Episode 1

13.5K 27 1
                                        

Aruna tersenyum kecil, jemarinya yang lentik menari di atas layar ponsel. Sebuah notifikasi transferan masuk dengan nominal yang cukup besar membuat matanya berbinar. "Lumayan buat modal awal," gumamnya pelan, senyumnya mengembang. Ia membayangkan toko bunga kecil impiannya, atau mungkin butik sederhana yang menjual pakaian rajutan hasil karyanya sendiri. Uang ini adalah hadiah awal dari ajang "Bulan Madu Emas" yang diadakan klinik kecantikan langganannya. Sebuah kompetisi yang menjanjikan hadiah fantastis bagi pasangan yang paling romantis dan harmonis.

Aruna melirik jam tangannya. Sudah hampir satu jam ia menunggu suaminya, Bima, di lobi Hotel Golden Dragon yang megah. Suasana lobi sore itu cukup ramai. Beberapa tamu hotel berlalu-lalang, staf hotel sibuk melayani, dan alunan musik klasik mengalun lembut dari sudut ruangan. Aruna memilih duduk di sofa beludru merah marun yang empuk, dekat dengan jendela besar yang menghadap ke jalanan kota yang mulai ramai. Ia memandangi lalu lintas di luar, sesekali melirik ke arah pintu masuk, berharap melihat sosok suaminya muncul.

Ia meraih tas tangannya, mengeluarkan sebuah buku bersampul tebal, dan mulai membaca. Sesekali, ia menyeruput teh melati hangat yang dipesankan oleh pelayan hotel. Meskipun sedikit bosan menunggu, Aruna tetap sabar. Ia tahu Bima pasti sedang sibuk dengan pekerjaannya. Lagipula, hadiah yang menanti mereka di akhir kompetisi ini sangat menggiurkan. Sebuah perjalanan mewah ke pulau yang indah, ditambah uang tunai yang bisa digunakan untuk mewujudkan impian mereka. Aruna menarik napas dalam, membayangkan pantai berpasir putih dan air laut biru jernih. Sebuah senyum tipis kembali tersungging di bibirnya.

Aruna mengangkat kepalanya dari buku saat merasakan seseorang berdiri di dekatnya. Seorang wanita muda, seumuran dengannya, dengan hijab berwarna senada dan gaun syar'i yang anggun, tersenyum ramah.

"Maaf, apa ini kursi kosong?" tanya wanita itu dengan suara lembut, menunjuk sofa di sebelah Aruna.

Aruna mengangguk, membalas senyumnya. "Oh, iya, silakan."

Wanita itu duduk dengan anggun, meletakkan tas tangannya di pangkuan. "Saya Nana," katanya sambil mengulurkan tangan. "Anda Aruna, kan? Saya sering melihat Anda di klinik kecantikan."

Aruna menjabat tangan Nana. "Betul sekali, saya Aruna. Wah, dunia sempit ya. Anda juga ikut ajang 'Bulan Madu Emas'?"

Nana tertawa kecil. "Iya, kebetulan. Suami saya yang mendaftarkan. Katanya biar ada tantangan baru dalam pernikahan."

"Sama!" seru Aruna, matanya berbinar. "Suami saya juga begitu. Katanya biar makin romantis."

Mereka berdua tertawa bersama. Obrolan mengalir begitu saja. Nana bercerita tentang suaminya, Rizky, yang seorang arsitek. Aruna pun berbagi cerita tentang Bima, suaminya yang seorang pengusaha. Mereka menemukan banyak kesamaan, mulai dari selera musik hingga hobi memasak.

"Jadi, hadiah awal yang Anda dapatkan itu dari ajang ini juga?" tanya Nana, matanya penasaran.

Aruna mengangguk. "Iya, alhamdulillah. Lumayan buat modal usaha."

"Wah, hebat sekali! Saya juga berharap bisa dapat rezeki dari sini. Suami saya ingin sekali punya studio musik sendiri," kata Nana, senyumnya sedikit meredup. "Tapi, kadang saya merasa sedikit... tertekan. Kompetisi ini kan menuntut kita untuk selalu tampil harmonis dan romantis. Padahal, kan, tidak setiap saat kita bisa begitu."

Aruna mengangguk setuju. "Saya juga merasakan hal yang sama. Kadang rasanya seperti akting. Tapi, ya, mau bagaimana lagi. Demi hadiahnya."

Mereka terus mengobrol, berbagi pengalaman dan tips seputar pernikahan. Nana bercerita tentang tantangan yang ia hadapi dalam beradaptasi dengan kehidupan berumah tangga, sementara Aruna berbagi cerita tentang bagaimana ia dan Bima mengatasi perbedaan pendapat. Waktu berlalu begitu cepat. Aruna merasa senang bisa bertemu dengan Nana. Setidaknya, ada teman seperjuangan yang bisa diajak berbagi cerita. Mereka berdua berjanji untuk saling mendukung selama ajang "Bulan Madu Emas" berlangsung.

Brides InfernoWhere stories live. Discover now