kini menatap Jeie tanpa berkedip. Wajahnya terlalu tampan untuk seseorang yang memegang kuasa atas hidup orang lain. Di tangan kanannya, tato gelap melingkar, kontras dengan kulitnya yang pucat.

Ia berjongkok tepat di hadapan Jeie, menatapnya seolah sedang menilai sebuah benda berharga yang rapuh.

"Introduce yourself."

Bahasa Inggrisnya terdengar halus tapi dingin, dengan aksen British yang membuat Jeie harus berpikir dua kali untuk memahaminya.

Jeie menelan ludah. Suaranya gemetar saat ia berbicara.

"H-halo... namu aku Jeie Cheries Nohara. Umur aku dua puluh satu."
Ia berhenti sebentar, bingung sendiri.
"Aku suka warna pink. Sekarang. . . takut. Bingung."
Alisnya berkerut kecil.
"Udah sih itu aja. A-apalagi ya?"

Beberapa orang di belakang lelaki itu saling pandang, seolah tidak menyangka jawaban sejujur dan sepolos itu.

Lelaki di depannya tidak tersenyum.

"You do know why you are here, right?"

Jeie menggeleng cepat, rambut blondenya ikut bergerak.

"Nggak tau. Aku salah apa ya?"
Ia terdiam sebentar lalu menambahkan dengan suara pelan, gugup.
"Emm... kemarin kan daddy aku nikah. Tapi aku anaknya kok, bukan pelakor ya."

Keheningan jatuh di ruangan itu.

Lelaki itu akhirnya berdiri. Tatapannya tidak lepas dari Jeie saat ia berkata,
"Because your father has many enemies. And I am one of them."

Ia menyebut namanya tanpa emosi.

"Grakhiel Akillgra Caspia."

Mata Jeie membesar. Ia menatap lelaki itu seolah baru saja mendengar sesuatu yang mustahil.

"Musuh?"
Suaranya kecil, nyaris tidak percaya.
"Daddy Jeie baik kok. Kok bisa ada musuh sih?"

Jawabannya terdengar polos, hampir bodoh, seperti anak kecil yang belum mengenal dunia.

Grakhiel menatapnya lama sebelum berbicara lagi.

"I kidnapped you. I could sell you."
Nada suaranya datar.
"I'm saving your life for a good reason. Or is it a waste?"

Ia melirik pria di sampingnya, lalu kembali menatap Jeie.

"Walking time. Your father is my enemy."

Jeie terdiam. Otaknya berusaha mencerna kalimat itu. Ia tidak sepenuhnya mengerti bahasa Inggris mereka, tapi satu hal ia pahami dengan jelas. Daddy-nya adalah musuh pria ini.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Feb 09 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

velvet sin.Where stories live. Discover now