rumah yang menunggu

0 0 0
                                        

Hana sedang menutup jendela ketika hujan turun lebih deras dari biasanya. Langit Jakarta sore itu kelabu, dan entah kenapa, dadanya terasa berat sejak siang. Ia mencoba mengabaikannya—menganggapnya hanya lelah biasa—lalu kembali ke dapur, merapikan piring yang sudah kering.
Suara pintu pagar terdengar.
Pelan. Ragu. Seperti seseorang yang berdiri terlalu lama sebelum memutuskan melangkah masuk.
Hana berhenti.
Tangannya menggenggam lap dapur, jantungnya berdetak lebih cepat tanpa alasan yang jelas. Ia melirik jam dinding: pukul empat lewat sepuluh. Tidak ada tamu. Tidak ada janji.
Tok.
Suara itu datang lagi.
Hana menarik napas, lalu berjalan ke pintu. Ketika ia membukanya, dunia seolah berhenti sebentar.
Seorang pria berdiri di sana—tinggi, tegap, dengan jaket gelap yang basah oleh hujan. Rambutnya sedikit lebih panjang dari yang Hana ingat, wajahnya lebih tegas, dan matanya… mata itu tetap sama. Dalam. Tenang. Membuat Hana langsung tahu siapa dia, bahkan sebelum bibirnya bergerak.
“Bu,” ucapnya pelan. “Aku pulang.”
Nama itu—Indra—tidak perlu disebutkan. Ia hidup terlalu lama di kepala Hana untuk dilupakan. Enam tahun lalu, anak lelaki itu pergi dengan janji sederhana: akan baik-baik saja. Lalu dunia menelan dia bulat-bulat.
Hana menutup mulutnya. Ia ingin bertanya banyak hal, ingin memastikan ini nyata, ingin menangis. Namun yang keluar justru kalimat paling sederhana.
“Masuklah,” katanya. “Hujannya dingin.”
Indra melangkah masuk. Hana menutup pintu perlahan, dan rumah kecil itu terasa berubah—lebih penuh, lebih hidup, sekaligus asing. Mereka berdiri berhadapan, canggung seperti dua orang yang saling mengenal terlalu lama namun harus belajar ulang.
“Kamu… tinggi sekali,” Hana tersenyum kecil, gugup.
Indra terkekeh. “Kamu nggak berubah.”
Hana menggeleng. “Aku berubah. Kamu saja yang lama pergi.”
Ia berbalik lebih dulu, menahan getaran di dadanya. “Kamu pasti lapar.”
Di dapur, Hana memasak seperti kebiasaan lama yang tak pernah benar-benar hilang. Nasi, bawang, sedikit udang dari kulkas. Gerakannya otomatis, seperti ia sudah menyiapkan momen ini selama bertahun-tahun tanpa sadar.
Indra duduk di kursi kayu, memperhatikan punggung Hana. Rumah itu sederhana—dinding putih, meja makan kecil, rak buku yang berdebu—namun hangat. Rumah yang dulu memberinya tempat ketika dunia tidak.
“Maaf nggak ngabarin,” kata Indra akhirnya.
Hana tidak menoleh. “Kalau kamu bilang mau pulang, aku mungkin nggak bisa tidur.”
Nada suaranya ringan, tapi Indra tahu ada sesuatu di baliknya.
Mereka makan sambil berbincang pelan. Tentang hujan Jakarta yang tak pernah berubah, tentang ikan koi di kolam, tentang pohon apel yang kini rajin berbuah. Topik-topik kecil yang aman. Namun di sela-sela jeda, Hana merasakan ada banyak hal yang menunggu keberanian untuk diucapkan.
Setelah makan, Indra menuju kamar lamanya. Ia membuka lemari, menemukan pakaian yang disimpan rapi. Ketika ia mencoba salah satu kaus, kain itu terasa sempit di bahunya.
“Kekecilan,” katanya sambil tertawa.
Hana berdiri di ambang pintu. “Aku lupa betapa cepatnya kamu tumbuh.”
Kalimat itu menggantung. Mereka sama-sama diam, menyadari makna yang lebih besar dari sekadar ukuran baju.
Malam turun perlahan. Televisi menyala di ruang tamu, suaranya rendah. Hana duduk di sofa, Indra di sampingnya. Kadang mereka tertawa, kadang hanya menatap layar. Keheningan di antara mereka tidak canggung—justru terasa nyaman, seperti jeda yang lama ditunggu.
“Kamu bakal lama di sini?” tanya Hana, seolah itu pertanyaan ringan.
Indra menoleh. “Aku belum punya rencana pergi.”
Hana mengangguk, berusaha terlihat tenang. Dadanya terasa lebih ringan.
“Kamar tamu masih bisa dipakai,” katanya. “Seprai baru.”
“Terima kasih, Bu.”
Panggilan itu terdengar asing di telinga Hana. Ia tersenyum, tapi ada sesuatu yang bergetar di dadanya. Ia ingat Indra kecil yang memanggil namanya tanpa ragu. Kini, jarak itu terasa nyata—dan rumit.
Menjelang tidur, Hana memeriksa pintu dan jendela. Rumah itu sunyi, hanya suara hujan yang mulai reda. Ia berhenti di depan kamar tamu, ragu sejenak sebelum mengetuk pelan.
“Kalau butuh apa-apa, bilang saja,” katanya.
Indra mengangguk. “Iya.”
Hana kembali ke kamarnya, mematikan lampu, lalu berbaring sambil menatap langit-langit. Ia menyadari sesuatu yang membuatnya takut sekaligus jujur pada dirinya sendiri: Indra bukan lagi anak yang dulu ia tolong. Dan perasaan yang tumbuh di dadanya—yang hangat, yang gelisah—bukan lagi sekadar rasa tanggung jawab.
Di luar, hujan berhenti.
Di dalam rumah itu, sebuah cerita baru mulai berdenyut.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Feb 05 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

Anjir..Stories to obsess over. Discover now