Tuan, Aku Rindu

2 0 0
                                        

“Antara mereka, hidup pada lingkungan yang berbeda. Ketika bunga matahari mekar di dalam taman, sedangkan teratai subur di dalam kolam.”

—--Teratai lebih tenang di dalam air, sedangkan bunga matahari tumbuh subur bersama teriknya cahaya —--

🌻🌻___ Sajak Febuari, 07 Februari 1997 ____🌻🌻

*****
Semilir angin perlahan meniup hijab yang dikenakan, sedang gadis bertubuh mungil itu tak bisa bersikap lembut sedikitpun meski sedang memakai pakaian tertutup–tak selaras dengan perilakunya. Gadis pemilik nama Mentari itu menata ulang  hijabnya agar tak tertiup angin.

Keduanya mengunjungi sebuah rumah, tetapi tak berani masuk ke dalamnya. Hanya sebatas memandangi rumah yang ditumbuhi pohon mangga di depannya–membuat Isyana heran dan mempertanyakan hal yang sama pada gadis mungil itu. “Tari, kita ngapain sih ke sini? Ini kan kawasan perumahan elit.”

“Nanti disangka ngapa-ngapain lagi. Pulang, yuk!”

“Aku gak mau ambil risiko.” 

Isyana memandang kesal pada gadis yang tengah berfokus menatap pohon mangga yang masih berusia dini itu, sedang yang ditatap sama sekali tak menghiraukan. Dia hanya fokus menatap pohon mangga yang berdiri kokoh di depan rumah sosok yang selalu dikaguminya. Terukir senyum pada sudut bibirnya, gadis itu bermonolog.

Seandainya kita dipertemukan lagi, aku pasti bahagia sekali.

Tapi apakah mungkin kita akan dipersatukan? Karena, kita berbeda, seperti ada tembok penghalang antara kita

Perlahan gadis bertubuh mungil itu tersenyum, terbawa arus saat mengingat masa lalu. Ketika dia sedang berkunjung di suatu toko untuk membeli kebutuhan bulanan. Mentari dibuat kesal dengan kehadiran pria yang menghalangi jalannya. Gadis bertubuh mungil itu gagal mengejar langkah Isyana–sahabatnya.

Dengan perasaan kesal, gadis itu pun menatap sang pria dan memarahinya tanpa rasa bersalah sedikitpun. “Bisa minggir gak sih? Aku lagi capek nih. Lagian kenapa sih, harus banget ya, menghalangi bola mataku?”

“Bikin mood ku jelek!” Mentari meninggikan volume suaranya, sedang sang pria tersenyum menatapnya. Mungkin saja dia sedang menertawakan tingkah lucu sang gadis kecil.

“Loh, kok malah ketawa? Aku serius, minggir!”

Seketika pergelangan ramping itu mendorong tubuh sang pria hingga menepi di tembok. Pria itu hanya tersenyum menatap sang gadis. Entah apa yang dipikirkannya, mungkin saja sang pria berpikir bahwa gadis pemilik nama asli SUNFLOWER itu baru diputuskan kekasihnya.

Sunflower sedang memarahi pria yang mencoba menghalangi langkahnya. Gadis itu terlihat kesal lantaran sang pria hanya tersenyum memandanginya. Dia berpikir, bahwa sang pria menganggapnya tidak waras

_____🪷🪷🪷🪷____🌻🌻🌻🌻________🪷🪷🪷🪷

“Aneh banget, bukannya marah malah ketawa,” lirih sang gadis seraya mendekati sahabatnya yang sibuk berbelanja, tak membuat perhatiannya beralih terhadap Mentari hingga gadis itu melontarkan pertanyaan.

“Kamu sebenarnya kenapa sih? Dari tadi ngomel terus.”

“Kamu masih kesal putus sama pacarmu? Kalau tahu masih cinta, kenapa diputusin? Aneh banget kamu,” ketus Isyana, sang gadis mencebik menanggapi pertanyaan sahabatnya.

“Andai aku punya pilihan gak mutusin dia, tapi aku gak bisa. Pokoknya harus putus.”

“Buat apa, punya cowok yang gak pengertian kayak Verrell? Bisanya cuma nyalahin, selama ini aku kurang baik apa, coba?” Sang gadis semakin emosi, membuat Isyana menggeleng heran, akan tingkah sahabatnya itu.

