Penjelasan

155 19 0
                                        

“Makasih, Guru Li!” sapa para murid serempak.

“Iya. Hati-hati di jalan,” jawabnya sambil tersenyum.

Li Peien adalah guru akting muda—tampan, manis, dan cantik dalam satu paket yang membingungkan. Belum lagi sifatnya yang ramah, sabar, dan selalu menyapa murid-muridnya dengan nada hangat. Tak heran ia cepat menjadi guru favorit.

Wajah saja sebenarnya sudah cukup jadi modal besar. Ditambah bakat, kesabaran, dan caranya memperlakukan murid seperti manusia utuh—bukan sekadar objek latihan—siapa yang tidak akan jatuh hati?30p

Peien juga terbilang beruntung. Ia mewarisi rupa yang nyaris sempurna, dan keluarga yang layak disyukuri. Terlahir di rumah yang harmonis, cukup, dan penuh dukungan adalah mimpi banyak anak di dunia ini. Maka tak aneh jika ia tumbuh menjadi pribadi yang baik, optimis, dan mudah percaya.

Namun seperti klise yang terlalu sering jadi nyata, kebaikan kerap berjalan beriringan dengan kemalangan.

Peien yang percaya dunia pada dasarnya baik, terlalu polos untuk industri yang rakus. Sifat penurut dan mudah percayanya dimanfaatkan habis-habisan oleh agensi yang menaunginya.

Bayangkan—seorang aktor dengan modal besar dan bakat luar biasa, tapi hanya diputar-putar di drama kelas dua. Bayaran minim, jam kerja tidak manusiawi, padahal setiap proyek yang ia bintangi selalu mencetak angka tinggi.

Ia diperas terus-menerus, tanpa ruang bernapas, tanpa kenyamanan. Bahkan ibunya sendiri tak pernah memperlakukannya seperti itu.

Di puncak kelelahan, Peien memutuskan keluar dari industri. Memutus kontrak. Menghentikan segalanya.

Yang ia dapat bukan kelegaan—melainkan ancaman.

Tekanan datang bertubi-tubi, membuatnya hampir runtuh. Untungnya, ia tidak sendirian.

Ada Jiang Heng, model papan atas dengan wajah dingin dan mulut tajam, yang diam-diam selalu ada setiap kali Peien kehilangan pegangan.

Ada Huan Xing, idol pria berwajah manis, yang berdiri di sisinya saat proses hukum, menjadi saksi, membantu memutus rantai kontrak yang menjerat.

Dan Qiu Deiji—penyanyi solo dengan basis penggemar fanatik—yang justru menyarankan hal paling masuk akal: “Udah, jadi guru aja.”

Selama masa trauma itu, ketiganya tidak pergi. Mereka bertahan, menemani, menarik Peien keluar perlahan dari titik paling gelapnya.

Dan meski sekarang Peien sering kesal pada kelakuan mereka, ia tahu betul—tiga orang inilah malaikatnya. Malaikat dengan sifat iblis.

Karena itu, meski ia tak lagi sepenuhnya percaya pada kebaikan tanpa syarat, Peien memilih tetap baik. Ia tak ingin mengubah sifat alaminya. Justru karena kebaikan itulah ia bertemu mereka.

“Bodoh, cepetan dikit!” bentak Jiang tiba-tiba. Bajunya kebesaran, jelas baru selesai pemotretan. “Janji jam berapa, datang jam berapa? Ada niat nggak sih?”

“Jiang, berhenti nanya pertanyaan yang nanti bikin lo nyesel,” sela Qiu santai.

Qiu berdiri di samping Jiang dengan pakaian super niat—atau justru kebalikannya. Celananya pendek keterlaluan, lebih mirip kolor. Paha putihnya terang-terangan terpajang.

Sama seperti Peien. Di sekolah dia idaman, tapi kalau jalan bareng empat iblis ini, gayanya ikut kacau. Kaos oblong, celana seadanya. Anak orang kaya, tapi seolah lupa konsep berpakaian sopan.

“Cepet, yuk,” ujar Xing sambil berdiri. Ia tadi duduk membetulkan masker, gayanya mencurigakan—seperti pencuri. Tipikal idol. “Temen gue nunggu. Jadwal lagi padat.”

Kontrak Bernama KeluargaStories to obsess over. Discover now