-Unplanned meetings: just destiny taking its time-
--
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Serendra Lalina Schuet. Usia 27 tahun. Jurnalis majalah gaya hidup wanita, Eterna. Terkemuka di Jakarta. Anak kos, dari kamar kos di jakarta, bertarif di atas satu juta sebulan. Penampilan biasa aja. Salah satu Struktur fisik yang bisa ia jabarkan terdiri atas kulit pucat yang tak seksi, rambut tipis agak kemerahan, meski begitu dia memiliki hidung yang bangir dan rahang yang tegas. Tak lupa juga dua lesung pipi-nya yang tak pernah tidur. Dan satu-satunya yang paling ia banggakan, adalah tubuhnya yang langsing dan tidak pendek. Untuk yang satu ini ia boleh menyombong, bahwa hampir semua potongan baju mau berdamai dengannya.
Orang-orang sekitarnya bilang, ia kelewatan minder. Sebagian besar mengatakan, ia kuper. Selebihnya bilang ia kampungan. Kita artikan, dia takut berinteraksi dengan manusia. Hanya pada Namtan dan Milk mulutnya bisa leluasa bersuara. Entah kenapa, di belantara Jakarta ia merasa aman dalam dunianya yang sepi.
Maka, beranikah ia memimpikan laki-laki? Laki-laki? Sumpah, ia menganggap laki-laki sebagai zombie yang nggak mungkin nongol dalam hidupnya. Nggak mungkin. Cewek aja mikir-mikir dulu mau berteman dengannya, gimana cowok?
Namtan dan Milk kepikiran menasehatinya soal itu
"Lo berdua bisa ngomong begitu, karena tampang lo lumayan!" Cetus Lena. Mereka menyantap bakwan Malang di depan kantor
"Kita prihatin aja, kadar minder lo udah masuk kategori minta dijedotin!" Namtan judes.
Lena diam.
"Emangnya lo nggak pernah mikir, suatu saat lo bakal menikah?" Milk bertanya hati-hati.
Otak Lena langsung bekerja. Ia memang pernah memikirkan tentang kehidupan pernikahan. Tapi hanya itu, tidak berani bermimpi terlalu jauh.
Namtan masih berkonsentrasi melanjutkan diskusi "Topik lo selalu aja, tampang dan tampang," katanya dengan muka sebal.
"Emang logikanya begitu," Lena terus mengunyah. "Tau deh. Gue ngerasa semua orang udah understimate pas liat tampang gua yang di bawah standar. Kayaknya, kalau gue ngomong juga nggak bakal ada yang mau respons" Lena mulai unjuk rasa
Milk menghela napas. Makhluk dengan kesabaran tiada tara ini kembali bersuara
"Coba lo lihat alam sekitar. Nggak usah jauh-jauh, ruangan kita aja. Emang lo pikir, ruangan kita diisi sama Jennie? Irene? Karina? Kita semua juga punya tampang rata-rata..."
Lena mengangkat bahu "Buat gue, tetep aja, kalian jauh lebih menarik."
"Itu relatif, Len. Dan penampilan nggak pengaruh juga ke kehidupan. Coba lo lihat, problem hidup kita sama aja. Ribet ngurusin liputan dan artikel yang nggak abis-abis. Pusing ngatur gaji yang nggak paham sama kebutuhan hidup zaman sekarang. Apa lagi? Cowok? Buktinya kita sama-sama belum punya pacar..." Milk memberi isyarat pada tukang teh botol