“Bilang aja gagal move on sama pangeran halu, kan? Siapa namanya, Lotus?”

Isyana mengingat lagi nama pangeran impian sahabatnya itu. Sayangnya, dia malah membuat gadis itu semakin kesal. “Lotus? Enak aja mengubah nama anak orang. Namanya Teratai!”

“Halo, Mentari. Bangun!” Isyana menjentikkan jemarinya, mencoba menyadarkan gadis itu bahwa nama aslinya berbeda jauh dengan nama panggilannya. “Sadar gak, nama lengkapmu juga gak nyambung sama nama panggilan.”

“Bukan begitu, Mentari sayang?”

“Apaan sih. Lagian suaramu bisa pelan dikit gak, malu diperhatikan sama orang itu.” Mentari mengangkat dagu, menunjuk pada pria yang sedang memperhatikannya saat itu. Ya, gadis itu tak ingin menjadi pusat perhatian.

“Biarin aja, lagian kamu sih yang cari gara-gara. Padahal Verrell udah baik banget loh, dia juga sabar menghadapi cewek gila kayak gini.”

Sontak Mentari menyentil jidad sahabatnya. “Sembarangan kalau ngomong, enak aja kamu ngatain aku gila. Enggak, aku gak gila. Verrell aja yang gak ngertiin aku.”

“Udah ah, aku capek udah kangen kasur. Yuk, pulang! Kalau enggak aku jalan kaki ni, pulangnya. Jangan kira aku gak berani pulang jalan kaki, ya.”

“Dih, jangan pecat aku untuk menjadi sahabatmu.” Isyana menghela napas panjang. Berdebat dengan Mentari adalah perkara yang sangat melelahkan “Ya udah, buruan naik!”

“Bentar,” sahut sang gadis.

Perlahan sepeda motor milik Isyana  menghilang dari pandangannya. Pria bernama TERATAI itu makin penasaran dengan identitas sang gadis. Tanpa sadar, sudut bibirnya melengkung sempurna. Sang kakak menyadari tingkah sang adik sedikit berbeda dari biasanya. “Teratai, kamu kenapa?”

Sang adik tersentak hingga menggeleng tak ingin membuat sang kakak curiga. “Aku gak apa-apa, Kak. Aku oke, kalau begitu kita pulang, yuk!”

“Yakin gak apa-apa? Apa ada bidadari lewat tadi? Makanya senyum-senyum sendiri? Gak biasanya loh,” ucap sang kakak yang masih menatap curiga padanya. William mengenal betul watak sang adik yang lebih sering diam dan serius pada keadaan.

“Beneran kak Wil, aku gak apa-apa. Lagian bidadari tak punya waktu mau lewat jam segini. Mendingan dia duduk di khayangan.” Mendengar ucapan sang adik, pria pemilik tubuh ideal itu tertawa lepas.

“Bisa aja kalau dia mau, lagian kamu kenapa sih gak kenalin ke kakak? Jangan curang sama kakak, gak kasihan apa, masih single begini.”

“Ah, terserah kakak saja. Ayo, pulang!”

Lotus melempar titah pada sang kakak, hingga akhirnya William tak punya pilihan selain menuruti permintaan sang adik. “Ya sudah deh, kita pulang. Nanti jangan lupa, kalau ada bidadari lewat kabari kakak, ya! Capek loh, singel terus.”

“Kalau kamu gak apa-apa single, anak bungsu mau bebas,” ucap sang kakak, membuat adik kesayangannya mencebik.

“Aku lagi capek, jadi jangan bahas bidadari terus.”

“Lagian anak bungsu juga berhak menemukan pasangan hidup. Bukan cuma anak pertama saja yang membutuhkannya.” William hanya tersenyum mendengar pernyataan sang adik. Mungkin saja luka di hati sang adik telah lama disembuhkan oleh waktu.

Vous avez atteint le dernier des chapitres publiés.

⏰ Dernière mise à jour : Feb 05 ⏰

Ajoutez cette histoire à votre Bibliothèque pour être informé des nouveaux chapitres !

The Sunflower Où les histoires vivent. Découvrez maintenant